Scroll Untuk Lanjut Membaca
FeatureGORONTALO

Program Inovasi Seni Nusantara: Limbah Batang Aren jadi Produk Bernilai Ekonomi

×

Program Inovasi Seni Nusantara: Limbah Batang Aren jadi Produk Bernilai Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Inovasi Seni
Produk-produk Furniture dari limbah batang aren yang ditampilkan dalam kegiatan inovasi seni nusantara. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tahun 2026 menampilkan pameran hasil-hasil karya yang berlangsung di pasar Aambuwa, Desa Huntu Selatan, Bone Bolango, Gorontalo, Sabtu (08/08/2026).

Kegiatan ini mengusung tema “Hilirisasi Art-Furniture Limbah Batang Aren Bermotif Lokal: Inovasi Seni Kriya dan Digital Branding di Huntu Art Distrik Gorontalo”.

Program ini merupakan skema pengabdian kepada masyarakat dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang mendorong perguruan tinggi untuk merevitalisasi dan mengembangkan seni budaya. Hal ini bertujuan melakukan hilirisasi riset seni agar berdampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup dan ekonomi masyarakat.

Ketua Kelompok Program Inovasi Seni Nusantara dari Universitas Negeri Gorontalo, I Wayan Sudana mengungkapkan bahwa ide tersebut datang bukan nanti sekarang, melainkan lewat waktu panjang sekitar tahun 2016-2027 lalu dari risetnya. Ide ini tak lain untuk memanfaatkan limbah batang aren menjadi produk-produk yang bernilai ekonomi.

“Nah karena bidang saya seni rupa dan seni kriya maka saya memanfaatkan pohon aren itu menjadi produk-produk furniture yang artistik dan memiliki prospek pasar yang menjanjikan,” ujar I Wayan kepada awak media.

Lebih lanjut dijelaskan I Wayan, program ini tak dilakukannya sendiri namun berkat kolaborasi dan kerjasama dengan mitra Huntu Art Distrik Gorontalo dan sejumlah mahasiswa.

Pertanyaan mendasar kemudian muncul, kenapa memilih batang aren?. Menurut I Wayan, sejauh ini pohon aren sering dimanfaatkan hanya sebatas dijadikan saguer, atau mungkin sagu. Sementara setelah usia produktifnya, banyak dibiarkan hingga mati. Ini menjadi salah satu alasan dirinya memilih pohon itu.

“Nah matinya batang aren itu ada yang mati menguning sendiri, ada yang roboh sendiri dan selama ini tidak ada yang memanfaatkan. Bahkan orang-orang yang mencari kayu untuk batu kapur pun tidak mau mencari potongan pohon aren. Padahal pohon aren itu bagi saya memiliki potensi artistik yang luar biasa terutama teksturnya, tekstur alaminya yang sangat berbeda dari pohon-pohon lainnya,” jelasnya.

“Nah pohon aren itu setelah tidak produktif maka itulah yang kita gunakan untuk bahan baku untuk produk-produk ini. Jadi begitu, batang aren itu kalau sudah mati itu sekitar 70 persen bisa kita manfaatkan (3:19) untuk produk mebel ini,” lanjutnya.

Selain tak dimanfaatkan secara baik dan ketersediaan bahan bakunya yang banyak di wilayah Gorontalo, batang aren juga dikatakan I Wayan bahwa dari segi ketahanannya pun telah teruji.

“Penelitian saya yang dilakukan 2016-2017 itu tetap begitu tidak terjadi apa-apa (tak mudah lapuk). Dan pengalaman para petani tradisional menggunakan batang aren ini menjadi alat gagang canggul itu tidak akan mudah rusak. Dan kalau dibandingkan kayu jauh lebih unggul ini,” tandasnya.

Adapun hasil dari olahan batang aren ini kata I Wayan diantaranya seperti meja, kursi hingga lemari.

“Jadi karena program ini adalah Art Furniture, kita hanya menawarkan ini bentuk meja, kursi, lemari,” kata I Wayan.

Selain bahannya yang tahan, memiliki nilai artistik, menurutnya kedepan produk-produk ini tetap akan mempertahankan nilai-nilai lokal Gorontalo melalui ornamen-ornamen yang diukir disetiap prodak.

“Karena itu akan menjadi salah satu keunikan, kespesifikan dari produk ini dari sisi ornamen. Jadi produk ini akan menjadi unik dari segi bahan baku, unik dari segi ornament sehingga nanti kita akan ada storytelling nanti di dalam produk,” jelas I Wayan.

“Jadi produk ini nanti tidak hanya semata-mata berfungsi sebagai produk bisik. Tetapi juga ada nilai-nilai yang mereka pertahankan, yang mereka ingin sampaikan,” tutupnya.

Saat ini, produk-produk dari bahan batang aren ini terus dilakukan proses penyempurnaan. Dalam waktu mendatang, hasil karya ini akan mulai segera di pasarkan.

Reporter: Yayan