Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIGORONTALO

BPS Catat Gorontalo Alami Deflasi 0,43 Persen di Bulan Juli 2026

×

BPS Catat Gorontalo Alami Deflasi 0,43 Persen di Bulan Juli 2026

Sebarkan artikel ini
Deflasi Gorontalo
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo saat memberikan keterangan pers. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo kembali merilis data deflasi dan inflasi di Gorontalo pada bulan Juli 2026. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo mengungkapkan bahwa terjadinya deflasi di Gorontalo karena menurunnya tingkat konsumsi masyarakat terhadap barang dan jasa.

“Bulan Juli 2026 Gorontalo mengalami deflasi, artinya di bulan Juli itu terjadi penurunan harga sebagian besar barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat di Provinsi Gorontalo,” ujar Agus kepada awak media pada Senin (03/08/2026).

Jelas Agus bahwa konsumsi terbesar masyarakat Gorontalo terhadap barang dan jasa ini yaitu cabe rawit, tomat dan bawang merah, dan jika konsumsi masyarakat terhadap ketiganya ini menurun maka potensi deflasi di Gorontalo akan terjadi.

“Nah barang dan jasa yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Gorontalo yang paling besar adalah kita lihat di andil komoditasnya adalah cabe rawit tomat dan bawang merah,” ucap Agus.

“Jadi ketika ketiga komoditas itu turun, ya potensi di Provinsi Gorontalo deflasi. Jadi kalau tiga itu turun, turunnya cukup dalam yaa dan di bulan Juli kita mengalami deflasi 0,43 persen,” lanjutnya.

Dari rilis data yang dikeluarkan BPS mencatat bahwa di Juli 2026 Provinsi Gorontalo mengalami deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,43 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 2,83 persen.

Selain itu, BPS mencatat juga bahwa di bulan Juli 2026 Provinsi Gorontalo juga mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 2,95 persen. Kota Gorontalo mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 2,31 persen dan Kabupaten Gorontalo mengalami inflasi Year on Year (y-on-y) sebesar 3,48 persen.

Inflasi y-on-y Provinsi Gorontalo terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada sepuluh kelompok pengeluaran, yaitu:

1. Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,33 persen;

2. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,37 persen;

3. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,64 persen;

4. Kelompok kesehatan sebesar 1,05 persen;

5. Kelompok transportasi sebesar 5,72 persen;

6. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,74 persen;

7. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,12 persen;

8. Kelompok pendidikan sebesar 0,72 persen;

9. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,33 persen;

10. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,03 persen. Satu kelompok pengeluaran mengalami deflasi y-on-y yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,93 persen.

Reporter: Yayan