Dulohupa.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan di bulan Juli 2026. Dari data BPS, pada Juli 2026 NTP tercatat sebesar 123,19 atau turun 5,99 persen dibandingkan NTP Juni 2026 yang sebesar 131,04. Penurunan NTP ini dipengaruhi oleh turunnya indeks harga hasil produksi pertanian yang diterima petani (It) yang lebih cepat dibandingkan penurunan indeks harga barang dan jasa yang dikeluarkan petani (Ib).
Penurunan NTP Juli 2026 terjadi pada subsektor tanaman hortikultura sebesar 43,92 persen. Sebaliknya, kenaikan NTP Juli 2026 terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 2,57 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,77 persen, subsektor peternakan sebesar 3,62 persen, dan subsektor perikanan sebesar 6,87 persen.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo mengatakan bahwa penurunan NTP ini dipengaruhi beberapa faktor.
“Nilai Tukar Petani di Provinsi Gorontalo di Juli 2026 turun 5,99 persen. Turunnya karena, harga cabe rawit dan cabe merah di tingkat petani itu turun. Artinya pendapatan mereka di bulan Juli dibandingkan bulan Juni menurun,” ujar Agus kepada awak media pada Senin (03/08/2026).
“Turunnya ini lebih dalam dibandingkan dengan turunnya harga yang dikonsumsi oleh mereka. Jadi kalau kita bandingkan yang diterima turun 7,74 persen, yang dikonsumsi hanya turun 1,86 persen, sehingga turunnya NTP cukup dalam,” lanjutnya.
Dari data BPS, Indeks harga yang diterima petani (It) pada Juli 2026 tercatat sebesar 158,63 atau turun 7,74 persen dibandingkan It Juni 2026. Penurunan It Juli 2026 terutama didorong oleh turunnya It pada subsektor tanaman hortikultura sebesar 44,39 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,40 persen. Sementara kenaikan It terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 1,19 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,00 persen dan subsektor perikanan sebesar 4,97 persen.
Sementara Indeks harga yang dibayar petani (Ib) di Juli 2025 tercatat sebesar 128,77, turun 1,86 persen dibandingkan Ib Juni 2026. Penurunan Ib terjadi pada subsektor tanaman pangan se-besar 1,35 persen, subsektor tanaman hortikultura sebesar 0,83 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,72 persen, subsektor peternakan sebesar 3,88 persen, dan sub-sektor perikanan sebesar 1,78 persen.
BPS juga mencatat, dari 14 provinsi bagian timur Indonesia, delapan provinsi mengalami kenaikan NTP dan enam provinsi mengalami penurunan NTP. Kenaikan NTP tertinggi pada Juli 2026 terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar 8,89 persen. Penurunan NTP terdalam terjadi pada Provinsi Gorontalo sebesar 5,99 persen.
Reporter: Yayan











