Gorontalo — Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai membuka peluang lebih luas bagi masuknya investasi dari kawasan Timur Tengah. Hal ini menyusul kunjungan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri yang menghadiri Rapat Pembahasan Potensi Kerja Sama dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo di Kantor Gubernuran, Rabu (12/8/2026).
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut positif kunjungan tersebut. Menurutnya, kehadiran perwakilan UEA menjadi sinyal awal terbukanya pintu investasi dari negara-negara Timur Tengah ke Gorontalo.
Meski belum menghasilkan kesepakatan investasi secara konkret, Gusnar menilai pertemuan tersebut memiliki arti penting. Terlebih, sejumlah proyek yang ditawarkan merupakan proyek strategis dengan kebutuhan anggaran yang besar.
“Tentunya dampaknya belum sekarang karena ini menyangkut proyek strategis, butuh anggaran besar. Tidak lantas bertemu sekarang besok ada hasilnya. Paling tidak sudah terbuka pintu untuk mempersiapkan ini sehingga suatu saat sudah ada hasilnya,” jelas Gusnar.
Menurutnya, proses penjajakan harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah daerah perlu menyiapkan proyek, proposal, hingga berbagai kajian yang dibutuhkan sebelum ditawarkan kepada calon investor.
Uni Emirat Arab (UEA) melirik sejumlah potensi investasi strategis di Provinsi Gorontalo. Sektor perikanan, pertanian, energi terbarukan hingga pengembangan bandar udara masuk dalam pembahasan penjajakan kerja sama antara UEA dan Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Keseriusan UEA membuka peluang investasi di Gorontalo terlihat dari kehadiran Dubes Abdulla yang datang bersama Business Development Manager for APAC Masdar Indonesia, Marsha Prabandani.
Masdar merupakan perusahaan Abu Dhabi Future Energy Company yang bergerak di sektor energi terbarukan. Sementara APAC merupakan singkatan dari Asia Pacific, kawasan yang menjadi salah satu fokus pengembangan bisnis perusahaan tersebut.
Dalam pertemuan itu, sejumlah potensi kerja sama dibahas, mulai dari pengembangan infrastruktur hingga sektor produktif yang menjadi kekuatan Gorontalo.
“Kami percaya bahwa Provinsi Gorontalo punya banyak area untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Kita sudah mendiskusikan tentang banyak hal, baik itu pengembangan bandar udara, perikanan dan pertanian,” jelas Abdulla.
Dubes Abdulla menegaskan, peluang kerja sama tersebut masih berada dalam tahap penjajakan. Pemerintah UEA kini menunggu proposal resmi dari Pemerintah Provinsi Gorontalo mengenai sektor-sektor yang dinilai paling potensial untuk dikerjasamakan.
Proposal tersebut nantinya akan menjadi bahan bagi pemerintah UEA dan para pemangku kepentingan maupun calon investor untuk melakukan kajian lebih lanjut.
“Kami menunggu proposal dari Pemerintah Provinsi Gorontalo sebagai bahan pemerintah UEA dan pemangku kepentingan untuk mengevaluasi. Dari situ kita akan menghasilkan apa yang kita sebut kesepakatan dan kolaborasi antar kedua belah pihak,” sambungnya.
Menurut Abdulla, pihaknya juga akan membawa informasi mengenai potensi Gorontalo kepada pemerintah UEA serta investor terkait. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi terealisasinya investasi.
Disisi lain, Sejumlah proyek strategis pun mulai disiapkan untuk ditawarkan, di antaranya hilirisasi kelapa dan Bendungan Bulango Ulu. Potensi hilirisasi kelapa dinilai memiliki prospek besar karena Gorontalo memiliki komoditas kelapa yang dapat dikembangkan tidak hanya sebagai bahan mentah, tetapi juga menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Bendungan Bulango Ulu dipandang memiliki nilai strategis dalam mendukung kebutuhan pembangunan dan pengembangan ekonomi daerah. Tak hanya proyek ekonomi, Pemprov Gorontalo juga membuka peluang kerja sama di bidang sosial dan keagamaan.
Gusnar turut menyampaikan proposal pembangunan Masjid Raya Gorontalo Islamic Centre yang saat ini tengah berlangsung. Melalui perantara Dubes UEA, pemerintah daerah berharap proyek tersebut dapat memperoleh dukungan atau donatur dari pihak-pihak di UEA.
Pemprov Gorontalo berharap dukungan tersebut dapat membantu mempercepat penyelesaian pembangunan masjid raya yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan keislaman di daerah.
Kunjungan Dubes UEA ini sekaligus menjadi momentum bagi Gorontalo untuk memperkenalkan potensi daerah kepada calon mitra investasi dari Timur Tengah.
Jika proses penjajakan berlanjut ke tahap proposal, kajian kelayakan hingga kesepakatan investasi, sejumlah sektor strategis seperti perikanan, pertanian, energi terbarukan, infrastruktur dan hilirisasi komoditas berpeluang menjadi pintu masuk investasi UEA di Gorontalo.
Bagi Gorontalo, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda diplomatik. Ia menjadi langkah awal untuk mengubah potensi daerah menjadi proyek investasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang baru bagi masyarakat.
Reporter: Enda











