Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERSPEKTIF

Penganiayaan Santri, Wujud Gagalnya Pendidikan Mencetak Generasi Rabbani, Salah Siapa?

×

Penganiayaan Santri, Wujud Gagalnya Pendidikan Mencetak Generasi Rabbani, Salah Siapa?

Sebarkan artikel ini
Penganiayaan
Ilustrasi Penganiayaan

Pondok pesantren seharusnya menjadi tempat pendidikan anak dengan basis Islam. Sehingga sebagian besar orang tua menitipkan anak di pesantren, dengan harapan agar anak mendapat bekal agama untuk menjalani kehidupan. Namun sangat disayangkan, alih-alih mendapat ilmu agama, kini di pesantren sekalipun juga seringkali terjadi kasus pelecehan, pembullyan, hingga penganiayaan.

Dilansir dari berbagai sumber berita, seorang santri di pondok pesantren PPTQ Al-Hanafiyyah di Mojo, Kediri, Jawa Timur, dianiaya kakak kelasnya hingga dipulangkan kerumah sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Berita ini viral di media pada 26/02/23.

Ini hanya salah satu contoh kasus. Masih sangat banyak kejadian serupa yang tidak tersebar ke media, dan disembunyikan dengan alasan menjaga nama baik sekolah atau pesantren. Tentu ini menghadirkan trauma dan ketakutan pada orang tua.

Mengharapkan anak menjadi baik, tapi hasilnya malah jauh dari harapan. Bukannya menjadi baik, keluarannya justru anak-anak yang tidak berbudi baik bahkan sampai menjadi pelaku kriminal. Aduhai! Menangis rasanya jika di posisi jadi orang tua. Seolah harapan, tinggal jadi harapan kosong.

Bagaimana bisa seorang santri menjadi pelaku penganiayaan?

Apakah pesantren atau sekolahnya salah memberikan pengajaran?

Apa yang salah dengan pendidikan hari ini?

Sederet pertanyaan muncul dalam benak, dengan beragam jawaban yang berbeda. Ada yang menyalahkan kesalahan cara didik orang tua, ada yang menyalahkan sekolah atau pesantrennya, ada juga yang menyalahkan individu pelaku.

Lantas, sebenarnya ini salah siapa? Kenapa sampai terjadi tindakan-tindakan kejam semacam ini dikalangan pelajar?

Sekularisme

Kesalahan pola didik orang tua, sekolah/pesantren, maupun rusaknya individu, ini sebenarnya hanyalah cabang dari akar permasalah yang sesungguhnya.

Jika dicermati lebih teliti, sebenarnya akar masalah yang menjadikan pendidikan hari ini penuh dengan kerusakan adalah aturan sekularisme. Yaitu aturan yang memisahkan agama dari kehidupan. Hampir seratus persen institusi pendidikan hari ini menggunakan kurikulum yang berdasar pada sekularisme. Sehingga secara tidak sadar pendidikan kini dijauhkan dari ajaran-ajaran agama.

Bahkan sekularisme juga menjadikan jenjang pendidikan sekelas pesantren pun, menganggap bahwa pelajaran agama yang mereka pelajari hanya sebatas teori di kepala, untuk mendapat nilai yang bagus. Bukan sebagai ilmu yang harus diamalkan. Sehingga ilmu yang mereka pelajari tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ini berdampak pada semakin menjauhkan para pelajar dari memahami dan menerapkan syariat. Muncullah anggapan bahwa salat, puasa, dan hafal Al-Qur’an saja sudah sangat cukup. Padahal Islam lebih daripada itu. Inilah yang menyebabkan banyaknya keluaran pesantren  jauh dari kepribadian Rabbani. Jauh dari kepribadian yang diajarkan syariat.

Jika diibaratkan sebuah  pohon, berbagai tindakan kejahatan yang dilakukan remaja adalah buah dari penerapan sekularisme. Karena para pelajar dijauhkan dari memahami Islam sebagai agama kehidupan. Anggapan bahwa ilmu Islam hanyalah teori, menjadikan pelajar tidak menggunakan aturan agama ketika menjalani kehidupannya.

Jadi kesalahan fatal pendidikan hari ini, bukan terletak pada anak didik atau institusi pendidikan. Tapi terletak pada dasar/pondasi aturan pendidikan yang berasaskan sekularisme.

Islam Pendidik Terbaik

Islam bukanlah agama yang hanya mengajarkan salat, puasa, zakat sebagaimana yang diajarkan pesantren, tapi adalah agama kehidupan. Karena itu Islam memiliki aturan pendidikan yang berdasar pada aqidah Islam, yaitu ketakwaan dan ketaatan kepada Allah swt.

Pendidikan Islam secara kaffah bertujuan mencetak generasi berkepribadian Islam, dan memiliki pola pikir Islam. Metode pengajarannya adalah pemikiran sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw,  bukan sekedar setumpuk pengetahuan.

Kurikulum pendidikan Islam, telah terbukti pada masa kejayaannya mampu mencetak generasi unggul. Menghasilkan karya-karya penemuan yang memudahkan urusan umat, sekaligus memiliki kepribadian yang luar biasa ketakwaannya pada pencipta.

Kurikulum pendidikan Islam hanya bisa terwujud nyata, jika kita kembali pada penerapan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai negara. Karena selama masih dalam kehidupan sekuler, bahkan pesantren pun menggunakan kurikulum yang didasarkan pada pemisahan agama dari kehidupan. Sehingga sangat sulit mengharapkan kebaikan untuk generasi, jika kita tidak kembali pada aturan yang telah Allah swt turunkan. Karena itu saatnya kaum muslim bersatu, menjadi pembawa perubahan demi kembalinya kehidupan Islam.

Penulis : Nurfajri Aulia / Aktivis Muslimah