Dulohupa.id – Memasuki usia 26 tahun sebagai provinsi, Gorontalo dinilai perlu memperkuat fondasi ekonomi sekaligus membangun kepemimpinan yang mampu menjawab berbagai tantangan masa depan. Hal itu mengemuka dalam Dialog Kebangsaan dan Temu 100 Tokoh Gorontalo yang digelar The Presnas Center (TPC) di Ballroom Hotel Aston Gorontalo, Jumat (21/8/2026) malam.
The Presnas Center sendiri adalah sebuah organisasi kemasyarakatan di Gorontalo yang beranggotakan para tokoh dan pejuang yang dulu memprakarsai atau memperjuangkan pembentukan Provinsi Gorontalo.
Forum tersebut juga menghadirkan mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas periode 2019–2024, Suharso Monoarfa sekaligus memimpin dialog kebangsaan. Adapun kegiatan itu mengusung tema “26 Tahun Provinsi Gorontalo: Tantangan Menuju Kemandirian Ekonomi dan Keadilan Sosial serta Kepemimpinan yang Membawa Perubahan.”
Pertemuan ini menjadi ruang bertemunya tokoh masyarakat, akademisi, praktisi, generasi muda, serta berbagai elemen lainnya untuk membicarakan arah pembangunan Gorontalo sekaligus melihat posisi daerah dalam menghadapi perubahan nasional dan global.
Dalam dialog tersebut, Suharso menilai usia 26 tahun menjadi momentum penting bagi Gorontalo untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun strategi pembangunan ke depan.
Menurutnya, sejumlah persoalan seperti kemandirian ekonomi, pemerataan pembangunan, keadilan sosial, hingga kualitas kepemimpinan harus menjadi perhatian dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Suharso juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang matang dan benar-benar berpijak pada kondisi serta kebutuhan masyarakat.
“Peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan kesempatan ekonomi, penguatan kapasitas masyarakat, serta keadilan sosial menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan,” tegas Suharso.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan yang tepat. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga harus memiliki kemampuan beradaptasi menghadapi ketidakpastian serta perubahan kondisi sosial dan ekonomi.
Salah satu pembahasan menarik dalam forum tersebut adalah potensi tiga sektor utama yang dinilai menjadi kekuatan ekonomi Gorontalo, yakni pertanian, peternakan, serta perikanan dan kelautan.
Ketiga sektor tersebut dianggap memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan sebagian besar masyarakat sekaligus menyimpan peluang besar untuk mendorong kemandirian ekonomi daerah.
Peserta dialog membahas berbagai tantangan dalam mengembangkan sektor-sektor tersebut, mulai dari peningkatan produktivitas, pengelolaan sumber daya alam, modernisasi, hingga penciptaan nilai tambah agar hasil produksi masyarakat mampu memiliki daya saing lebih tinggi.
Peran Kabupaten Gorontalo juga mendapat perhatian. Dengan wilayah yang mencakup sekitar 40 persen dari total luas Provinsi Gorontalo, kabupaten tersebut dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu sentra pertumbuhan ekonomi regional.
Berbagai pandangan yang muncul dalam dialog diharapkan dapat menjadi bahan dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat secara merata bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Suharso juga membagikan pengalamannya selama berada di pemerintahan, termasuk dalam berbagai agenda perencanaan pembangunan nasional dan keterlibatannya dalam perencanaan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pengalaman tersebut menjadi perspektif bahwa pembangunan jangka panjang membutuhkan perencanaan yang terukur, konsisten, serta berkesinambungan.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat sipil, hingga generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar berbagai potensi daerah dapat dikembangkan secara bersama-sama dan tidak berhenti pada kebijakan pemerintah semata.
Temu 100 tokoh yang digelar TPC juga diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan beragam gagasan mengenai masa depan Gorontalo.
Perbedaan pandangan yang muncul dalam diskusi justru diharapkan menjadi bagian dari proses demokrasi dan dapat melahirkan gagasan konstruktif.
Dengan mempertemukan berbagai latar belakang dan perspektif, forum ini diharapkan mampu menghasilkan pemikiran yang dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata dalam mendorong kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Momentum 26 tahun Provinsi Gorontalo pun menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan pembangunan daerah sekaligus menyusun optimisme baru. Dari forum tersebut, gagasan mengenai kemandirian ekonomi, keadilan sosial, peningkatan kualitas kepemimpinan, dan kolaborasi lintas sektor diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi kontribusi nyata bagi masa depan Gorontalo dan Indonesia.
Reporter: Enda











