Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOKESEHATANPEMPROV GORONTALO

Tak Banyak Bicara, Gusnar Lanjutkan Pembangunan RSUD Ainun yang Mangkrak

×

Tak Banyak Bicara, Gusnar Lanjutkan Pembangunan RSUD Ainun yang Mangkrak

Sebarkan artikel ini
Gubernur Gusnar
Gubernur Gusnar Ismail saat meninjau pekerjaan pembangunan di RSUD Ainun Habibie. Foto/DIskominfotik

Gorontalo – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail kembali menunjukkan gaya kepemimpinan yang lebih mengedepankan kerja nyata ketimbang banyak bicara. Salah satu buktinya, terlihat dari keseriusannya mengawal pembangunan fasilitas kesehatan di RSUD Hasri Ainun Habibie.

Bagi Gusnar Ismail, keberlanjutan pembangunan RSUD Ainun menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan publik yang benar-benar dirasakan masyarakat. Kerja yang sempat tersendat kini kembali bergerak. Dari proyek yang sebelumnya beberapa kali gagal diselesaikan, Pemprov Gorontalo berupaya memastikan pembangunan tersebut benar-benar tuntas dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Sebelumnya, pembangunan gedung layanan rawat inap dan fasilitas pusat kanker di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Gorontalo itu sempat menghadapi jalan terjal. Bahkan, alokasi anggaran dari pemerintah pusat sebelumnya dua kali tidak mampu dimanfaatkan hingga pembangunan fasilitas tersebut tidak kunjung tuntas alias mangkrak.

Pada masa Penjabat Gubernur Hamka Hendra Noer, rencana pembangunan yang sebelumnya dirintis melalui Dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) harus dikembalikan ke pemerintah pusat karena keterbatasan waktu pelaksanaan.

Persoalan serupa kembali terjadi pada masa Penjabat Gubernur Ismail Pakaya dan Rudi Salahuddin. Pekerjaan pembangunan yang telah berjalan bahkan harus berakhir dengan putus kontrak sehingga fasilitas yang diharapkan masyarakat Gorontalo itu belum juga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian serius Gubernur Gusnar Ismail.

Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Gorontalo, Jamal Nganro, mengatakan Gubernur Gusnar secara khusus memperjuangkan agar pembangunan fasilitas RSUD Hasri Ainun Habibie dapat kembali dilanjutkan.

“Nah, di era Pak Gusnar, pembangunan fasilitas RSUD Ainun menjadi atensi beliau. Pak Gubernur menghadap Menteri Kesehatan untuk meyakinkan agar diberi kucuran dana kembali supaya ruang rawat inap lima lantai dapat dilanjutkan pembangunannya,” ujar Jamal usai mendampingi Gubernur Gusnar meninjau pembangunan RSUD Ainun, Jumat (11/9/2026).

Menurut Jamal, upaya tersebut bukan perkara mudah. Pemerintah pusat memiliki pertimbangan tersendiri setelah anggaran sebelumnya beberapa kali dikucurkan, tetapi pembangunan belum berhasil diselesaikan.

Karena itu, Pemprov Gorontalo di bawah kepemimpinan Gusnar mengambil langkah konkret dengan menghitung kembali kebutuhan anggaran dan menggunakan APBD untuk melanjutkan pembangunan gedung rawat inap yang sebelumnya terhenti akibat putus kontrak.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah untuk memastikan pembangunan fasilitas kesehatan strategis tidak kembali mangkrak.

Upaya Gusnar kemudian mendapat respons positif dari pemerintah pusat. Menteri Kesehatan RI tidak hanya menyetujui kelanjutan pembangunan gedung rawat inap, tetapi juga memberikan dukungan untuk pembangunan gedung layanan kanker di RSUD Hasri Ainun Habibie.

Gusnar mengatakan, dukungan tersebut diperoleh setelah pihaknya kembali melakukan komunikasi dan pembahasan dengan Menteri Kesehatan.

“Dana ini pernah kembali lagi ke pusat karena pekerjaan kita kurang maksimal. Akhirnya kita berdiskusi lagi dengan Pak Menteri dan alhamdulillah Pak Menteri setuju untuk melanjutkan pembangunannya,” kata Gusnar.

Kehadiran dua fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi lompatan besar bagi pelayanan kesehatan di Gorontalo. Jika pembangunan gedung rawat inap lima lantai dan gedung layanan kanker rampung, masyarakat Gorontalo tidak lagi harus selalu keluar daerah untuk mendapatkan layanan kesehatan tertentu, khususnya dalam penanganan penyakit kanker.

Gedung layanan kanker yang kini dibangun akan dilengkapi berbagai fasilitas medis modern, di antaranya LINAC (Linear Accelerator) untuk terapi radiasi, CT Simulator sebagai bagian dari perencanaan radioterapi, serta layanan brachytherapy atau terapi radiasi internal.

Teknologi tersebut memungkinkan penanganan pasien kanker dilakukan dengan dukungan peralatan medis yang lebih canggih dan terintegrasi.

Konstruksi gedungnya pun dirancang dengan standar khusus. Ruang yang digunakan untuk perangkat radioterapi membutuhkan perlindungan radiasi dengan dinding berlapis dan ketebalan tertentu yang dapat mencapai sekitar tiga meter pada bagian tertentu.

Karena konstruksi khusus tersebut, bangunan layanan radioterapi kerap dianalogikan seperti bunker. Fungsinya untuk memastikan paparan radiasi tetap terlindungi di dalam area yang telah dirancang khusus.

Dengan hadirnya fasilitas tersebut, RSUD Hasri Ainun Habibie tidak sekadar membangun gedung baru. Rumah sakit ini dipersiapkan untuk naik kelas menjadi salah satu pusat rujukan kanker di kawasan Indonesia Timur.