Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINENASIONAL

Sedimentasi Danau Limboto Tinggi, BWS II Gorontalo Terkendala Lakukan Revitalisasi

×

Sedimentasi Danau Limboto Tinggi, BWS II Gorontalo Terkendala Lakukan Revitalisasi

Sebarkan artikel ini
Danau Limboto
Danau Limboto.(Foto: Dulohupa/Herman Abdullah)

Dulohupa.id – Balai Wilayah Sungai (BWS) II Gorontalo menyebut beragam kendala dihadapi untuk melakukan pemeliharaan atau revitalisasi danau Limboto. Salah satu kendalanya adalah sedimentasi di kawasan danau terbilang tinggi.

Sedimentasi adalah proses pengendapannya material hasil erosi ditempat tertentu, misalnya tumpukan tanah dan lain lain. Hal ini yang kemudian mengakibatkan danau menjadi dangkal hingga bisa menyebabkan banjir.

BWS II Gorontalo mencatat 4000 Hektare untuk luasan danau Limboto dengan elevasi 5.5 terhadap permukaan air laut saat air normal. Luasan danau Limboto itu mencakup dua wilayah, yakni Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo. Sehingga dalam pelaksanaan pemeliharaannya lebih besar berada pada bagian wilayah Kabupaten Gorontalo.

Anehnya, ketinggian sedimentasi danau Limboto yang menyebabkan beberapa kali pendangkalan, harusnya membuat luasan danau semakin semakin lama semakin lebih kecil. Namun berdasarkan informasi yang diterima, dan laporan terhadap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan justru luasnya bertambah.

Data terkait luasan danau Limboto dari tahun ke tahun pun tak disampaikan. BWS II Gorontalo hanya memaparkan data luasan terkini. Sehingga akumulasi perbandingannya tidak terlihat dan diketahui.

Danau
Kepala Seksi pelaksanaan BWS II Gorontalo, Hanafi Rajak Nggule (Tengah) memaparkan luasan danau limboto kepada Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (Foto: Dulohupa/Herman Abdullah)

Kepala Seksi pelaksanaan BWS II Gorontalo, Hanafi Rajak Nggule menerangkan sedimentasi tinggi di danau Limboto menjadi perhatian pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI.

“Data untuk sedimentasi setiap tahunnya sudah masuk di Kementerian. Ini tentu akan berdampak pada kontruksi kita. Bisa saja jadi bumerang kedepannya,” ujar Hanafi Rajak Nggule saat diwawancarai.

Rencananya kata Hanafi Rajak Nggule, beragam kendala yang dapat merusak keadaan danau itu akan dilakukan pemulihan. Dengan kedatangan Wakil Menteri (Wamen) LHK RI Aloe Dohong belum lama ini mereka berencana akan melakukan reboisasi pada bagian hulu daerah curah hujan.

“Itu juga menjadi harapan kita di BWS II Gorontalo. Bagaimana caranya mengembalikannya agar danau bisa terselamatkan,” kata Hanafi Rajak Nggule.

“Kalau tidak dilakukan reboisasi pada bagian hulunya, bisa jadi danau ini akan tidak terselamatkan alias terjadi kedangkalan akibat sedimentasi yang tinggi,” sambungnya.

Reporter: Herman Abdullah