Scroll Untuk Lanjut Membaca
AdvertorialBUDAYAPEMPROV GORONTALO

Karawo Dinilai Sumbang Lapangan Kerja di Gorontalo

×

Karawo Dinilai Sumbang Lapangan Kerja di Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Karawo di Gorontalo
Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain. Foto: Kris/Dulohupa.

Dulohupa.id – Karawo adalah ikon ekonomi kreatif di Provinsi Gorontalo di bidang fashion. Karawo dinilai memberikan kontribusi terhadap ketersediaan lapangan kerja di Gorontalo.

Olehnya harapan karawo dapat terus dikembangkan agar memiliki role pasar yang besar. Sehingga hal tersebut dapat menaikan pride dan kebanggaan dari Karawo.

“Kalau sudah naik Pridenya dan kebanggaan menggunakan karawo, maka minat untuk pembelian akan semakin banyak. Dengan demikian produksi juga akan akan semakin banyak, artinya kita mulai dulu dari orang suka menggunakan karawo. Bagaimana mereka bisa suka dengan karawo, maka mereka harus kenal dan bangga dulu,” Jelas Kadis Pariwisata Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, Sabtu (19/08/2023).

Karnaval Karawo
Penampilan salah satu peserta Gorontalo Karnaval Karawo ke-12. Foto: Kris/Dulohupa

Lanjutnya, Aryanto mengatakan bahwa Gorontalo Karnaval Karawo merupakan salah satu upaya untuk terus mendorong kebanggan masyarakat Gorontalo dan kesenangan bagi masyarakat luar untuk suka dan kagum dengan karawo. Sehingga kedepan seiring dengan banyaknya permintaan, tentu akan mampu menjadikan pasar yang baik bagi produksi karawo Gorontalo.

“Kalau pasar terbuka, maka produksi akan meningkat dan otomatis lapangan pekerjaan juga akan terbuka. Sehingga pada titik tertentu, ini akan menggairahkan ekonomi daerah atau ekonomi lokal masyarakat Gorontalo yang tentu saja akan memberikan kontribusi pada pembangunan di Gorontalo,” Lanjutnya.

Berbicara lapangan kerja yang diciptakan melalui Karawo, dapat dilihat dari hulu ke hilir. Hulu yang dimaksudkan dilihat dari lahirnya para pembuat motif. Terlebih saat ini tengah muncul teknologi AI yang dapat mempermudah dalam membuat motif-motif karawo yang lebih baik. Hal tersebut kemudian dinilai menjadi sebuah lapangan kerja.

“Makin ke hilirnya, dalam hal ini adalah pengerajinnya, pewastranya seperti para penjual karawo, toko-toko karawo, atau butik karawo serta peragawan bisa tampil dimana saja untuk memamerkan karawo itu sendiri. Jadi dari hulu ke hilir itu bisa tercipta lapangan kerja, dengan catatan ini animo semakin meningkat dan permintaan semakin bertambah,” Tandas Aryanto.

Reporter: Kris