Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Japesda: Rehabilitasi Tak Cukup, Harus Reboisasi!

Dulohupa.id – Upaya rehabilitasi yang akan dilakukan untuk menutup lubang bekas tambang emas di Kabupaten Pohuwato, kembali mendapat sorotan dari Jaring Adovokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) Gorontalo. Upaya Rehabilitasi dinilap tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan upaya Reboisasi.

“Selama tujuannya untuk memulihkan, memperbaiki kualitas lingkungan dan mengembalikan ekosistem yang ada di situ agar kembali berfungsi sesuai peruntukannya,” Ujar Ketua Japesda Gorontalo Nurain kepada Dulohupa.id, Sabtu (14/11).

Namun, terang Nurain secara tegas, selama ini jarang bahkan hampir tidak ada perbaikan lingkungan pasca tambang. “Yang ada, hanya di sisakan begitu saja bekas galian tambang.”

Kata Nurain juga,  melakukan penimbunan bekas galian adalah upaya yang bisa dilakukan untuk memulihkan kembali kondisi lingkungan pascatambang, hanya saja, upaya ini belum sepenuhnya mengambalikan fungsi kawasan hutan atau area bekas tambang tersebut pada kondisi sebelumnya.

“Kalau hutan kita terjaga, dikelola secara baik lahannya, pasti kualitas air akan bagus dan bisa dikonsumsi. Juga bisa dijadikan sebagai pengairan persawahan agar lancar karena dukungan dari debit airnya yang besar,” terangnya.

Jika lahan atau kawasan hutan sudah dikelola menjadi kawasan tambang, lanjut Nurain, malahan akan berdampak sebaliknya. “Kawasan yang ada aktivitas tambang akan berdampak pada pertanian, yang berpotensi tidak ramah lingkungan, akibatnya kondisi yang buruk terjadi.”

Maka dari itu, lanjut Nurain, upaya penimbunan bekas galian tambang harus juga dibarengi dengan penanaman pohon atau penghijauan di lokasi pascatambang tersebut.

Jika kawasan tambang dipulihkan bukan hanya ditimbun saja tapi dibarengi dengan penghijaun di lokasi pascatambang, kata Nurain, sangat berpeluang meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Alternatif ekonomi bisa sebagai tempat wisata, tapi ini masih jarang dilakukan. Mungkin di Indonesia beberapa lokasi eks tambang sudah ada yang pernah coba ini, tapi harus diolah dulu airnya untuk menghilangkan pengaruh logam berat (mercury) dan logam berat lainnya,” jelas Nurain.

Dirinya menambahkan, supaya bisa dimanfaatkan dengan efektif sebagai tempat wisata, harus ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat.

“Tapi cara ini harus hati-hati, butuh kerjasama dengan pihak-pihak terkait yang memang mau serius untuk itu, terutama pemerintah daerah dan masyarakat setempat,” tutupnya diakhir wawancara.

 

Reporter: Zulkifli Mangkau