Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Cerita Wanita Berusia 20 Tahun yang Kecanduan Seks

Dulohupa.id- Seorang wanita berinisial M mengaku kecanduan seks, setelah dirinya pertama kali mencoba berhubungan seks dengan pacarnya pada usia 16 tahun. Kepada Dulohupa.id, M yang saat ini berusia 20 tahun itu menceritakan bagaimana pertama kali ia melakukan hubungan itu hingga akhirnya kecanduan.

M masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) saat itu. Tepat pada momen libur lebaran 2016 silam, ia bersama keluarganya berlibur ke pantai. Ingin juga membagi kebahagiaanya, M lantas memutuskan mengajak pacarnya.

Namun bukannya berkumpul dengan keluarga, keduanya justru mencari tempat yang sepi untuk bersantai. Di tempat itulah, M lantas merelakan keperawanannya direnggut. Meski awalnya ia menolak, namun hubungan itu akhirnya terjadi juga.

“Awalnya saya tidak pernah menyangka bisa kenal seks diumur yang belum atau bisa dikatakan baru memasuki masa remaja, umur 16 tahun awal terjadi seks dengan nyata. Tapi setelah itu banyak penyesalan hingga cita-cita pun tak tercapai.” kata M.

Sialnya, bukannya bisa terus bersama, M justru dijauhkan dari pacarnya tersebut. M pidah sekolah ke luar daerah dan hubungan dengan pacaranya dijalani dari jarak jauh ( long distance relationship/LDR). Hubungan jarak jauh itu ternyata tak berjalan mulus. Keduanya lantas memutuskan pisah.

Seiring waktu berlalu, tepat di usianya yang ke-18, M kembali bertemu dengan seorang pria. Meski hanya seorang teman biasa, namun di dekat pria tersebut gairah seksnya justru semakin menjadi. Keduanya lantas melakukan hubungan seks setiap hari. Di rumah, di mobil, dan hampir di semua tempat memungkinkan.

“Lalu diumur 18 hingga 19 tahun terjadi lagi, masih dengan perasaan sama, takut! Namun akhirnya laki-laki itu terus meyakinkan bahwa tidak akan ada apa-apa. Setelah itu, karena sering melakukan hal itu, jadi ketagihan. Rasanya ingin lagi dan lagi. Hingga akhirnya seks pun menjadi bagian terpenting untuk memenuhi hasrat, nafsu yang begitu besar membuat semua terasa baik jika benar terpuaskan.” curhat M.

M mengaku, seks membikin pikirannya segar. Sebaliknya, jika tak melakukannya sehari saja, ia merasa tak tenang. Makanya, kadang ia suka bermasturbasi jika memang tak ada lawan jenis yang bisa melakukan seks dengannya.

“Pertama kali sakit, dan nikmat-nya belum seberapa, yang ke dua kalinya mulai nikmat karena rasa sakit tidak ada lagi. Untuk selanjutnya hanya kenikmatan yang terasa, jika tdak terpenuhi rasa bisa stres.”

Dari pengakuan M, sudah belasan laki-laki yang menidurinya. Ada yang bisa memuaskannya, ada yang tidak. Sebab bagi M, seks sudah menjadi kebutuhan utamanya yang harus ia penuhi, karena jika tidak terpenuhi, akan menggagalkan semua pekerjaannya.

Kecanduan Seks sama dengan gangguan seksual?

Kecanduan seks sebetulnya mengacu pada suatu kondisi seseorang yang memiliki dorongan seks yang luar biasa intens atau obsesinya yang tidak sehat terhadap seks.

Dikutip dari halodoc.com terlibat dalam perilaku seksual sendiri akan memicu produksi dopamin. Artinya, ketika seseorang berhenti melakukan hubungan seksual, mereka akan menginginkan lebih karena hal tersebut mengundang kepuasan tersendiri.

Namun, banyak ahli yang sebenarnya tidak setuju dengan penggunaan istilah ‘kecanduan seks’. Beberapa ada yang mengatakan, obsesi untuk terus berhubungan seks adalah masalah kesehatan mental, sementara lainnya mengungkapkan jika hal itu dipicu oleh masalah kepribadian.

Adapun kecanduan seks atau ‘kelainan hypersexual‘ pernah dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam edisi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), sebuah manual diagnostik utama di AS dan Inggris pada 2013 silam, tetapi ditolak lantaran kurangnya bukti.

Sementara Departemen Psikiatri University of Cambridge pernah melakukan studi yang menunjukan aktivitas otak pada pecandu seks sama dengan pecandu narkoba. Studi tersebut diterbitkan dalam Jurnal PLOS ONE. Jurnal ini menulis jika pornografi memicu adanya aktivitas otak pada orang dengan perilaku seksual komplusif.

Reporter: Yusuf Konoli