Dulohupa.id – Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) per 11 Mei 2026, sejumlah 242 daerah yang mengalami kenaikan harga cabai merah pada minggu pertama di bulan Mei 2026.
Melalui Sekretaris Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri pada Senin (11/05/2026), meminta pemerintah daerah (Pemda) agar dapat mengambil tindakan dalam pengendalian kenaikan harga cabai ini.
“(Pemda) Boleh tidak membangun atau tidak bekerja sama dengan Kementan untuk menanam cabai, dengan catatan jangan cabainya naik (harga),” ujar Tomsi.
Dikatakan Tomsi bahwa berdasarkan data dari Kementerian Pertanian (Kementan) ada sejumlah wilayah yang belum mendukung program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk meningkatkan produksi cabai. Bahkan, ada beberapa wilayah yang dilaporkan menolak alokasi kawasan cabai yang disediakan pemerintah ini.
Meski begitu, Kemendagri meminta agar Pemda tetap harus menjaga stabilitas harga agar berdampak langsung ke masyarakat.
Untuk di Gorontalo sendiri, dari pantauan terkini disejumlah lapak rempah-rempah, harga cabai merah mencapai Rp 60 ribu per kilogramnya, sementara untuk cabai keriting Rp 50 ribu per kilogram, dan bawang merah saat ini diangka Rp 60 ribu per kilogram.
Selain soal kenaikan harga cabai, pihak Kemendagri juga menyorot terkait stok beras nasional yang saat ini mencapai 5,19 juta ton, dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Tomsi meminta agar Perum Bulog dapat memastikan pendistribusian beras ke daerah-daerah berjalan lancar, mengingat masih ada sejumlah wilayah yang alami kenaikan harga beras.
“Tolong Ibu (Perum Bulog) datakan daerah-daerah masih tinggi, minta dihubungi untuk Bulognya supaya penyalurannya ditingkatkan,” ucapnya.
Tomsi menyampaikan bahwa tantangan menjaga stabilitas harga di daerah-daerah tidaklah mudah. Meski begitu, dirinya menilai bahwa Pemda dapat belajar dari pengalaman sebelumnya dalam menghadapi siklus perubahan musim dan gangguan distribusi yang mempengaruhi pasokan pangan.
“Dengan rapat yang setiap minggu, dengan bertahun-tahun kita mengalami musim yang sama, musim penghujan, panas, gelombang tinggi, kita harus sudah bisa mengatasi kebiasaan-kebiasaan itu. Kita sudah bisa mengatasi kesulitan-kesulitan kita itu,” tutupnya.











