Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEPERSPEKTIF

Hikmah Kurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

28
×

Hikmah Kurban dalam Perspektif Antropologi Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Kurban Gorontalo
Dok: Dulohupa

Penulis: Dr. Funco Tanipu, M.A
(Dosen Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Pada momentum Kurban (dalam konteks keseharian adalah memotong hewan qurban/mongoloto) ada berbagai kata kunci ; keikhlasan, pengorbanan, takzim, penghormatan, kepemilikan, merasa diri, buruk sangka, tidak sabaran, ketaatan dan sikap bertahan.

Jika pada era Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, bagaimana praktek dari kata-kata kunci diatas berhubungan langsung dengan Allah.

Walaupun pada ujungnya simbolik, tapi untuk seauatu yang simbolik ada perjuangan untuk mengorbankan sifat merasa memiliki, sifat buruk sangka dan tidak sabaran atas ketetapanNya, hingga ketaatan dan terus bertahan atasNya.

Maka pada era kekinian bagaimana menempatkan kata-kata kunci diatas? Melalui apa, siapa, bagaimana serta kapan “perintah” berkurban tersebut diterjemahkan? Hanya sekedar memotong hewan Kurban kah? Hanya berhaji kah? Kalau sekedar berkurban dan berhaji, bagaimana dengan orang-orang yang tak memiliki apapun?

Dalam perspektif Gorontalo, ada tiga kata yang sesuai : mongoloto (memotong), mongotongo (membatasi) dan mongotolo (menahan). Tiga kata tersebut menjadi kontekstual dengan kondisi kekinian, apakah memotong sifat-sifat hewani dalam diri, ataukah menahan diri dari sifat hewani yang liar, hingga membatasi diri dari batas-batas perilaku dan pola pikir yang melampaui batas-batas kemanusiaan dalam hal ini memasuki sifat hewani.

Jadi, manusia Gorontalo sebagian besar memiliki feeling (pongorasa) bagaimana menempatkan diri untuk mongoloto, mongotolo, mongotogo. Ia tahu bagaimana tidak buruk sangka pada hal yang tidak ketahui (apalagi jika hanya mendengar dari mulut orang lain). Ia tidak merasa diri dengan apa yang hanya dipinjamkan padanya, apakah itu jabatan, pengetahuan, gelar dan jabatan (bulo-buloto), hingga apalagi ia tidak akan merendahkan martabat orang lain, dalam pandangan matanya yang minimal itu.