Dulohupa.id – Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo mencatat data terbaru yang memprihatinkan, sebanyak 2.900 hektare lahan tanaman jagung terancam gagal panen.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan hasil pertanian dan kesejahteraan ribuan petani setempat.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady D. Mario mengungkapkan bahwa fenomenal perubahan cuaca saat ini kembali mengharuskan pemerintah dan masyarakat beradaptasi dengan kondisi itu.
Menurutnya, kemarau yang menghantam Gorontalo saat ini sudah barang tentu memiliki dampak. Terlebih di sektor pertanian.
“Kalau terdampak pasti, jadi khususnya untuk padi dan jagung,” ujar Muljady kepada Dulohupa saat ditemui pada Kamis (13/08/2026).
Dari dua tanaman petani itu kata dia, yang paling terdampak besar adalah komoditi jagung. Dampaknya tak sedikit, ribuan hektare terpantau terdampak berat.
“Nah yang paling terdampak besar itu adalah jagung. Dari hasil pantauan kami yang terdampak berat itu sekitar 2.900 hektare,” ucapnya.
Lebih lanjut kata Muljady, jika dalam waktu dekat cuaca tetap bertahan atau tak turun hujan, ribuan hektare tanaman jagung ini berpotensi tinggi terjadi gagal panen.
“Jadi kemungkinan kalau satu minggu ke depan ini tidak hujan lagi, mungkin bisa puso,” ungkapnya.
“Yang terdampak itu hampir merata di 6 kabupaten/kota. Tapi Alhamdulillah kalau di Boalemo dan Pohuwato itu ada sempat hujan bahkan banjir. Tapi yang kabupaten yang lain itu praktis sampai sekarang tidak pernah ada hujan (berpotensi puso),” lanjut Muljady.
Pemerintah dan instansi terkait terus melakukan upaya dalam meminimalkan dampak kemarau ini. Salah satunya, dengan menyediakan pompa air untuk membantu pengairan dilahan-lahan petani.
“Di semua kabupaten ini tersedia pompa. Hampir rata-rata per kabupaten sekitar 200 unit pompa. Nah yang menjadi masalah ada sumber air nggak dekat pertanaman. Kalau ada sumber air dekat pertanaman bisa meminjam pompa di dinas pertanian kabupaten,” tandasnya.
“Ada di sana. Kalau tidak tersedia di dinas pertanian kabupaten bisa minjam ke provinsi, kita punya brigade alsintan. Itu salah satu upaya yang kami lakukan,” sambung Kadis Pertanian.
Selain melakukan pendataan dan peminjaman pompa air untuk petani yang terdampak, menurut Muljady saat ini juga terdapat sejumlah pekerjaan yang tengah dilaksanakan, diantaranya perbaikan saluran irigasi, kemudian program embung, irigasi perpipaan, irigasi perpompaan dan lainnya.
Meski begitu, Muljady menyadari bahwa semua hal tersebut belum kemudian bisa menyelesaikan semua masalah yang ada.
“Terutama kalau jagung kita ini kan rata-rata pertanaman yang mengandalkan curah hujan, yang ada di perbukitan, yang jauh dari sumber air. Ini kemudian menjadi problem. Tapi pemerintah terus melakukan evaluasi ini,” jelas Muljady.
Hingga saat ini, Dinas Pertanian terus melakukan pendaratan terhadap lahan yang terdampak dari kemarau ini.
“Kami terus melakukan pendataan, validasi di lapangan, untuk kemudian menyiapkan program semacam kompensasi ataupun untuk membantulah. Minimal kita bisa bantu mengganti benih setelah mereka terdampak berat misalnya tanamannya fuso,” pungkasnya.
Reporter: Yayan











