Dulohupa.id – Peristiwa longsor yang menelan korban jiwa sejumlah penambang di Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, kini menjadi sorotan publik.
Musibah tersebut tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan sejumlah pertanyaan terkait aktivitas pertambangan di kawasan tersebut.
Di tengah sorotan itu, beredar isu yang menyebut lokasi PETI DAM Hulawa dikuasai oleh seorang oknum anggota legislatif (Aleg) DPRD Kabupaten Pohuwato, Yusuf Lawani.
Namun, Yusuf Lawani membantah tudingan tersebut.
Politisi Partai NasDem itu menegaskan bahwa lokasi yang mengalami longsor bukan merupakan wilayah pertambangan yang dikelolanya.
Yusuf menjelaskan, lokasi kejadian memang masih berada di kawasan DAM Hulawa. Namun, menurut dia, titik longsor tersebut berada cukup jauh dari lokasi yang disebut sebagai miliknya.
“Peristiwa itu bukan di lokasi saya, itu di lokasi Firman. Dari lokasi saya masih ada lokasi Kusno, baru itu saya punya,” ungkap Yusuf saat dikonfirmasi awak media, Kamis (13/8/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi bantahan Yusuf terhadap isu yang mengaitkan dirinya dengan lokasi PETI yang mengalami longsor dan menelan korban jiwa.
Meski demikian, insiden longsor di kawasan PETI DAM Hulawa kembali menjadi perhatian terhadap aktivitas pertambangan tanpa izin di wilayah Pohuwato, terutama menyangkut aspek keselamatan para penambang dan pengawasan terhadap aktivitas pertambangan.
Sementara Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Marupa Sagara menyebut 6 penambang dievakuasi usai longsor terjadi pada Rabu (12/8/2026). Namun lima diantaranya meninggal dunia. Kelima korban merupakan Warga Kabupaten Boalemo.
Petugas kepolisian masih melakukan pencarian diduga masih ada korban lainnya yang tertimbun di lokasi.
“Untuk sementara 6 orang itu tertimbun, 5 orang meninggal dunia. Kami terus mengupdate jika ada laporan petugas di lapangan terkait korban lainnya,” pungkas Kombes Marupa Sagara.
Reporter: Onal/Enda











