Dulohupa.id – Badan Pusat Statistik (BPS) kembali merilis data inflasi Provinsi Gorontalo per September 2026. Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Gorontalo mencatat laju inflasi sebesar 5,46 persen. Angka ini didorong lonjakan harga bahan pangan, terutama cabai rawit yang menjadi penyumbang terbesar.
Berdasarkan rincian wilayah, Kota Gorontalo berada diangka 4,48 persen (y-on-y), kemudian Kabupaten Gorontalo di 6,28 persen (y-on-y) atau tertinggi di wilayah tersebut.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) Gorontalo mengalami inflasi 1,91 persen, dan sepanjang tahun berjalan (year-to-date/y-to-d) tercatat 4,44 persen.
Dari data yang ada, sejumlah sembilan kelompok naik, dan dua kelompok lainnya turun. Kenaikan harga terjadi di sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran, antara lain:
1. Makanan, minuman, dan tembakau: 10,51 persen kontributor terbesar.
2. Transportasi: 6,33 persen.
3. Perawatan pribadi dan jasa lainnya: 5,86 persen.
4. Penyediaan makanan & minuman/restoran: 3,21 persen.
5. Informasi, komunikasi & jasa keuangan: 2,43 persen.
6. Rekreasi, olahraga & budaya: 1,93 persen.
7. Perumahan, air, listrik & bahan bakar RT: 1,88 persen.
8. Perlengkapan & pemeliharaan rumah tangga: 0,89 persen.
9. Kesehatan: 0,88 persen.
Sementara untuk dua kelompok yang justru mengalami deflasi, yaitu:
1. Pakaian dan alas kaki: -2,39 persen.
2. Pendidikan: -0,77 persen.
Dari sembilan kelompok penyumbang inflasi di Gorontalo ini, cabai rawit masih menjadi pemicu utamanya.
“Angka inflasi di bulan September ini sebesar 1,91 persen, artinya apa?. Artinya di bulan September ini memang terjadi kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat di Provinsi Gorontalo dibandingkan dengan bulan Agustus,” ujar Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo kepada awak media pada Kamis (1/10/2026).
“Nah, komoditas-komoditas yang menyumbang inflasi di bulan September dibandingkan dengan bulan Agustus yang paling besar adalah cabai rawit. Tentunya kita ketahui bahwa cabai rawit di bulan ini memang naiknya tinggi banget ya dibandingkan dengan bulan Agustus,” lanjutnya.
Lebih lanjut kata Agus, selain komoditi cabai rawit, daging ayam ras juga turut menyumbang besaran inflasi yang terjadi.
“Ada lagi komoditas yang berikan inflasi selain cabai rawit, yaitu daging ayam ras. Nah, daging ayam ras naik kenapa?, karena bahan pakannya naik gitu ya. Bahan pakan naik kenapa?, karena harga jagungnya naik. Itu kaitannya gitu,” pungkasnya.
Reporter: Yayan











