Scroll Untuk Lanjut Membaca
FeatureINFO COVID-19

Kisah Penyintas Covid-19: Terpapar Dulu Baru Percaya

×

Kisah Penyintas Covid-19: Terpapar Dulu Baru Percaya

Sebarkan artikel ini
rusia-sulap-gelanggang-es-jadi-rs-pasien-covid-5_169
ilustrasi

Dulohupa.id-Ada banyak konspirasi soal COVID-19, juga banyak hoax yang bertebaran sana sini. Tak di media sosial, juga di lingkungan masyarakat. Salah satu yang kemudian lantas mempercayai itu adalah MA (26), seorang pemuda di Gorontalo.

“Apa ini Covid-19? Tidak ada ini Covid,” ketus MA kepada orang-orang yang kerap membahas soal virus yang mewabah sejak akhir 2019 ini. 

Bagi MA, apa yang ia baca di media sosial adalah benar adanya, terutama soal Covid-19 yang tidak terlalu berbahaya dan mirip flu biasa. Bahwa Covid-19 hanyalah penyakit yang direkayasa untuk meraup keuntungan. Menurutnya, tak ada yang meninggal karena Covid-19. Semua korban yang meninggal kata dia karena memang setiap manusia memiliki penyakit bawaan atau komorbid. Karena itu, pemberitaan soal korban meninggal yang diklaim karena Covid-19 jelas mengaburkan fakta tersebut.  

Hingga tiba pada suatu hari, MA mulai demam. Awalnya ia hanya merasa sedikit kedinginan setelah pulang nongkrong bersama kawan-kawannya. Malam itu, karena memang sudah larut, ia memutuskan untuk langsung tidur. 

“Tak disangka, paginya saya mulai menggigil. Panas saya tinggi. Saya pikir hanya efek karena tadi malam pulang terlalu larut,” ungkap MA menceritakan awal mula ia didiagnosis terpapar penyakit yang disebabkan oleh SARS-COV 2 tersebut, Sabtu (4/6).

Saya bertemu MA di kediamannya di Kota Gorontalo. Sore itu, tiga bulan sejak ia dirawat di RS. Saat ditemui, MA saat itu sedang duduk sambil membaca buku. Kedua orang tuanya tidak sedang berada di rumah. Praktis ia sendiri di rumah, sambil menikmati waktu akhir pekannya. 

Senyum pria yang menyukai olahraga badminton itu merekah ketika menerima saya. Sebelumnya ia telah meyakinkan saya, jika ia memang telah benar-benar negatif setelah melewati berbagai tes PCR. 

“Aman bro, saya sudah negatif. Kalo belum, tidak mungkin sudah berada di rumah lagi dan bisa menikmati semua ini (suasana rumah dan menghirup udara segar),” ungkapnya.

MA pun melanjutkan ceritanya. Kepada saya ia mengaku, saat dua hari merasa sangat menggigil dan panas serta batuk, ia lantas dibawa keluarganya ke puskesmas terdekat. Tak ada pikirannya mengarah ke Covid-19. Sebab, ia sendiri memang tak mempercayai penyakit itu ada. 

“Tiba di puskesmas, dengan prosedur Covid-19, saya dites (swab) dong. Dan booom! Positif bro,” cerita MA dengan santai. 

“Dengan kondisi itu, saya menolak dong. Saya bilang, saya ini tidak apa-apa. Kemarin malam masih sehat-sehat, ada dengan taman-taman (teman-teman), dan cuma merasa tidak enak badan saja kali ini,” jelas MA membantah hasil diagnosis perawat saat itu.

Argumen MA pun tak digubris dokter. Ia hanya dinasehati, bahwa ia adalah salah satu dari banyak pasien yang mengaku demikian. Seketika itu perasaanya mulai tak enak, ditambah dengan sakit kepala hebat yang ia rasakan. Seakan mau pecah. Tak hanya itu, ia juga batuk.

Dalam kondisi itu, ia pun mulai berpikir, apakah memang Covid-19 yang selama ini ia abaikan, memang benar adanya?. Ia masih berpikir sembari menahan sakit yang ia derita. Tak berselang lama, ia pun lantas dijemput dengan ambulance dan dirujuk ke RS Aloei Saboe. Rumah sakit yang memang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan untuk menangani pasien Covid-19 di Gorontalo. 

“Ada saat di mana saya mulai menangis. Sakit saat itu. Tapi kerasnya hati memang sulit yah. Bisa-bisanya saya saat itu masih saja berpikir kalau ini akal-akalan dokter saja supaya ada kuota pengidap Covid-19 di Gorontalo,” ungkap MA mengenang kelakuannya yang bebal saat itu.

Tiba di RS, MA pun segera diberi penanganan langsung. Sejam kemudian, tak ada yang menemani dia. Hanya ada perawat yang kerap datang dengan APD lengkap mengecek kondisinya. Ia pun mulai menangis. 

“Di situ saya mulai sadar, Covid-19 benar ada. Dan semua yang saya rasakan benar-benar nyata. Bukan lagi cirita (cerita) bro!. Benar-benar sakit sekali dada, sesak. Kepala sakit.” tegas MA mencoba menggambarkan bagaimana ia saat itu. 

Lebih dari dua minggu MA dirawat di RS, hingga akhirnya dengan berbagai tes, ia lantas dinyatakan sembuh. Namun, waktu selama itu sudah cukup memberinya waktu untuk merenung, bahwa Covid-19 benar-benar ada. 

“Waktu selama itu dengan rasa sakit yang saya derita, sudah cukup menyadarkan saya lah. Setiap hari saya mengonsumsi obat, dan cuma dikunjungi oleh perawat ber-APD. Itu sudah cukup bikin bosan loh. Tidak ada keluarga dan lain-lain. Bayangkan, betapa frustasinya saya waktu itu,” 

Dalam keadaan dirawat itu, MA mulai merenungkan kembali bagaimana bebalnya dia dulu. Bagaimana hoax selama ini yang ia konsumsi dari media sosial, telah mengubahnya menjadi masyarakat yang anti-sains, padahal ia sendiri adalah lulusan sebuah perguruan tinggi. 

“Dari situ saya belajar. Kok bodohnya saya bisa-bisanya dulu mengabaikan protokol kesehatan. Ada banyak hal yang salah dalam penanganan Covid-19 kita saat ini. Tapi bukan berarti Covid-19 itu tidak ada. Ini yang saya percayai. Dan betapa bodohnya saya waktu itu,” ungkapnya. 

Rahman pun berdiri, ia pergi ke kamarnya sebentar, lalu kembali dengan membawa dua butir vitamin dan segelas air hangat.

“Ini yang saya minum bro, setiap hari. Vitamin untuk menjaga imun tubuh,” pamer Rahman.

“Jadi begini, kemungkinan memang ada banyak hal yang ganjal dalam penanganan kita (pemerintah) terhadap pandemi Covid-19. Entah buruknya manajemen dan hal lain. Tapi itu hanya menggambarkan betapa tidak siapnya kita saat ini. Apalagi di awal pandemi kan. Tapi itu bukan berarti kemudian menafikkan penyakit ini kan. Dengan apa yang sudah saya alami, saya pikir saya percaya Covid-19 itu ada,” tutup MA yang menolak fotonya dipublikasi. 

MA sendiri tidak tahu, ia adalah pasien keberapa dalam data dinas kesehatan setempat. Sebab, sejauh ini data kasus Covid-19  di Gorontalo per 27 Juni 2021 mencapai 5821 kasus. Dari jumlah tersebut,  5396 sembuh, 183 meninggal, dan 242 dirawat.

Reporter: Wawan Akuba