Dulohupa.id – Bripka Diana Holung, SH, seorang anggota Brimob Polda Gorontalo memiliki pengabdian, pengalaman dan berprestasi di kelas dunia.
Perempuan berusia 40 tahun ini lahir di Manado 10 Oktober 1984 yang merupakan sosok ibu dari dua orang anak. Saat ini ia bertempat tinggal di Ksatrian atau perumahan Satbrimob Gorontalo.
Bripka Diana lulus polisi pada tahun 2005. Awal tugas di Satbrimobda Gorontalo sebagai Ba Brimob, kemudian Bamin Ops, Bamin Log, Ps. Panit 2 Wanteror, serta jabatan terkahir Ba Sat Brimobda Gorontalo, dengan masa dinas 19 tahun 7 bulan.
Sederet prestasi dan penghargaan telah ia terima, dimana pernah menjadi Siswa Trengginas Dasba Brimob berprestasi angkatan 29 tahun 2015 di Watukosek, kemudian mendapat penghargaan Kapolda Gorontalo atas prestasi di misi perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pasca dinas di Negara Mali, Afrika Barat tahun 2023. Selanjutnya Bintara pertama yang lulus menjadi Tester FPAT AOC PBB di Entebbe-Uganda 2023.
Capaian Bripka Diana didapatkan karena kemampuan, keahlian dan pengalamannya di misi luar negeri sejak tahun 2021 sampai sekarang.
Bripka Diana menceritakan, awalnya diperintahkan untuk melaksanakan BKO di Divhubinter Polri sebagai Instruktur bagi Para Peacekeepers yang akan diberangkatkan ke Luar negeri.
“Disamping menjadi Instruktur kami juga memiliki tugas sebagai LO baik bahasa Inggris dan Perancis di berbagai acara Internasional yang diselenggarakan oleh United Nation maupun Indonesia yang melibatkan negara lain,” jelasnya.
Tak hanya itu, Bripka Diana turut menceritakan soal pengalamannya saat bertugas di misi luar negeri. Misi pertamanya di Central Afrika dalam misi Minusca sebagai Liaison officer bahasa Perancis selama 15 bulan pada tahun 2019 – 2020.
Memiliki keahlian berbahasa Inggris dan Prancis, ia kemudian ditunjuk langsung oleh atasannya untuk mendapatkan jabatan seorang Perwira yaitu Liaison Officer bahasa Perancis pada FPU 1 Minusca.
Ia mengaku saat itu punya misi kedua di Mali yang paling berbahaya di dunia. Ancaman bom dari teroris dirasakan oleh anggota PBB yang bertugas. Jelas Diana, dalam proses perekrutan di misi Mali pun sangat ketat.
“Kami dipilih karena memiliki latar belakang pernah bertugas di Unit Jibom dan wanteror, pengalaman kami sebagai FPU di misi Minusca dan keahlian berbahasa Perancis. Kami mendapatkan jabatan sebagai Training Officer merangkap tainer utk SWAT Senegal, LO UNPOL dengan Militer, OCHA dan Casevac Officer di bawa Pillar Operation. Kami bertugas di Mali selama 1 tahun pasca Misi Minusma ditutup secara resmi oleh PBB,” ungkapnya.
Dalam menjalankan misi luar negeri tak semulus dan seindah dibayangkan.Hal tersulit saat misi yaitu mengatur waktu untuk keluarganya. Bahkan waktu istirahatnya terpaksa digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga.
Melalui momentum HUT Bhayangkara ke-79 tahun ini, Bripka Diana mengungkapkan bahwa Polri sebagai organisasi besar yang tugasnya sangat mulia, ditambah dengan tantangan yang kompleks. Ia percaya Polri tidak akan pernah menyerah dan tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Indonesia dan dapat berpartisipasi dalam perdamaian dunia sesuai alinea ke-4 UUD 1945.
“Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa. Untuk masyarakat khususnya wanita dan kawula muda, jangan jadikan kegagalan sebagai alasan untuk tidak berkembang. Improve your self, keep the attitude with you and do the best over the limit,” lanjutnya.
Terakhir, Bripka Diana berharap kedepannya untuk mendampingi buah hatinya untuk menjadi manusia yang bisa berguna bagi orang lain, bangsa dan negara, karena tidak ada keberhasilan seorang ibu lebih dari keberhasilan anak-anaknya.
Reporter: Yayan











