Scroll Untuk Lanjut Membaca
FeatureINFO COVID-19

Suka Duka Ojek Perahu di Tengah Pandemi Corona

×

Suka Duka Ojek Perahu di Tengah Pandemi Corona

Sebarkan artikel ini
Potret perahu Andi saat mengantar penumpang kembali ke daratan, saat menjelang sore tiba. Foto/Zulkifli

Dulohupa.id-Wajah Andi (49) begitu murung siang itu. Tak ada semangat yang memancar dari raut tersebut, ia seperti orang yang sedang mengalami kelelahan berat akibat aktivitas yang ia lakukan sedari pagi; menunggu penumpang yang ingin berkunjung ke pulau Lahe, Marisa, Kabupaten Pohuwato.

Siang itu, memang sangat sepi. Tak ada penampakkan wisatawan seorangpun yang mau menggunakan jasanya. Ia tetap menunggu dengan setia, menghabiskan waktu kerjanya seperti pegawai kantoran; yang akan balik ke rumah saat waktu menunjukan pukul 5 sore.

Dulu pekerjaan Andi ialah seorang nelayan ikan, yang kesehariannya mencari penghidupan dari laut Marisa yang masuk dalam kawasan Teluk Tomini. 

Puluhan tahun ia habiskan, dari masa mudanya bekerja sebagai nelayan, hingga kemudian memutuskan beralih menjadi seorang ojek perahu bagi para pengunjung wisata pulau Lahe. Meski kadang, ia juga menjadi pemandu wisata bawah laut. 

“Sudah lama saya menjadi nelayan ikan di sini, sudah bisa dihitung tahun, anak-anak saya saja sudah ada yang menikah dan memberi saya cucu,” tutur Andi dengan suara yang begitu samar, diterpa angin siang yang begitu kencang,  Sabtu (26/6/2021).

Menurut Andi, pekerjaan sebagai ojek perahu lebih terbilang aman dan menyenangkan, dibandingkan harus menjadi nelayan yang harus bertaruh nyawa saat tiba-tiba cuaca buruk datang menghantam. Pekerjaan ini sudah mulai digeluti Andi sejak 2018 silam, meskipun baru memulai, ia sering mendapatkan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Hasil dari ojek perahu cukuplah buat keluarga di rumah.”

Dampak Pandemi

Andi bercerita, penghasilannya semenjak dua tahun belakangan ini terbilang cukup. Hampir setiap harinya ia harus bolak-balik pulau Lahe mengantar penumpang yang ingin berkunjung ke wisata pulau berpasir putih tersebut.

Dalam sehari ia mampu melakukan 5 hingga 6 perjalanan. Harga per satu kali perjalanan untuk setiap orang, ia patok dengan harga Rp15 ribu.

“Setiap pengunjung yang saya antar rata-rata dalam jumlah yang banyak atau biasanya rombongan atau kelompok, bisa sampai 5-10 orang dalam sekali perjalanan ke pulau,” ucap Andi.

Andi  sangat menikmati pekerjaan barunya sebagai ojek perahu ini. Bahkan katanya, ada beberapa nelayan yang mulai ikut dengannya sebagai tukang ojek.

“Sudah mulai banyak yang jadi tukang ojek, tapi mereka masih sering turun menangkap ikan, jadi kadang stay kadang tidak ada. Kalau saya, sudah jarang menangkap ikan, sudah fokus di ojek ini,” katanya dengan jelas.

Namun, semenjak pandemi covid-19 mewabah, penghasilan Andi mulai terganggu. Terjadi penurunan wisatawan yang mengunjungi pulau Lahe, dan buntutnya ia harus menghadapi situasi yang sulit semenjak diberlakukannya pembatasan aktivitas masyarakat atau yang kita kenal dengan PSBB. 

Menurutnya, pada masa-masa pembatasan itu, ia tak mendapatkan penghasilan, tak ada pemasukan buat kebutuhan di rumah. 

“Waktu pembatasan itu memang masa-masa sulit, tidak penumpang satu orang pun yang datang. Untung ada program BLT, kebutuhan dapur di rumah masih tertolong dengan bantuan itu.”

Masa-masa sulit itu menjadi tantangan tersendiri bagi Andi, ditutupnya akses pariwisata berdampak secara ekonomi. Juga ada pedagang lainnya yang menggantungkan hidup mereka dari kedatangan wisatawan yang turut mengalami dampaknya.

“Bukan hanya saya terdampak secara ekonomi ini, tapi ada juga pedagang yang menjual makanan,” ujarnya dengan begitu pelan.

Andi dan pedagang lainnya baru bisa bernafas lega saat pemerintah mulai membuka pembatasan aktivitas masyarakat, dan mulai mengemukakan wacana perbaikan ekonomi di tengah pandemi yang sementara berlangsung. Tujuan dibuka pembatasan agar masyarakat dapat memperbaiki roda ekonomi, terutama bagi sektor pariwisata yang memang turut merasakan dampaknya. 

Inisiatif pemerintah ini disambut baik oleh Andi, juga beberapa penjual makanan yang menggantungkan penghasilannya dari kunjungan wisatawan. Meski pembukaan tempat wisata tersebut belum sepenuhnya pulih, tapi pemerintah berharap dapat memberikan dampak peningkatan ekonomi yang tentunya dengan banyak ketentuan yang diterapkan seperti penerapan protokol kesehatan dalam kawasan wisata dengan sangat ketat.

“Syukur sudah dibuka, tapi ada aturan baru. penumpang harus pakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pengunjung juga dibatasi yang mau ke Pulau, kalau tidak mengikuti aturan itu, tidak bisa berkunjung,” terangnya.

“Memang penghasilan yang saya dapat semenjak dibuka tempat wisata tak seperti sebelumnya, tapi, sudah lebih baik dari pembatasan kemarin, karena sudah bisa berpenghasilan meskipun tidak dalam jumlah yang banyak. Harus pintar-pintar dicukupkan untuk kebutuhan di rumah.”

Ia berharap, pandemi ini akan segera berakhir. dan keadaan bisa kembali seperti biasanya. Baik dari kehidupan sehari-hari hingga ke penghasilan, khususnya bagi tukang ojek perahu seperti dirinya, yang sepenuhnya menggantungkan harapan melalui dunia kepariwisataan. 

“Harapan saya segera berakhir saja ini korona,” pungkas dia.

Andi sebenarnya bisa menambah penghasilannya dari pekerjaan sebelumnya dalam menghadapi masa sulit ekonomi di tengah pandemi; kembali menjadi nelayan. Namun, ada beberapa peristiwa yang membuat ia trauma untuk kembali, dan juga faktor usianya yang mulai menuju senja. 

Ia mulai menikmati pekerjaan barunya sebagai tukang ojek, menurut dia, saat menggeluti dunia ojek perahu ia bisa bertukar sapa dengan banyak pengunjung yang berasal dari luar daerah, dan dapat menambah daftar kenalan baru, yang ia sebut sebagai investasi silaturahmi. 

Keadaan dalam masa pandemi juga mampu mengubah pola pikir Andi, pelan-pelan situasi sulit ekonomi ini ia lewati dengan berbagai caranya agar ia dapat bertahan hidup. Harapannya masih tetap sama, pandemi supaya cepat berakhir, pengunjung mulai banyak, dan ia bisa segera mungkin mengisi daftar kenalan orang-orang baru dalam album investasi silaturahmi-nya.

Reporter: Zulkifli Mangkau