Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIGORONTALOHEADLINE

4 Komoditas Pokok Termahal Se-Indonesia, Beban Pangan Gorontalo Tertinggi Nasional

×

4 Komoditas Pokok Termahal Se-Indonesia, Beban Pangan Gorontalo Tertinggi Nasional

Sebarkan artikel ini
GORONTALO
4 komoditas pokok Foto: Ilustrasi

Dulohupa.id — Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per Jumat, 24 Juli 2026 menempatkan Provinsi Gorontalo sebagai daerah dengan harga pangan pokok tertinggi di Indonesia.

Tidak hanya beras dan minyak goreng, kini telur ayam dan daging ayam di Gorontalo juga tercatat sebagai yang termahal se-nasional. Total ada 4 komoditas strategis yang harganya paling tinggi dalam waktu bersamaan.

Beras, Telur, Daging Ayam & Minyak Goreng Puncaki Harga Nasional

Untuk komoditas beras di pasar modern, Gorontalo tercatat Rp20.250 per kilogram. Harga ini tertinggi di Indonesia, mengungguli Papua Rp20.100 dan Sumatera Barat Rp19.700. Harga termurah ada di Jawa Tengah Rp16.900 per kilogram.

Kondisi lebih mengkhawatirkan terjadi pada minyak goreng di pasar tradisional. Harga di Gorontalo melonjak menjadi Rp27.900 per kilogram, naik dari Rp27.100 hanya dalam 2 hari. Angka ini jauh di atas Papua dan Sulawesi Tenggara Rp26.350, serta terpaut Rp4.650 dari Sulawesi Barat yang termurah Rp23.250.

Telur ayam di pasar modern Gorontalo juga paling mahal se-Indonesia: Rp55.900 per kilogram. Jauh di atas Papua Barat Rp46.800 dan Papua Rp44.050. Sementara termurah ada di Bali Rp36.200. Selisihnya hampir Rp20 ribu.

Begitu juga daging ayam di pasar modern. Gorontalo mencatatkan Rp61.450 per kilogram, tertinggi secara nasional. Mengungguli Sulawesi Tengah Rp61.200, Sumatera Barat Rp59.850, dan NTT Rp57.050.

TABEL HARGA 4 KOMODITAS DI GORONTALO VS TERMURAH NASIONAL

TABEL HARGA 4 KOMODITAS
Tabel Harga 4 Komoditas Di Gorontalo Vs Termurah Nasional

Diduga Ada Masalah Struktural Distribusi

Dengan 4 komoditas pokok termahal secara bersamaan, Gorontalo kini menjadi provinsi dengan beban biaya pangan tertinggi di Indonesia per 24 Juli 2026.

Situasi ini memperkuat dugaan adanya persoalan struktural dalam rantai distribusi dan pasokan pangan di daerah, bukan sekadar fluktuasi sesaat.

Kondisi ini juga menjadi sorotan karena bertolak belakang dengan pernyataan resmi Pemprov Gorontalo sebelumnya yang sempat mengklaim surplus produksi pangan, namun di sisi lain mengakui adanya kelangkaan pasokan dari luar daerah.

Sejumlah upaya stabilisasi yang disebutkan Pemprov, seperti pengendalian bongkar muat di Pelabuhan Gorontalo, penambahan lahan kontainer, hingga perbaikan distribusi BBM oleh Pertamina, hingga kini belum menunjukkan dampak signifikan terhadap harga di pasar.

Publik menilai perlu ada evaluasi menyeluruh dan langkah konkret dari pemerintah daerah agar harga empat komoditas ini tidak terus menempati posisi termahal secara nasional.

Sumber   : PIHPS Nasional, 24 Juli 2026 

Tim Redaksi