Pohuwato – Teater Peneti Gorontalo kembali menggelar agenda tahunan Tadarus Puisi di lingkungan Yayasan Salafiyah Syafi’iyah Banuroja, Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato.
Kali ini kegiatan tersebut bertajuk “Tadarus Puisi 10+2”. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, 22–27 Oktober, dan menjadi edisi ke-12 sejak pertama kali diselenggarakan.
Tadarus Puisi tahun ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya dilaksanakan di wilayah rural, jauh dari pusat kegiatan budaya kota. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Teater Peneti memperluas jangkauan kegiatan literasi dan apresiasi seni ke kalangan santri, setelah pada edisi 10+1 menjangkau audiens pelajar di SMA Negeri 1 Limboto.
“Tadarus kali ini bukan sekadar membaca puisi. Kami ingin para santri merasakan bahwa seni adalah cara yang lembut untuk memahami kehidupan,” tutur Zulkifli Djunaidi, pendiri Teater Peneti, yang memimpin langsung kegiatan tersebut.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kasi Madrasah Kemenag Pohuwato, Erman Hubu, yang menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Teater Peneti dalam menjaga tradisi literasi dan kesenian di Gorontalo. Ia menilai kegiatan semacam ini sejalan dengan semangat Hari Santri dan peringatan hari lahir pesantren Salafiyah Syafi’iyah yang jatuh di bulan Oktober.
Selain tadarus puisi, kegiatan juga diisi dengan workshop seni meliputi tari, musik, seni lukis, teater, dan teknik dokumentasi, dibimbing langsung oleh Zulkifli Djunaidi, pendiri Teater Peneti Gorontalo. Melalui pendekatan sederhana dan partisipatif, para peserta diajak memahami puisi bukan hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai pengalaman estetik dan spiritual.
“Selama dua belas tahun kami berusaha menjaga napas kegiatan ini agar terus hidup. Tahun ini kami memilih Banuroja agar santri juga bisa merasakan semangat yang sama: membaca dan menghayati kehidupan lewat puisi,” ujar Zulkifli.
Sebagaimana namanya, Tadarus Puisi adalah kegiatan membaca puisi secara bersama sambung menyambung tanpa henti selama beberapa hari. Edisi kali ini, tadarus mendapat dukungan penuh dari pihak Yayasan Salafiyah Syafi’iyah Banuroja Randangan sebagai sponsor utama.
Penyelenggaraan di lingkungan pesantren diharapkan menjadi langkah kecil untuk menumbuhkan budaya literasi dan kesenian di kalangan muda pedesaan.
Redaksi











