Dulohupa.id – Anggota Komisi II DPRD, Febrianto Mardain menyoroti capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato yang tidak tercapai hingga di penghujung tahun 2025. Hal itu terungkap pada rapat evaluasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Febrianto Mardain bahkan pesimis Dinas Pertanian mampu mencapai 50 persen dari target yang dibebankan. Ia menyebut beberapa sektor di dinas tersebut hanya mampu menyentuh angka 2 persen dari 100 persen target PAD yang telah ditetapkan.
“Bayangkan, dari seratus persen hanya dua persen. Ini harus dipertanyakan apa yang sebenarnya dihadapi oleh dinas tersebut. Rata-rata pun tidak ada yang mencapai 50 persen, bahkan ada yang hanya 17 persen,” ungkapnya.
Ia mempertanyakan dasar penetapan target PAD jika setiap tahun realisasinya selalu bermasalah. Menurutnya, penetapan target yang terlalu tinggi justru berdampak pada postur anggaran daerah karena realisasi pendapatan tidak mampu dicapai.
“Jika pesimis dengan target, kenapa harus ditinggikan? Ini yang menyebabkan masalah pada penganggaran daerah. Yang perlu ditelusuri juga yaitu sektor retribusi yang hanya mencapai 2 persen,” tutup Febri.
Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Pertanian Pohuwato memaparkan capaian PAD tahun 2025 yang ditargetkan sebesar Rp 622 juta. Namun hingga 14 November 2025, realisasi baru mencapai 36,17 persen atau sekitar Rp 225 juta.
“Targetnya memang sudah mencapai 37,78 persen atau menghampiri 40 persen. Pemerintah daerah sudah melakukan langkah evaluasi dan insyaallah akan mencapai 50 persen sampai akhir Desember nanti,” jelasnya.
Apakah tidak tercapainya PAD Dinas Pertanian berdampak karena banyaknya lahan mati akibat sedimentasi dari aktivitas Pertambangan Tanpa Emas Izin (PETI)?
Sementara Kepala Dinas Pertanian, Kamri Alwi mengaku jika lahan sawah yang terdampak dari pada sedimen akibat aktivitas PETI ia mengaku bukan menjadi kewenangannya. Sebab kata Kamri itu harus diteliti lagi oleh dinas terkait.
Gagal panen menurutnya banyak faktor yang mempengaruhi antara lain, hama tikus, kesuburan tanah yang kurang baik, dampak dari penggunaan pestisida yang berlebihan, dan bisa juga akibat air. Air yang tercemar entah itu dari PETI, kata dia tidak bisa dipastikan karena itu harus melalui penelitian.
“Kalau terkait laporan-laporan kita lakukan. Ada dampak sedimen disana. Bahkan saya sesekali menyampaikan kepada Kadis Perkim tolong sesekali kalian urus itu sedimen. Itu karena bukan kewenangan kita maka saya hanya sampai di koordinasi,” ungkapnya, Selasa (18/11/2025).
Akan tetapi, Kamri mengaku prinsipnya jika ada masalah, tetap akan diselesaikan dengan cara membantu hampir disetiap musim tanam mengkomunikasikan dengan Dinas PU Provinsi Gorontalo.
“Kami sering mengkomunikasikan untuk pengerukan sedimen ke Dinas PU provinsi, ke perusahaan PT PETS, mereka kemarin telah membantu sekitar Rp 42 Juta untuk pengerukan sedimen di irigasi persawahan,” ujarnya.
Intinya kata Kamri, belum tercapainya PAD Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato bukan hanya akibat berkurangnya lahan sawah yang ada di Pohuwato. Melainkan akibat tidak ada anggaran operasional alat mesin pertanian (Alsintan). Sebab banyak alsintan yang menjadi sumber pemasukan dari PAD ada beberapa yang rusak, dan itu harus dilakukan perbaikan demi pelayanan ke petani meskipun tidak adanya biaya operasional.











