Momongu Banthayo
halaman terlampau sesak menampung doa,
lalu dibukalah belukar, dan disandingkan pohon yang sekedar
dibelahlah tanah, mengalir sungai dari mata air tak bermusim
gemericik yang tidak berisik
bambu dipancang, mendandani ibu bumi
lelampu dibakar dengan sekorek sentuhan
atap ditinggikan, menyentuh langitlangit pohon jati
puade digelar, luas dan gegar,
aduhai, siapa yang memindah surga kesini?
Motilantahe Huwali
tanpa bulubuluwata meluncurlah Te Uti
dari negeri tanpa raja, negeri yang diperintah oleh rasa cinta
turunlah ia dari tangga langit laksana angin semilir
yang memenuhi udara dengan lagu selamat malam
dari genderang seorang lelaki tua
bubato mengapitnya dalam diam geretak
tak memberi kesempatan sedikitpun
bagi siapa yang meretak,
“selamat datang, wahai!”
“masuklah di istana tanpa tembok, penuh ombak, penuh sekoci!”
naiklah Te uti, masuklah, duduklah.
Mohatamu
Dengan nama Pemilik Semesta
Ti Nou mengeja kitab Tuhan Yang Esa
di hatinya, langit terbelah, laut tumpah.
Molapi Saronde
selendang menari, gendang menggenggam jemarinya
tiga bubato membelah ruang, mempermainkan tata surya
selendang menari, gendang menggenggam ujungnya
menyapihnya di kepala Te Uti
Te Uti menyambutnya jemari selendang, diajaknya menari
diintipnya Ti Nou yang merajai ranjang
berganti-ganti, malam memanjang, mengakhiri lajang
Mopotidi
selendang berlabuh, bahtera menunggu
bahtera dengan kincir kembang di kanan dan pasak polopalo di kiri
lalu mulailah laut bercakap:
molinepo
palingkan wajahmu ke dua penjuru hidup
perhatikanlah semesta, jaga ia sebagaimana ibu, sebagaimana tarian bermula.
modapato
ikatlah perutmu dengan tanganmu, sekuat ikat
seumpama akar dan tanah, yang menahan hujan dalam rahim.
mongayo
menyalami angin, menjabati takdir, ke penjuru bahu
sebab tanganmu adalah teman sekaligus musuh tanpa senjata
mawowo
bahumu menopang kanan, sedang pinggangmu menadah kiri
dengannya, aku kau layari, padang kau daki.
mobite
ombak akan sering berkunjung ke pintu rumahmu,
lingkarlah pasakmu, rekuh dayungmu, kukuhkan bidukmu
buat mencapai pantai yang tak landai.
“selamat berlayar, Nou!”
Mongakaji
pada sepasang jarijari yang saling tatap, dua lelaki,
saling adu, saling melepas dan menerima
menyebut dan mempersilahkan
sebatang tubuh berikut saripati ibu
pada sepasang lutut yang berciuman
bergemulung, bertubrukan dalam relung biru
berikut sungai di mata yang pecah
menuju hilir yang berada dipelukan sang ayah
pada seperangkat mahar berisi aksara
untuk menyusunnya menjadi sepasang kata
lalu sepasang kalimat, yang saling jaga, saling menyempurnakan
menuju takdir tanpa titik
pada sepasang amin yang berkelepak
menata dirinya menjadi rumah sepetak
berperabot selendang ungu, biru, hijau, dan kuning telur
menghiasi dindingdinging cinta, dindingdinding surga.
Molomela Taluhu Tabia
Di huwali lo humbiya, ibu jari dan dahi saling peluk
kalian jadi satu tubuh. satu wudhu.
Mopipidu
puade digelar, luas dan gegar,
jadilah kalian raja.
bermahkota puisi-puisi palebohu:
wawu timongoli lo nika
lo nyawa
dengan sepenuh awan. dengan sepenuh bulan.
***











