Dulohupa.id– Pelabuhan penyeberangan kapal di Ampana ramai dipenuhi calon penumpang. Pagi itu, Senin (18/10), mereka berebut tiket untuk segera sampai ke tujuannya. Rata-rata perjalanan mereka menuju Togean, sebuah surga yang dititipkan tuhan di tanah Tojo Una-una.
Kepulauan Togean sendiri dikenal dengan destinasi wisata bawah laut dan keindahan permukiman desanya. Wilayah dengan luas 3.626 km persegi itu merupakan tempat bersemayam rumah bagi 363 spesies tanaman, termasuk 33 spesies mangrove. Tidak hanya itu, juga dihuni tarsius (Tarsius spectrum palengensis), monyet Togean (Macaca togeanus), serta babirusa (Babirousa Togeanensis), kuskus, duyung, paus dan lumba-lumba . Bahkan, daerah yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) ini masuk dalam segitiga terumbu karang dunia, serta ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar alam biosfer baru di Indonesia.
Di meja para petugas, tiket mulai dikeluarkan satu per satu, dari kiri hingga kanan orang-orang berdesakan, berkerumun, berebut siapa yang lebih dulu mendapatkan tiket kapal; mereka mungkin sudah lupa soal dunia masih dihajar oleh pandemi dan dianjurkan harus menjaga jarak.
Kejadian kerumunan ini dipicu lantaran beberapa kapal pengangkut penumpang menuju desa-desa yang berada di Togean tak berangkat, asbab itu yang menyebabkan calon penumpang menumpuk di depan loket. Menurut informasi yang beredar dari warga, tidak berangkatnya kapal-kapal diakibatkan stok solar di pangkalan ataupun pertamina tidak ada, bahkan kalau pun ada, harganya bisa saja lebih mahal dari harga biasanya.
“Hari ini kapal Wambura-bura, Kapia, tidak berangkat, hanya ada Nusantara dan Belavista,” ujar seorang petugas loket di hadapan penumpang pagi itu dengan nada yang agak keras, Senin (18/10).
“tidak ada BBM, jadi naik kapal yang ada saja,” lanjutnya.
Sontak mendengar perkataan petugas loket tersebut, warga yang sudah lama terluntang-lantung akibat ketidakjelasan kapal yang biasa mereka tumpangi mendekat ke loket, memburu tiket kapal yang tersisa.
“Saya tidak biasa naik kapal lain, saya biasanya naik Wambura-bura,” lengking suara seorang penumpang di tengah kerumunan.
Memang belum ada informasi resmi dari pihak pertamina ataupun dari pihak pemerintah setempat terkait kelangkaan atau stok BBM solar hari itu. Informasi tidak berangkatnya kapal-kapal lain itu didapatkan dari awak kapal tersebut, yang sudah memastikan tidak akan berangkat.
Anwar (50) pagi itu senyam-senyum tak karuan. Ia tak ambil pusing dengan kapal-kapal yang tak berangkat. Ia melenggang luas ke beberapa sudut hanya untuk mencari kantin, sembari menghabiskan waktu menunggu antrian di loket.
“Tujuan saya ke Desa Tumoto, dan kapal saya tetap akan berangkat, saya naik Belavista jadi tak ambil pusing. ABK juga tahu saya dan pasti kebagian tiket,” terang Anwar saat berada di kantin.
Jam sudah menunjukan pukul 08.00, loket masih penuh. Ada perkiraan terjadi lonjakan penumpang di beberapa kapal yang berangkat hari ini, dan kekhawatiran yang paling serius ialah kapal akan kelebihan muatan.
“Kalau kapal lain tidak berangkat, yang jelas banyak muatan nanti di kapal. Misalnya, di kapal Belavista ini ada berapa stok es yang akan di kirim ke beberapa desa di Pulau, di kapal-kapal lain juga ada, kalau tidak berangkat pasti tertumpuk di sini. Yang saya jaga itu kelebihan muatan,” jelas Anwar.
Anwar menuturkan, kelangkaan solar ini baru ini terjadi, pada bulan-bulan kemarin tidak pernah ada. Kerugian dari kelangkaan ini berdampak pada roda ekonomi itu sendiri, apalagi wilayah kepulaun Togean berada di tengah laut, yang notabennya memerlukan bahan bakar sebagai penunjang moda transportasi mereka.
Perahu dan BBM sudah menjadi kebutuhan pokok bagi orang-orang kepulaun Togean. Kehilangan kedua hal itu berdampak pada perekonomian warga setempat.
“Jelas kalau tidak ada BBM, kita yang tinggal di Pulo (Togean) bisa apa, kita bersandar hidup di situ,” ucap Ririk, seorang warga Desa Malenge, yang harus naik kapal Belavista karena kapal Wambura-mbura tidak berangkat.
Muka Ririk agak sedikit tegang ketika saya tanyakan perihal kelangkaan BBM Solar ini, dan membuat ia harus cari kapal lain. Menurutnya, stok solar yang kurang ini juga akan berdampak ke banyak orang, apalagi bagi dirinya sendiri yang membutuhkan solar sebagai bahan bakar perahunya untuk mencari ikan.
“Saya butuh banyak solar saat mencari ikan, wilayah tangkap saya jauh jadi butuh banyak. Kalau kurang begini saya pasti tak turun, terpaksa tak mendapatkan ikan untuk dijual,” kata dia dengan kesal.
Kata Ririk, peristiwa kelangkaan solar ini pernah terjadi dan banyak yang dirugikan, bukan hanya nelayan, pemilik kapal, tapi juga para buruh yang bekerja di pelabuhan. Kapal yang tidak berangkat mengakibatkan mereka tidak dapat pekerjaan pula.
Barang yang seharusnya sudah diangkut ke kapal-kapal, hanya tergeletak pasrah di pinggir jalan dermaga. Sedangkan penghidupan para buruh ini di jasa angkutan tersebut, bisa dibayangkan kalau aktivitas angkut mengangkut terhenti, mereka dapat uang darimana.
Ekonomi Mangkrak
Pagi itu mendung, namun perlahan matahari membuka senyumannya. Jam sudah menunjukan pukul 08.45, orang di depan loket mulai berkurang, sepi, dan hening. Tapi tiba-tiba, terdengar suara yang agak keras dari luar loket. Orang-orang bergantian bertumpuk di sana, bergerak seperti gerombolan ikan yang mau migrasi. Saya belum tahu apa sebabnya suara keras itu, saya ikut berkerumun untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kalau kapal tidak berangkat, kita buruh makan apa, tidak ada uang yang bisa kita hasilkan,” kata seorang buruh yang merontak-rontak di pelabuhan Ampana.
Buruh itu dalam keadaan emosi yang tinggi, ia naik pitam sejak mendengar beberapa kapal tidak berangkat akibat solar tidak ada. Ia kesal karena muatan banyak terparkir menganggur menunggu kapal, dan jasanya untuk mengangkut barang tidak bisa dipakai.
Ia bersuara layaknya sang orator memimpin aksi parlemenen jalanan, dengan nada yang keras tak memerlukan corong pengeras suara di tangannya. Petugas pelabuhan juga tak ada satu pun yang mendekat ke arahnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tak lama berselang, ia hening. Kemudian tangannya tampak sibuk merogoh kantongnya. Ternyata ia mengambil sebuah ponsel miliknya dari celana pendeknya, kemudian melakukan panggilan ke seseorang.
“Tidak ada jawaban,” katanya.
“Nah, ini sudah ada, halo,” ujarnya begitu keras.
Dalam pembicaraan sambungan telepon itu, ia mengeluhkan apa yang dia rasakan. Tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya di rumah, begitu juga dengan kawan-kawan buruh lainnya. Katanya, pemerintah harus melihat apa yang terjadi sekarang ini, jika begini terus ekonomi tidak akan bergerak, apalagi keadaan masih pandemi seperti sekarang ini.
Banyak orang menduga, orang ia telpon itu ialah anggota dewan perwakilan rakyat kepercayaannya. Karena tak mungkin ia menelpon pihak pemerintah daerah.
“Harus diperhatikan kemari kita buruh ini kasiang,” ucapnya memeluh kasih.
Petugas loket memberitahukan kapal akan berangkat pukul 09.00, saya segera bergeser ke loket. Membeli tiket, dan langsung bergerak naik ke kapal. Saya yang harusnya naik kapal Wambura-mbura tujuan Pulau Papan, berpindah haluan naik ke kapal Belavista.
“Belavista saja pak, mereka pasti akan singgah di Pulau Papan,” jelas petugas loket.
Saya mengiyakan, segera mengambil barang dan naik ke atas kapal. Buruh yang marah-marah itu masih dengan posisinya. Saya meninggalkannya dengan telepon genggamnya. Suara kerasnya lambat laun menghilang dari telinga, berganti dengan suara mesin kapal yang bising.
Setelah naik, apa yang diprediksi oleh Anwar benar adanya. Kapal yang saya tumpangi ini banyak muatan, alhasil saya dan beberapa orang harus rela panas-panasan di dek kapal.
“Banyak muatan kapal, jadi bisa duduk di atas dek saja. Tapi mungkin akan panas, karena perjalanan ke Pulau Papan bisa sampai 4-5 jam lamanya,” kata seorang ABK kapal Belavista.
Tapi saya tidak sendirian di atas dek kapal, saya bertemu kembali dengan Anwar dan Ririk. Dua orang penumpang ini memanggil saya seperti seorang kerabat yang telah lama tak bertemu. Mereka menawarkan secuil tempat yang teduh untuk digunakan bersama.
Harga Tinggi
Bahasan Solar langka masih hangat di atas kapal, Anwar dan Ririk silih berganti membahas kejadian tersebut. Anwar yang juga seorang penjual BBM eceran di desanya merasa ada yang tidak beres. Menurutnya, stok solar pasti ada tapi mungkin ditahan, dan karena ditahan ini pasti akan membuat harga BBM naik, baik bensin, pertalite, dan juga solar.
“Sedang dengan harga biasa saja harga di pulau tetap naik, apalagi mulai susah didapatkan begini,” kata Anwar.
Kesulitan mendapatkan BBM ini juga menjadi keluhan semua orang di Togean, bukan saja orang-orang di pelabuhan tadi. Anwar menerangkan, misalnya dia mengambil BBM per galonnya dengan kapasitas 30-33 liter di tingkat pangkalan seharga Rp300.000, dan kemudian akan dijual kembali dengan harga yang berbeda di desa. Untuk ukuran bensin dan pertalite akan dihargai Rp 11 ribu – Rp12 ribu, sedangkan solar dengan harga Rp9 ribu sampai Rp10 ribu.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya harga jual BBM di desa kalau terjadi kelangkaan, kalaupun terjadi harga akan naik, dan orang-orang pasti akan berpikir dua kali juga membeli. Namun bagaimanapun, BBM sudah menjadi kebutuhan penting di kepulauan Togean, orang-orang akan mencari tapi tidak dengan jumlah yang banyak.
Senada dengan Anwar, Ririk menceritakan tentang pengalamannya membeli BBM. Keperluan BBM-nya hanya ia gunakan untuk mengantar para turis serta turun melaut. Tak ada perbedaan sama sekali soal harga yang dijelaskan oleh Anwar tadi.
Menurut Ririk, sebenarnya solar itu ada, tapi dijual dengan harga yang sangat tinggi. Karena berhubungan dengan bisnis jadi semua ada permainannya. Sebagai nelayan kita membutuhkan solar juga, bagaimana dengan kapal yang berangkat yang membutuhkan ratusan liter solar yang dipakai setiap kali melakukan perjalanan mengantar penumpang antar desa di dalam pulau? Kalau stok kosong, kapal tak akan berangkat dan perputaran ekonomi di desa juga tidak jalan.
“Solar itu ada. Harganya saja yang mahal. Biasanya yang hanya sekitar 5000-an di pertamina, pagi tadi saya informasinya naik jadi 10 ribu per liter. Makanya banyak kapal yang tidak berangkat karena harga tinggi itu, mereka juga pasti rugi,” ucap Ririk dengan suara yang kecil.
BBM Satu Harga
Anwar dan Ririk sebenarnya menginginkan ada keringanan penjualan harga di setiap desa. Tapi hal itu nihil, karena semua pengecer memasok BBM mereka dari setiap pengecer yang ada di kabupaten dengan harga berbeda. Mereka juga berharap ada penyesuaian harga antara harga yang di darat dan yang dijual di Perairan Togean. Impian dapat menjangkau harga yang lebih murah juga menjadi harapan masyarakat Togean selama ini.
“Kami hanya meminta pemerintah membuatkan semacam pangkalan BBM di sini, ditaruh saja di tempat yang bisa diakses oleh semua orang di Togean,” keluh mereka.
Anwar dan Ririk juga tak mengetahui adanya program BBM satu harga yang mulai diterapkan di wilayah Indonesia yang dikhususkan di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. Bahkan di Sulawesi sendiri, Togean termasuk mendapat program BBM Satu Harga tersebut, tapi sayang, Anwar dan Ririk belum mendapatkan dampak dari program tersebut.
“Kami bersyukur kalau sudah ada satu harga begitu, biar kita juga tidak susah mengakses BBM di sini. Kasiang juga kita, harus berjam-jam ke Ampana atau Wakai untuk membeli BBM di galon dengan harga yang lumayan.”
Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, La Ode Syarifuddin Mursali, mengatakan, memang polemik harga ditingkat pengecer juga meresahkan. Tapi, yang perlu diketahui bahwa pertamina tidak menaungi pengecer alias tidak ada ikatan kelembagaan di pertamina, makanya luput dari pengawasan pertamina itu sendiri.
Untuk menjawab permasalahan di wilayah kepulauan, khususnya di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal, sebenarnya pertamina telah meluncurkan program BBM satu harga sejak tahun 2017 silam. Program BBM satu harga ini merupakan penugasan pemerintah melalui kementerian ESDM.
“BBM satu harga program penugasan pemerintah, yang dikhususkan untuk wilayah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal) yang tersebar di Indonesia termasuk juga di wilayah Sulawesi,” ujar Laode saat dihubungi via telepon, Kamis (28/10).
Laode menjelaskan, untuk wilayah Sulawesi ada 26 titik lokasi BBM satu harga yang sudah dilakukan, di antaranya ada 6 titik di Sulawesi Utara, 4 Sulawesi Selatan, 11 di Sulawesi Tengah, 3 Sulawesi Tenggara, dan 2 di Gorontalo yang mulai beroperasi sejak Desember tahun 2017.
“Tujuan dari BBM satu harga ini untuk menyamakan harga jual BBM di SPBU yang ada di perkotaan dengan yang ada di wilayah 3T, artinya pertamina dan pemerintah ingin mendekatkan energi ke masyarakat melalui program BBM satu harga tersebut,” jelasnya.
Kata Laode, akses distribusi BBM ke wilayah Togean terbilang sulit karena berada di wilayah kepulauan. Namun, pertamina katanya tak berhenti di situ. Mereka mengeluarkan inovasi dengan membuat pertashop untuk menjawab permasalahan yang ada.
Perhatian pertamina untuk mendekatkan energi ke masyarakat melalui BBM satu harga telah dilaksanakan, dan selanjutnya adalah membangun pertashop, untuk memangkas harga tinggi di pengecer, dan tentunya harga di pertashop ini sama dengan harga yang ada di SPBU perkotaan.
“Pengecer bukan lembaga resmi pertamina, dan harga yang ada di pengecer bukan lagi wewenang dari pertamina. Lembaga resmi kami yang ada di tingkat kecil yakni pertashop. Lembaga resmi kita yang lebih memudahkan akses BBM di pelosok, dalam bentuk modular kecil yang bisa menampung dalam jumlah yang kecil. Pertashop di Sulteng sendiri sudah ada di 36 titik,” Laode menjelaskan.
Laode menambahkan, kalau BBM satu harga dan pertashop mulai dijalankan, dampak yang bisa dirasakan ialah dapat membantu masyarakat dan bisa mendekatkan kebutuhan energi dengan masyarakat. selain itu juga bisa menggerakkan ekonomi di suatu wilayah, apalagi Togean daerah yang terkenal dengan destinasi wisatanya.
“Pasti nelayan membutuhkan BBM untuk penggerak perahunya. Jika akses BBM sudah dekat, masyarakat terbantukan secara ekonomi dan kemudahan aksesnya yang tidak lagi sulit,” imbuhnya dalam via sambungan telepon.
Untuk wilayah Togean sendiri pusat BBM satu harga ada di Wakai, Tojo Una-una, yang sudah dimulai sejak bulan Desember tahun 2017. Harga penjualan BBM sebelumnya di Una-una berkisar antara Rp15.000 sampai dengan Rp20.000, dengan konsumsi BBM per bulan premium 75 kilo liter dan bio solar 15 kilo liter. Namun dengan hadirnya BBM satu harga diharapkan dapat menyamakan presisi harga jual BBM di Una-una.
“Pertamina melaksanakan penugasan pemerintah menjamin ketersediaan energi hingga ke pelosok tersulit, agar semua bisa menikmati kemerdekaan energi,” tambah Rama Suhut Sinaga, executive general manager PT. Pertamina Regional Sulawesi.**
Reporter: Zulkifli Mangkau











