Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Ini Dia 5 Tokoh Desa Inspiratif di Gorontalo Peraih SUMO Foundation Awards 2020

Dulohupa.id – Lima tokoh desa inspiratif di Gorontalo, meraih Suharso Monoarfa (SUMO) Foundation Award 2020. Penganugrahan bertajuk “Penghargaan Yayasan Suharso Monoarfa kepada Guru Pejuang dan Tokoh Desa” itu digelar di Ballroom TC Damhil, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Sabtu kemarin (15/8).

Sebetulnya, lima tokoh ini telah memberikan contoh dan bukti bahwa, pembangunan kualitas masyarakat cukup besar dipengaruhi oleh kualitas tokoh masyarakat di tingkat desa. Sehingga “orang desa”, dengan demikian, menjadi aktor kunci dan ujung tombak pembangunan.

Meski begitu, sejauh ini tidak banyak usaha yang telah dilakukan untuk memberikan penghargaan kepada para tokoh desa ini. Padahal, penghargaan sekecil apa pun dapat memotivasi mereka, untuk semakin produktif menciptakan karya nyata untuk masyarakat di sekitarnya. Sebab mereka dapat menjadi teladan yang patut ditiru.

“Penghargaan ini diberikan kepada para guru pejuang dan tokoh desa di Provinsi Gorontalo. Karena kesadaran kita pula betapa kualitas keterdidikan dan skill SDM di daerah ini masih minim dan membutuhkan peran lebih dari guru dan tokoh desa di daerah ini.” ungkap Suharso Monoarfa, Pembina SUMO Foundation, yang juga menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI.

Lalu siapa saja lima tokoh tersebut ? berikut profil singkat mereka yang berhasil dirangkum redaksi Dulohupa.id.

1. Bripka Suparno Hamzah

Seorang anggota polisi yang berinisiatif membangun masjid di desanya. Adapun hal itu ia lakukan berangkat dari keprihatinannya melihat lingkungannya yang terlanjur menjadi tempat judi dan maksiat.

Untuk memuluskan rencananya, Suparno yang bertugas di Polsek Bongomeme itu lantas mulai menyisihkan sebagian gajinya untuk membeli material bangunan. Tahun 2019, ia mulai mengerjakan pembangunan masjid secara bertahap. Warga pun tergerak untuk membantunya hingga masjid bambu tersebut terbangun.

Ikatan kebersamaan saat membangun masjid memberikan pengaruh kepada para warga yang dulunya sering melakukan kegiatan terlarang. Perlahan, mereka mulai meninggalkan kebiasaan berjudi dan maksiat dan lebih sering menghabiskan waktu untuk datang ke masjid. Di halaman masjid, Bripka Suparno juga membuat sebuah pondok tempat belajar mengaji. Bersama seorang rekannya, ia mengajarkan anak-anak yang berasal dari dua kecamatan di Kabupaten Gorontalo untuk belajar mengaji.

Hingga kini, ayah dari empat orang anak itu masih menyisihkan gajinya untuk menyempurnakan masjid yang dibangunnya terutama untuk melengkapi beberapa fasilitas masjid yang kurang. Bripka Suparno berharap apa yang dilakukannya bisa dipergunakan oleh masyarakat dan berdampak baik bagi kehidupan keagamaan di desanya.

 

2.Heriyanto Gobel & Mukmin Badu (Harry & Mimin Homestay)

 

Muda dan gigih, begitulah sosok Heriyanto Gobel yang dikenal warga Desa Timuato, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Sepintas tak ada yang istimewa dalam diri Hery Gobel. Tapi siapa sangka, pria yang sering disapa Ito ini mampu membawa Gorontalo dikenal di mancanegara melalui konsep pariwisata yang mengusung kearifan lokal.

Sejak tahun 2010, Hery bersama istrinya, Mukmin Badu atau Mimin merintis usaha homestay yang terletak di kelurahan Siendeng, Kota Gorontalo. Tidak mudah bagi mereka untuk mengenalkan Gorontalo ke mata dunia. Sejumlah rintangan harus dihadapi. Di tahun 2018, Harry dan Mimin tersandung masalah. Sejumlah warga di Kelurahan Siendeng, Kota Gorontalo menolak kehadiran para turis mancanegara yang tinggal di homestay. Teror demi teror menghantui usaha mereka.

Puncaknya, Harry di-hearing DPRD Kota Gorontalo dan memerintahkan usaha homestay-nya untuk ditutup. Hampir terpuruk karena dilanda kebingungan, Harry justru mendapat dukungan melalui gerakan solidaritas dari para turis mancanegara yang pernah datang ke Gorontalo. Mereka beramai-ramai menunjukkan empati melalui unggahan foto di media sosial agar dirinya terus berjuang dan bertahan dengan usahanya. Perlahan namun pasti, Harry dan istrinya mulai menata dan merintis lagi homestay mereka di lokasi baru di Desa Timuato, Kabupaten Gorontalo.

Beruntung, pemerintah setempat mendukung dan memberi izin untuk homestay mereka di lokasi itu. Mengapa banyak turis yang betah berlama-lama di homestay milik Hery dan Mimin? Karena sejak awal membuka homestay, Heri dan Mimin benar-benar memperkenalkan suasana lokal khas Gorontalo pada para turis.

Mereka memperkenalkan pangan lokal dan mengajarkan para turis untuk memasak sendiri makanan khas Gorontalo. Untuk memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar, mereka juga mewajibkan para turis untuk berbelanja di warung warga dan mengunakan alat transportasi lokal seperti bendi, bentor, bahkan mobil pickup. Konsep pariwisata yang dianggap mampu menciptakan kedekatan antara para turis dan Gorontalo.

Kedatangan turis dari berbagai negara juga dimanfaatkan oleh keduanya untuk membuat sekolah alam. Di sekolah itu, anak-anak desa Timuato di ajarkan Bahasa Inggris. Pengajarnya tidak lain adalah para turis yang menginap di homestay mereka.

 

3.Irwan Tangio

Irwan Tangio adalah pengusaha arang tempurung di Desa Tilihuwa, Kabupaten Gorontalo. Usaha itu dirintisnya sejak 2013 lalu. Berkatnya, ia berhasil memberdayakan puluhan pengangguran di wilayah itu, dengan menjadikan mereka sebagai karyawannya. Sesuatu yang ia niatkan sejak awal merintis usahanya.

Irwan masih mengingat jelas, betapa pedihnya ditolak bekerja hanya karena diremehkan karena kondisi fisiknya yang ‘mini’. Ia bahkan dicemooh tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Dengan pengalamannya itu, Iwan ‘mencambuk’ dirinya. Tekad kuatnya merintis usaha penyediaan arang tempurung lantas berbuah manis. Bermodal uang 350 ribu rupiah, ia mulai membuat arang tempurung dan menjualnya. Keuntungan yang didapat, dikumpulkan secara perlahan untuk mengembangkan usahanya.

Jatuh bangun selama merintis usahapun telah dirinya lalui. Dari hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun, Irwan memberanikan diri merekrut karyawan. Ia memprioritaskan untuk memberdayakan para warga sekitar yang tidak memiliki atau kehilangan pekerjaan untuk bekerja dengannya. Saat ini jumlah karyawannya mencapai hampir 50 orang

4.Husain Wadipulu alias Opa Sadam

Menambal jalan berlubang adalah pekerjaannya selama bertahun-tahun, dengan biaya pribadi. Bermodalkan pasir, semen, dan peralatan seadanya, ia memperbaiki jalan rusak. Pekerjaan yang lantas membikin ia dijuluki sebagai Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Swasta.

Sebelum menjadi penambal jalan, Opa Sadam adalah seorang petani kebun. Namun kebun miliknya rusak setelah diterjang air sungai beberapa tahun lalu. Kebun itu telah berubah menjadi jalur sungai. Berhenti jadi petani karena tak lagi memiliki lahan garapan, Opa Sadam lantas beralih menjadi pemanjat kelapa. Lagi-lagi, nasib kurang beruntung dialaminya. Ia terjatuh dari pohon kelapa sehingga harus menjalani perawatan.

Kehilangan mata pencaharian dan kemampuan untuk bekerja berat itu, membuat Opa Sadam sehari-hari dibiayai oleh seorang putrinya. Suatu ketika, Opa Sadam melihat kecelakaan kendaraan bermotor akibat terperosok ke dalam lubang jalan. kejadian tersebut membuat Opa Sadam prihatin.Dengan kondisi fisiknya yang mulai sembuh, ia lantas berinisiatif untuk mulai mengabdikan diri dengan menambal jalan yang berlubang.

Pernah satu ketika, Opa Sadam ditegur oleh orang yang mengaku dari Dinas PU. Ia diminta untuk menghentikan pekerjaannya menambal jalan rusak. Namun Opa Sadam menolak permintaan itu selama ia menemukan masih ada jalan berlubang.

Ketulusan Opa Sadam mengundang empati pengendara yang melintas. Mereka menitipkan uang untuknya. Uang itu selalu dipergunakan untuk membeli semen dan pasir. Opa sadam tidak tahu sampai kapan menambal jalan itu akan tetap dilakukan. Ia hanya menjawab pekerjaan itu akan tetap dilakukan hingga tak ada lagi jalan di desanya yang berlubang.

 

5.Bunairi

Ia adalah warga yang pertama kali membuat konsep pertanian terasering di dusun SP3, Wonosari, Boalemo. Setelah tiga tahun berada di Gorontalo, pria ramah dan sederhana ini kini menjadi sosok panutan bagi warga di Kabupaten Boalemo karena konsep pertanian teraseringnya itu.

Konsep pertanian terasering ramah lingkungan yang dibuat di lahannya mulai banyak diikuti oleh petani lainnya. Terasering sendiri merupakan suatu pola atau teknik bercocok tanam di pegunungan dengan sistem bertingkat sebagai upaya pencegahan erosi tanah.

Keberhasilan terasering yang digagas Bunairi diikuti oleh para petani lain. Ia bahkan sering diundang oleh kelompok tani yang ada di kecamatan-kecamatan lainnya untuk memberikan materi tentang terasering. Bunairi juga memilih untuk hidup berdamai dengan hewan liar yang merusak lahan pertanianya. Ia sengaja menanam buah-buahan di lahannya agar bisa dimakan hewan liar tersebut. Tujuannya agar hewan liar tidak merusak tanaman utama pertaniannya.

Pilihan menjadi seorang petani transmigran di Gorontalo membuat Bunairi harus berpisah dengan keluarganya. Salah seorang anaknya memilih pulang ke pulau Jawa karena tidak tahan dengan kondisi serba sulit sebagai transmigran.

Bunairi bergeming. Ia ingin membuktikan keputusannya menjadi transmigran adalah pilihan tepat. Meski jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan keluarganya di Jawa. **(MG)