Dulohupa.id – Bunaeri, seorang petani transmigran asal Temanggung, Jawa Tengah menjadi sosok inspiratif di Desa Sari Tani, Kabupaten Boalemo, Gorontalo sejak kedatangannya pada tahun 2016.
Dengan pengalaman bercocok tanam yang diperoleh dari daerah asalnya, Bunaeri membawa pengetahuan dan praktik pertanian yang beragam serta semangat untuk meningkatkan kesejahteraan di daerah barunya.
Di tengah tantangan pertanian modern, Bunaeri menerapkan pendekatan inovatif yang mengedepankan keberagaman tanaman dan pemahaman pasar, menjadikannya teladan bagi petani lainnya di sekitarnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada proses menanam, tetapi juga pada pemahaman pasar dan diversifikasi tanaman.
” Kami tidak hanya menanam satu komoditas, karena kegagalan bisa terjadi. Dengan menanam berbagai jenis tanaman, kita dapat meminimalisir risiko tersebut.” Ujar Bunaeri.
Bunaeri juga menjelaskan pentingnya menanam tanaman musiman yang cepat panen, seperti mentimun yang dapat dipanen dalam 35 hari, serta kacang panjang dan kacang boncis dalam waktu 45 hari. Selain itu, ia juga menanam tanaman tahunan seperti ubi jalar dan kacang tanah untuk memastikan ketahanan jangka panjang.
Sistem tumpang sari yang diterapkannya, yaitu menanam berbagai jenis tanaman di lahan yang sama, terbukti efektif.
“Ini membantu kami tetap produktif meskipun salah satu tanaman gagal. Misalnya, jika jagung gagal, masih ada sayuran lain yang bisa dipanen,” jelasnya.
Meskipun lahan yang diberikan pemerintah seluas 2 hektar, Bunaeri mengakui bahwa efektivitas kerja lebih penting daripada ukuran lahan.
“Kami lebih memilih untuk bekerja di lahan yang lebih kecil dengan produktivitas tinggi daripada lahan luas tetapi hasilnya rendah,” tambahnya.
Prioritas utama Pak Bunaeri dalam usaha pertanian adalah memenuhi kebutuhan pribadi sebelum menjual kelebihan hasil panennya. “Jika ada lebihnya, kami bagikan kepada tetangga, dan jika masih ada, baru kami jual,” katanya.
Sebagai bagian dari komunitas pertanian, Pak Bunaeri aktif terlibat dalam kelompok yang bertemu setiap bulan untuk berdiskusi tentang cara bertahan menghadapi tantangan ekonomi. Ia percaya bahwa memahami situasi pasar adalah kunci untuk menghindari kegagalan.
Bunaeri juga telah berpartisipasi dalam berbagai event pertanian di tingkat kota, kecamatan, dan kabupaten, termasuk festival Hirameya yang bertujuan mempromosikan metode bercocok tanam yang lebih bijak dan ramah lingkungan.
“Kami membawa nama wilayah dan berkomitmen untuk saling membantu dalam kelompok kami,” tambah Bunaeri.
Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, Bunaeri menjadi contoh nyata bagaimana petani transmigran dapat beradaptasi dan sukses di lingkungan baru. Keberhasilan terasering yang digagasnya diikuti oleh para petani lain, dan ia sering diundang oleh kelompok tani di kecamatan lain untuk memberikan materi tentang terasering.
Bunaeri juga memilih untuk berdamai dengan hewan liar yang merusak lahan pertaniannya dengan menanam buah-buahan agar dapat dimakan oleh hewan tersebut, sehingga tanaman utama tetap terjaga.
Pilihan menjadi petani transmigran di Gorontalo membuatnya harus berpisah dengan keluarganya, di mana salah satu anaknya memilih kembali ke Pulau Jawa karena tidak tahan dengan kondisi sulit sebagai transmigran.
Sebagai warga yang pertama kali membuat konsep pertanian terasering di Dusun SP3, Wonosari, Boalemo, pria ramah ini kini menjadi panutan bagi warga setempat berkat inovasi pertaniannya.
Reporter: Maya












