Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMKAB POHUWATOPOHUWATO

Festival Meraji yang Digelar di Paguat Pertama dalam Sejarah Pohuwato

×

Festival Meraji yang Digelar di Paguat Pertama dalam Sejarah Pohuwato

Sebarkan artikel ini
Festival Meraji
Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga saat membuka festival Budaya Religi Meraji tingkat Kecamatan Paguat. Foto : Hendrik Gani/Dulohupa

Dulohupa.id – Festival Budaya Religi Meraji (Isra Miraj) 1444 H Tahun 2023 tingkat Kecamatan Paguat disebut pertama dalam sejarah Kabupaten Pohuwato.

Hal itu disampaikan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga saat membuka festival budaya Meraji tingkat desa/kelurahan di Kecamatan Paguat, yang turut dihadiri Anggota DPRD Pohuwato, Otan Mamu, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Sri Masri Sumuri, Ketua TP.PKK Pohuwato, Selvi Mbuinga Monoarfa, di pelataran Masjid Baiturrahman Kecamatan Paguat, Selasa (14/2/2023) malam.

Menurut Saipul Mbuinga sejarah terbentuknya Kabupaten Pohuwato baru kali ini ada ide dan gagasan oleh pemerintah Kecamatan Paguat yang berinisiatif menggelar festival Meraji.

“Atas nama jajaran pemerintah daerah dan juga selaku pribadi, saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas ide dan gagasan terkait pelaksanaan kegiatan ini,” ungkapnya.

Dengan melihat pentingnya kegiatan tersebut, Bupati Saipul menjelaskan, untuk tahun depan akan dilaksanakan festival budaya Meraji tingkat Kabupaten Pohuwato dengan hadiah umroh bagi juara 1, 2 dan 3.

“Ya, insyaallah tahun depan kita laksanakan festival yang sama untuk tingkat kabupaten dengan hadian bagi juara 1, juara 2 dan juara 3 umroh ke tanah suci Makkah,” ucap Saipul.

Menurutnya, meraji adalah unsur kebudayaan Gorontalo yang mengandung nilai sastra yang bernafaskan islam. Pembacaannya mengandung unsur seni berupa irama yang khas yang tidak semua orang mengusai dan mampu membacanya. Masyarakat gorontalo adalah masyarakat yang terkenal memegang teguh adat istiadat yang berlandaskan islam, keterkaitan antara adat, budaya dan agama bagi masyarakat Gorontalo sangatlah erat dalam tata prilaku dan kehidupan masyarakat secara luas.

Maka kegiatan ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga saat ini tetap terpelihara dan dilestarikan ditengah-tengah masyarakat. Sehingga wajib bagi kita sebagai penerus untuk terus melestarikan nya. Namun fenomena yang kita rasakan dan jumpai di tengah-tengah masyarakat bahwa pembaca Meraji ini semakin langka yang tersisa hanyalah beberapa orang yang umumnya usianya sudah senja. Sementara kalangan muda banyak yang tidak lagi tertarik mempelajari seni membaca Meraji.

“Maka dengan dilaksanakannya festival Meraji diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang berbakat dan bertalenta dalam hal penguasaan seni membaca Meraji sebagai ragam sastra tradisional masyarakat Gorontalo sebagaimana telah menjadi harapan dan tujuan dari panitia penyelenggara,” imbuhnya.

Sebelumnya Camat Paguat, Ikbal Mbuinga melaporkan, festival Budaya Religi Meraji Hulondalo oleh pemerintah kecamatan bekerjasama dengan takmirul masjid Baiturrahman Paguat dengan peserta utusan dari desa/kelurahan yang setiap desa/kelurahan mengutus minimal dua orang peserta dan maksimal empat orang peserta. Yang mendaftar saat ini sudah ada 15 orang peserta, dengan pelaksanaan kegiatan selama empat hari dari tanggal 14 sampai 17 Februari 2023. Kegiatan diawali dengan pengukuhan dewan hakim oleh Camat Paguat, Ikbal Mbuinga.

Reporter: Hendrik Gani