Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
AdvertorialINFO COVID-19PEMPROV GORONTALOPERISTIWA

Curhat Nakes Covid-19: Bantu Kami Agar Tak Terjebak di Sini Selamanya

×

Curhat Nakes Covid-19: Bantu Kami Agar Tak Terjebak di Sini Selamanya

Sebarkan artikel ini
Seorang nakes yang bertugas di mobil PCR/Wawan Akuba

Dulohupa.id- Sudah hampir dua tahun SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 mewabah di Gorontalo. Selama itu pula, tenaga kesehatan bergelut dengan pasien di rumah sakit. Virus yang mudah berpindah inang ini pun, memaksa mereka untuk tidak berhubungan dengan keluarga. 

Inal, pria 28 tahun itu tengah berada di rumah asrama siang itu, Kamis 17 September 2021. Kebetulan, ia libur sehari karena ada pergantian shift jaga. Karena itu pula, ia pun memiliki waktu lebih untuk bercerita kepada dulohupa.id tentang kondisinya. 

Meski via telepon, Inal rupanya sangat bersemangat. “Sudah lama tak bercerita tentang kondisi di sini (rumah sakit dan rumah asrama),” ungkapnya dengan tertawa di ujung telepon. 

Melalui telepon, terdengar sejumlah barang memasak berdenting. Saat itu, rupanya ia sedang menanak nasi, makanan untuknya siang itu. Sambil melakukan itu, ia pun bercerita, bahwa tidak mudah untuk ia dan kawan-kawannya bertahan di asrama. 

Sebagai nakes perawat pasien Covid-19, ia mengaku memang mengisolasi diri dari kehidupan sosialnya. Di umurnya yang masih muda, harusnya ia saat ini berada di cafe dan menonton bola bersama kawan-kawannya. 

“Namun semua itu tidak bisa saya lakukan, terlebih ketika saya harus berurusan dengan virus sensi (sensitif/mudah menular) ini,” katanya. 

Inal adalah nakes di salah satu rumah sakit yang ditunjuk khusus menangani pasien Covid-19 di Gorontalo. Sudah setahun ini dia menjadi nakes, meski beberapa kali mengundurkan diri. Namun sudah lima bulan ini ia bergabung kembali dengan nakes yang menangani pasien Covid-19.

“Ya, awalnya 2020, tapi saya mundur, rasanya tak kuat. Lalu mendekati pertengahan 2021, masuk lagi,” ungkapnya. 

Selama kurang lebih empat bulan ini menjadi nakes khusus merawat pasien Covid-19, Inal mengaku dibutuhkan memang keikhlasan. Sebab jika terpaksa, maka akan sulit. Apalagi, menjadi perawat Covid-9 dibutuhkan kehati-hatian. 

Karena itu, sudah tiga bulan ini ia memang tak pulang rumah. Mengingat, di rumah ada tiga orang lansia. Ia hanya tak ingin, membawa virus untuk orang-orang yang ia sayang tersebut. 

“Di rumah ada dua kakek saya, trus ada nenek. Ketiganya memang sudah lansia, berusia di atas 60 tahun. Kalau saya pulang, saya takut mereka yang jadi korban,” ungkapnya. 

Selama di Asrama, Inal mengaku rindu dengan masakan rumah. Tak heran, agar tak merepotkan, ia seminggu sekali minta dikirimkan masakan rumah. Selain itu, ia pun hampir setiap hari menelpon. Biasanya menjelang tidur. 

“Tapi apakah perjuangan kami ini akan terus seperti ini dan tak akan berhenti?” keluh Inal. 

Bukannya tanpa alasan, ia melihat memang ada terjadi pengurangan jumlah pasien dan bad occupation rate (BOR) di rumah sakit. Namun, angka ini setiap saat  bertambah. Makanya, Covid-19 ini rasanya hanya angkanya yang berubah, namun tak ada kejelasan kapan selesai. 

“Dan ini memang peran masyarakat. Bantu kami agar tak berada di sini selamanya,” pinta Inal, sedih. 

Pria asal Kabupaten Gorontalo ini pun mengaku, sudah kerap menyaksikan kematian pasien Covid-19. Terutama di 2020 saat pasien membludak. Ia sudah menyaksikan bagaimana seorang ibu harus menangis melepas kematian anaknya dengan prosesi pemulasaraan Covid-19.

Ia juga sudah menyaksikan pula bagaimana seorang anak menangis ingin memeluk ayahnya untuk terkhir kali, namun terhalang oleh prosesi pemulasaraan Covid-19 tersebut. 

“Karena itu, lengkap sudah apa yang kami alami di sini. Kami menyaksikan berbagai penderitaan dan kesedihan, dan kami pun sedih jika pandemi ini tak selesai,”.

Karena itu, butuh kerja sama pemerintah dan warga untuk memutus ini. Atau kalau memang ingin berdamai dengan pandemi ini, maka ayo kita vaksin. 

“Kami (nakes) tak ingin di sini selamanya. Bantu kami agar selesai ini pandemi dengan vaksin saja lah. Tak ada solusi lain selain itu,” pesan Inal sebelum ia menutup telepon karena harus segera memasuki waktu pergantian jaga. 

Gorontalo sendiri sejak Mei 2020 hingga September ini, sudah tercatat 11.730 warga terpapar penyakit Covid-19. Dari jumlah tersebut, 145 orang masih dirawat, 11.127 orang sembuh, serta 453 meninggal dunia.