Dulohupa.id – Upaya mewujudkan layanan yang inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya penyandang tuna rungu, semakin diperkuat melalui kegiatan sosialisasi bahasa isyarat yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo bekerja sama dengan Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor P3A Provinsi Gorontalo, Kamis (13/11/2025).
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty untuk mengenalkan dan memperluas penggunaan bahasa isyarat di sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, lembaga swasta, hingga ruang publik. Bentuk kegiatannya mencakup penyebaran poster dan banner edukasi bahasa isyarat yang bertujuan meningkatkan aksesibilitas komunikasi bagi penyandang disabilitas pendengaran.
Ketua Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty, Ellen Podungge, yang juga merupakan Pendiri Gerkatin Gorontalo, menegaskan bahwa penguatan penggunaan bahasa isyarat merupakan amanat hukum.
“Ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terutama Pasal 21 yang menegaskan hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan aksesibilitas komunikasi, termasuk melalui bahasa isyarat,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, materi disampaikan oleh dua narasumber: Delira Suci Amalia Sahi, Juru Bahasa Isyarat (JBI) Tuli, serta Ainun Utina, JBI Dengar.
Kepala Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, dr. Yana Suleman, SH, M.H, M.K, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menghadirkan layanan yang inklusif.
“Ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ini langkah konkret memastikan layanan perlindungan perempuan dan anak dapat diakses seluruh kelompok, termasuk teman-teman tuli,” katanya.
Ia menambahkan bahwa komitmen tersebut didukung regulasi seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2019 tentang penghormatan serta pemenuhan hak penyandang disabilitas.
” Saya bersama seluruh staf DPPA turut mempelajari dan mempraktikkan bahasa isyarat. Kami ingin memastikan frontliner kami mampu memberikan pelayanan awal yang komunikatif bagi perempuan dan anak penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan,” lanjutnya.
dr. Yana juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Tunarungu Hellen Wimberty atas kontribusi dan pelatihan yang diberikan. Ke depan, Dinas PPPA berencana menjadikan pelatihan ini sebagai agenda rutin dalam peningkatan kapasitas aparatur.
“Melalui pembelajaran hari ini, kami berharap terwujud layanan PPPA yang lebih empatik, inklusif, bebas hambatan, dan mampu menjangkau seluruh kelompok rentan. Kami berpegang pada prinsip no one left behind,” tegasnya.












