Untuk Indonesia

Cerita Pelaku UMKM: Bertahan Saat Pandemi Hingga Berbagi Kisah dengan Warga Desa Uwedikan

Dulohupa.id– Nuridja AP (49) terlihat bersemangat sekali pagi itu. Masih pagi buta ia sudah berkunjung ke rumah-rumah tetangganya, mengajak mereka untuk ikut dalam pelatihan penguatan kelompok perempuan desa Uwedikan, Luwuk Timur, Banggai, Sulteng, yang akan dilakukan pagi hari ini (10/10). Pemberdayaan dan peningkatan kepada kelompok perempuan ini diselenggarakan oleh Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) yang bekerjasama dengan tim Komunitas Segala Sagela (KSS) berasal dari Gorontalo.

Japesda sendiri sebuah lembaga masyarakat atau NGO (non-government organization) yang fokus bergerak terhadap isu konservasi, lingkungan, pemberdayaan kelompok perempuan, hak asasi manusia, dan pendidikan kepada anak-anak. Desa Uwedikan sendiri menjadi salah satu dari sekian desa dampingan Japesda.

Setelah berkunjung dari rumah ke rumah, Nuridja bergegas balik. Menyiapkan sarapan bagi anak dan suaminya. Selepas semua selesai, ia bersiap diri, berdandan, lalu kembali mengunjungi tetangganya. 

Nuridja mengambil tempat duduk paling depan, disusul beberapa ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok perempuan Desa Uwedikan. Mereka yang tergabung dalam kelompok perempuan ini ialah mayoritas suaminya adalah nelayan, yang sehari-hari menggantungkan penghidupan mereka dari hasil laut; ikan, gurita, dan teripang.

Ia bersyukur ada pelatihan semacam ini yang ia ikuti. Karena sebelumnya, dia dan beberapa perempuan lainnya selalu tak mendapat kesempatan belajar dalam mengolah hasil laut tangkapan suami mereka, apalagi saat harga anjlok di pasaran, mereka tak tahu harus diapakan hasil tangkapan tersebut.

“Bersyukur sekali ada pelatihan ini dan mau diajak terlibat, karena kita bisa belajar membuat olahan makanan dari hasil laut. Selama ini kita tidak pernah dikasih pelatihan begini,” ujar Nuridja, saat diminta memaparkan kesannya saat ikut kegiatan pelatihan tersebut.

Mendengar paparan Nuridja itu, Warda (35) dan beberapa temannya sedikit kaget saat mau memulai pelatihan saat itu, padahal, jika mereka tahu cara mengolahnya, mereka bisa mandiri dan merdeka atas kekayaan alamnya, tapi memang perlu pengetahuan dan informasi awal untuk membangun semangat ibu-ibu rumah tangga.

Warda sendiri dan beberapa temannya tergabung dalam sebuah komunitas yang mereka namai Komunitas Segala Sagela (KSS), yang fokus bergerak pada UKM lokal di Gorontalo dan merangkul semua pelaku usaha kecil menengah masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, agar lebih terorganisir dan bisa saling membantu dalam memasarkan produk jualan mereka. 

UMKM Bertahan di Tengah Pandemi

Warda beserta timnya mulai mempersiapkan semua kebutuhan, dari perlengkapan hingga peralatan yang dibutuhkan. Mereka tampak sibuk menyiapkan bahan yang akan mereka pakai. Pada kesempatan kali ini, ikan dan gurita menjadi produk olahan mereka bersama ibu-ibu rumah tangga di Uwedikan. Ikan akan mereka olah menjadi abon ikan asin, sedangkan gurita akan diolah menjadi nugget dan bakso. Ia percaya, melalui pelatihan inilah, ibu-ibu rumah tangga ini dapat membantu roda perekonomian keluarga di rumah.

Tangan-tangan mereka mulai cekatan, rempah-rempah mulai dipotong rapi, daging gurita serta ikan juga mulai dikerjakan. Warda membagi tim menjadi beberapa kelompok, dan semuanya dapat tugas; ada yang membersihkan ikan, gurita, dan menyiapkan bumbu-bumbunya.

Hasil olahan nuget gurita dan abin ikan asin oleh kelompok perempuan desa Uwedikan. Foto/Andri Arnold
Hasil olahan nuget gurita dan abin ikan asin oleh kelompok perempuan desa Uwedikan. Foto/Andri Arnold

 

“Harus dibagi menjadi tiga kelompok biar cepat kerjaannya, ini juga melatih kekompakan tim, atau yang kita biasa sebut membangun tim work,” ujar Warda, pemateri sekaligus pelaku UKM dari KSS, Minggu (10/10/2021).

Menurut Warda, pada pengolahan kali ini, mereka memakai bahan yang memang sudah tersedia dan sering kali ditangkap oleh nelayan atau suami mereka. Misalnya ikan dan gurita yang sehari-hari mereka tangkap. 

Melihat akses yang jauh, juga mempengaruhi harga jual dari hasil tangkapan nelayan. Makanya, lanjut Warda, solusi untuk menambah pendapatan yakni ibu-ibu rumah tangga digerakkan dan diberikan edukasi mengenai pengolahan hasil tangkapan para suami mereka. Agar mereka juga berperan dalam menjalankan roda perekonomian keluarga.

“ibu-ibu harus ambil peran, jangan jadi penonton saja. Membantu ekonomi keluarga itu hak ibu –ibu juga,” ungkapnya.

Sembari menjalankan praktik, Warda mulai menceritakan kepada peserta bagaimana susah payahnya membangun usaha, hingga bertahan sampai dengan saat ini. Apalagi saat pandemi datang, katanya, ia terkapar setengah mati menjalankan usahanya. Bahkan teman-teman Warda yang tergabung dalam KSS juga merasakan dampak yang sama. Pandemi mengubah pola pendapatan mereka, hingga pemasukan dari penjualan produk nihil hasilnya, tapi, mereka mencoba bertahan tanpa harus gulung tikar.

“Tapi pas korona ada yang berhenti menjual, bu?” tanya Nuridja.

“Sempat mau berhenti, tapi tidak sampai ke situ, saya cari caranya untuk tetap berkegiatan menjual produk dari olahan UKM saya,” jawab Warda.

Kata Warda, saat masa-masa pandemi ia rugi hingga puluhan juta, karena pembatasan aktivitas mempengaruhi juga pembelian produknya. Apalagi metode penjualan yang ia gunakan terbilang tidak mengikut perkembangan teknologi; masih menggunakan cara lama, menjual produk dengan cara door to door; dari rumah ke rumah. 

Pada awalnya, cara itu ampuh menurutnya. Ia bahkan bisa menyuplai ke semua gerai dan toko hingga kios kecil. Pola itu bertahan tidak lama, saat pandemi datang semua ambyar. Pola penjualan seperti itu dianggap sulit olehnya. Maka dari itu, Warda merasakan dampak pandemi yang memutus aktivitasnya hingga perekonomian semua orang. Ia termenung meratapi pandemi yang belum juga berakhir, ia kalang kabut bahkan berniat mau berhenti menjual hasil produknya, akibat pesanan menurun, dan desakan kebutuhan keluarga yang ia pikul.

“Saya seorang single parent bu, saya ibu sekaligus bapak dari anak-anak saya, makanya saya harus berjuang setengah mati saat awal pandemi masuk di Gorontalo.”

Namun, Warda bukanlah orang yang cepat kalah dengan keadaan, semangatnya tetap menyala meskipun kondisi yang tidak memungkinkan beranjak. Ia harus memutar otak, berpikir keras, mencari jalan keluarnya sendiri dari masalah yang dihadapi. Beruntunglah dia mengenal sosial media seperti Facebook, Instagram, dan Whatsapp. Berkat ketiga aplikasi tersebut, ia mulai bertarung kembali menjajakan produknya.

“Situasi korona ini sulit bagi kita pelaku UKM memasarkan produk jualan, untung saya mengikuti saran teman, mulai menjual produk olahan melalui media sosial,” terangnya.

“Jadi kalau mau beli produk saya bisa langsung ke instagram toko kita (Dory Kitchen Bidori) di situ langsung diarahkan ke nomor wa saya. Lebih memudahkan lagi konsumen membeli produk.”

Nuridja yang terlihat semangat sekali mengikuti kelas tersebut, ia memperhatikan dengan detail bagaimana cara Warda mengolah daging gurita yang akan dibuat menjadi nugget dan bakso gurita khas Uwedikan.

“Bakso gurita di Uwedikan belum ada, bahkan mungkin di Luwuk. Makanya saya buat dua olahan ini, bakso dan nugget,” jelas Warda ke peserta.

Menurutnya, jualan di desa bisa mengandalkan metode jualannya ke rumah-rumah, tapi, dengan perkembangan teknologi komunikasi seperti sekarang ini, harus cepat beradaptasi. Tidak boleh tutup mata, pemasaran produk secara digital merupakan hal yang vital yang harus dilaksanakan oleh pelaku UKM seperti saya, dan Ibu-ibu kelompok perempuan Desa Uwedikan yang mau tergerak semangatnya membangun UKM di Desanya dengan mengandalkan potensi sumber daya alam yang ada.

“saya harus jujur, dengan mulai menjual semua produk secara digital atau online, penjualan saya mulai membaik. Saya posting terus di FB dan IG, terus saya juga mengajak kaum milenial yang melek digital untuk terlibat dalam pemasaran produk saya,” katanya.

Satu-satunya nyawa para pelaku UKM sekarang adalah media sosial dan internet, mereka membantu kami dengan nyata memasarkan produk. Apalagi di tengah pandemi sekarang ini, lebih banyak orang yang suka belanja lewat online karena takut tertular virus covid-19 yang belum juga selesai.

“Ibu-ibu di sini harus mau menjadi pelaku UKM, kami siap bantu support di penjualan, juga ajak anak-anak muda di sini untuk memasarkan produk hasil olahan desa ini ke media sosial, pasti laku itu. Apalagi peluang yang buat olahan dari gurita belum ada.”

Senada dengan Warda, Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Ichsan Gorontalo, Cahyadi Saputra Akase menuturkan, bahwa pola penjualan produk hari ini harus memanfaatkan teknologi yang ada. Seperti halnya teknologi komunikasi yang sudah kita kenal semisal FB,IG, dan WA; yang sehari-harinya kita jumpai melalui gadget.

Kata Dosen Muda tersebut, pelaku UKM memang harus mengambil sektor penjualan digital, karena peluang penjualannya lebih baik dibandingkan metode penjualan terdahulu. Bahkan katanya, teknologi komunikasi inni sudah lama ada, bahkan sejak internet mulai merambah, di situ peluang pemasaran digital terbuka, tapi, orang-orang atau pelaku UKM belum melirik. 

Nanti pada saat pandemi, penjualan mulai memanfaatkan teknologi komunikasi. Siaran langsung di FB mulai menjamur; hanya untuk memasarkan produk mereka. Tren pembelian online juga mulai meningkat, baik dari penjualan makanan, pakaian, dan bahan kebutuhan rumah tangga lainnya.

“Semua serba digital sekarang, penjualan produk UKM harus melangkah ke situ, harus menjemput bola. Peluang pemasaran digital itu sudah lama ada, namun, belum banyak yang melirik. Orang-orang baru tersadarkan ketika pandemi mengubah semua pola kehidupan, dari rapat, seminar, bahkan pembelajaran dilakukan secara digital atau online, dan harusnya itu juga dilakukan oleh para pelaku UKM,” ujar Cahyadi, dosen ilmu komunikasi, Universitas Ichsan Gorontalo, saat diwawancarai via telpon belum lama ini.

Direktur Japesda, Nurain Lapolo mengungkapkan, tujuan dari pelatihan ini untuk membangun kesadaran kelompok perempuan di Desa Uwedikan agar berdaya atas sumber daya alamnya, khususnya hasil laut.

“Pelatihan hari ini sebagai bentuk penguatan kepada kelompok perempuan di Desa Uwedikan agar dapat memanfaatkan sumber daya alamnya agar bisa dijadikan peluang membuat usaha, agar perempuan juga berperan dalam menopang perekonomian keluarga bukan hanya bertumpuk pada suami,” ujar Nurain Lapolo, Direktur Japesda Gorontalo, saat memberikan sambutan pada kegiatan tersebut, Minggu (10/10/2021).

Menurut Ain, sapaan akrabnya, model pelatihan seperti ini sudah sering dilakukan oleh Japesda, dalam hal ini membangun kesadaran bagi masyarakat apalagi bagi kelompok perempuan di desa agar bisa berdaya dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Apalagi posisi desa Uwedikan terletak di daerah pesisir dan memiliki SDA lautnya yang melimpah, dalam hal ini ikan dan gurita, juga hasil tangkapan nelayan lainnya seperti teripang. 

Kelompok perempuan desa Uwedikan ini juga akan dilatih bagaimana menggunakan teknologi komunikasi dalam memasarkan hasil produk mereka, tentunya melalui pendampingan secara intens dari pihak Japesda. Maka dari itu, kata Ain, pelatihan ini sebagai kunci untuk memberikan edukasi dan berbagi informasi ke kelompok perempuan untuk dapat memanfaatkan potensi laut Desa Uwedikan yang bernilai ekonomis dan memanfaatkan perkembangan zaman sebagai metode baru memasarkan produk.

“Melalui pelatihan ini diharapkan warga desa, khususnya kelompok perempuan desa Uwedikan bisa mendapatkan manfaatkan dari pelatihan ini. Dan tercipta sebuah kelompok UKM yang berangkat dari semangat dan mau berkembang. Apalagi saat harga ikan atau gurita yang menjadi primadona tangkapan nelayan di Uwedikan menurun harga jualnya, kelompok perempuan ini bisa melakukan inovasi melalui olahan makanan, dan dijual kembali, tentunya penjualannya akan kita dorong secara digital,” tuturnya.

Kata Nurain, kelompok perempuan atau ibu rumah tangga kerap mendapat stigma dengan mengampu tugasnya menjaga anak dan mengurus rumah tangga saja. Pekerjaan domestik dalam rumah menjadi tugas utama perempuan dan kerap kali tak mendapat kesempatan untuk berbagi peran dengan laki-laki dalam menyediakan ruang menopang perekonomian keluarga. 

Sehingga, kesenjangan antara laki-laki (suami) dan perempuan (istri) bisa setara dalam menjalankan roda rumah tangga jika perempuan diberi kesempatan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tak ada yang punya peran lebih tinggi dalam membantu perekonomian, semua mendapatkan kesempatan yang sama. Maka dari itu, katanya, perempuan harus berdaya atas sumber daya alamnya dan membantu perekonomian keluarga dengan model usaha kecil-kecilan seperti yang sementara digagas oleh Japesda di Desa Uwedikan.

Reporter: Zulkifli Mangkau

Comments are closed.