Scroll Untuk Lanjut Membaca
Feature

Puasa yang “Mestinya” Tidak Boleh Jalan-Jalan

×

Puasa yang “Mestinya” Tidak Boleh Jalan-Jalan

Sebarkan artikel ini
Ramadan
Foto: Pixabay (https://pixabay.com/id/photos/arab-muslim-islam-tradisional-1177904/)

Dari semenjak menjelang bulan suci ramadan mulai bertebaran berbagai ungkapan yang pada dasarnya merupakan ekspresi penuh kegembiraan serta bertujuan merayakan dengan suka cita kedatangan waktu sebulan penuh untuk beribadah dengan maksimal.

Namun, dari sekian banyak ungkapan yang bertebaran itu, ada salah satu yang terlihat tidak bermasalah dan dianggap lumrah, akan tetapi sesungguhnya menyimpan misteri setidak-tidaknya bagi saya, yaitu, selamat menjalankan ibadah puasa

Sebuah klausa yang akan menjadi runyam bermisteri jika penautan logis diantara kata dan kata di dalamnya diurai dengan saksama, sebagai perbandingan mari kita andaikan ada seseorang yang membuat sebuah kalimat yang berbunyi: “Pak Sastro melempari batu ke arah pencuri”, apa yang hendak disampaikan oleh si pembuat lewat kalimat itu dalam bayangan saya pencurinya tidak akan lari ketakutan karena yang dilempar oleh Pak Sastro adalah batu, entah memakai apa, dan bukan pencurinya

Secara konseptal objek pada kerja berakhiran “kan” mestinya terlihat bergerak, dan objek pada kata kerja berakhiran “i” diam bergeming, jadi kalimat pada contoh yang memakai Pak Sastro akan bermakna bila menjadi: “Pak Sastro melemparkan batu ke arah pencuri”, atau “Pak Sastro melempari pencuri dengan batu”, dengan begitu pencurinya pasti  seketika lenyap  terbirit-birit, sama halnya dengan “selamat menjalankan ibadah puasa” silakan boleh dibayangkan bagaimana puasa jika berhasil jalan-jalan layaknya kenderaan bermotor, selamat menjalani ibadah puasa.

Pramono Pido
Foto: doc. pribadi

Penulis merupakan esais gorontalo, beberapa tulisannya sudah diterbitkan pada beberapa media nasional juga lokal, juga pernah meraih penghargaan dari kementrian keuangan.