Dulohupa.id- Momen Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, selalu menyimpan cerita menarik, apalagi di masa pandemi covid-19. Termasuk bagi para penjual bendera merah putih, apalagi di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Bukan hal yang mudah, sebab mereka harus berjuang dengan keadaan yang membuat omset mereka menurun.
Jalanan sore di Wilayah Kota Gorontalo mulai ramai dengan kendaraan yang hendak pulang dari perkantoran. Di masa pandemi covid-19, pemandangan sore tidak jauh dari pengguna jalan yang menggunakan masker, dan poster-poster imbauan mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, menjelang peringatan HUT RI ke-76 pada 17 Agustus, pemandangan bendera merah putih dan bendera umbul-umbul menghiasi depan rumah warga dan perkantoran yang ada di Gorontalo.
Nuansa nasionalisme seolah terpatri jelang hari Kemerdekaan RI. Pemandangan jalanan juga seakan menggantikan dominasi bendera negara luar yang sempat berkibar saat semarak Euro 2020 dan Copa America 2020 yang selesai beberapa waktu lalu.
Di tengah aktivitas perkotaan tersebut, seorang perempuan paruh baya duduk di bawah pohon dengan alas terpal di pinggir Jl. Brigjen Piola Isa, tepatnya di depan Kantor PMI Provinsi Gorontalo. Dengan raut wajah murung serta tatapan yang layu, ia sambil mengemas bendera-bendera yang ia jual.
Endang namanya. Seorang penjual bendera merah putih dan bendera umbul-umbul. Perempuan berumur 43 tahun itu menjual bendera dengan berbagai ukuran dan varian harga.
Ibu satu anak itu bercerita tentang perjuangannya sebagai penjual bendera dan omset penjualan yang turun karena pandemi covid-19.
Ia sudah berjualan sejak tahun 2018, menggantikan peran suaminya. Suaminya yang kini memilih bekerja sebagai tukang kayu Jawa Barat memaksanya untuk mengambil peran tersebut. Saat ini, Endang tinggal bersama anaknya, Bayu (13) di Tomulabutao, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo.
“Berjualan bendera ini sudah lama, dan sampai sekarang ini,” tuturnya.
Namun, keinginan Endang untuk bisa meraup keuntungan dari penjualan bendera ternyata tidak sesuai harapan. “Saya berharap keuntungan menjual bendera tahun ini sama dengan tahun-tahun kemarin.”
“Penjualan tahun ini saya rasa menurun sekali, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya juga tahu corona ini sebagai salah satu penyebabnya,” terangnya.
Pada Juli sampai 12 Agustus 2021 ini, Endang berhasil menjual bendera dengan keuntungan kurang dari Rp 2 juta. Jumlah itu tidak seperti tahun sebelumnya yang ia bisa meraup hingga Rp 5 juta.
Padahal kata Endang, omset penjualan itu tidaklah menjadi miliknya, melainkan harus disetorkan dulu kepada pemilik bendera. Karena itu, dengan keuntungan yang kecil, tentu apa yang ia dapatkan pun jauh lebih kecil.
“Maklum, ini barang bukan milik pribadi, saya hanya bantu menjuanya saja,” katanya dengan sedikit pelan sambil menunggu pembeli.
Endang menjajakan bendera yang ia jual sedari pukul delapan pagi sampai setengah enam sore. Endang juga harus menyewa bentor. Endang akan menjual bendera hanya sampai 17 Agustus. Setelah itu barang tersebut akan dikirim kembali kepada pemiliknya.
Menjual bendera memang hanya pada momentum kemerdekaan saja. Untuk memenuhi kebutuhan rumah, apalagi Endang punya kios kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Selain itu pula, ia menyediakan jasa mencuci pakaian di rumah-rumah tetangga dan keluarga.
“Hari ini cuma ada dua bendera yang laku dengan harga Seratus Ribu Rupiah. Keuntungan saya selaku penjual hanya 10 ribu rupiah di situ,” ucapnya.
Semua itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan ia bersama anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP).
Endang tidak mengharapkan lebih dari kiriman sang suami, karena ia mengerti pekerjaan suaminya tidak begitu bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan rumah.
Ia harus berjuang membantu perekonomian keluarga, dan membangun prinsip setara dalam hal pengelolaan ekonomi keluarga di rumahnya. Apalagi di saat-saat pandemi seperti sekarang ini, butuh kekuatan lebih dalam hal menggerakkan roda ekonomi keluarga untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
“iya, saya tidak bisa menggantungkan harapan kepada suami untuk hal perekonomian keluarga, saya juga bisa mencari dan menghasilkan uang,” imbuhnya.
Reporter: Zulkifli Mangkau











