Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIFeature

Cerita Kusir Bendi Bertahan di Tengah Kota Gorontalo

×

Cerita Kusir Bendi Bertahan di Tengah Kota Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Bendi di tengah Kota Gotontalo/Faisal Husuna

Dulohupa.id- Matahari akan segera tenggelam, ketika Pulu beranjak dari rumahnya di Desa Hulawa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Seperti biasa, ia akan mengendarai bendi ke pusat kota yang berjarak hampir 10 KM tersebut. 

Pulu sendiri adalah salah satu kusir bendi yang masih bertahan hingga saat ini. Ia tak bergeming di tengah gempuran moda transportasi yang semakin modern dan canggih. Meski harus bersaing ketat, namun pria berusia 60 tahun itu, tetap rela menarik bendi di keramaian kota demi mendapatkan pelanggan. 

Bendi bersaing dengan semakin canggihnya moda transportasi/Faisal Husuna

City Mall Gorontalo adalah tujuan Pulu setiap harinya. Di satu-satunya mall di Gorontalo itu, ia memarkirkan bendinya. Setiap hari, tepat pukul 17.00 WITA, ia setia menunggu penumpang. 

Karena kurang dilirik penumpang, Pulu pun mesti menunggu hingga berjam-jam hanya untuk dua tiga penumpang. Katanya, hadirnya transportasi seperti bentor, apalagi ojek online, telah berpengaruh terhadap minat masyarakat menggunakan bendi. Akibatnya, pendapatannya pun tak seberapa dalam sehari. 

Meski begitu, ia sempat bercerita, bahwa sebelum pandemi COVID-19, penghasilannya dalam sehari bisa Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu. Jika lagi ramai, biasanya bisa mencapai Rp 300 ribu. Itupun katanya harus menunggu berjam-jam dan tidak setiap hari beruntung. Kadang, saat pulang pada pukul 22.00 WITA, ia tak membawa apa-apa. 

“Keluar kamari, jam 5 sampai jam 10 malam, adakalanya (bisa dapat) Rp 200 ribu lebih (per hari), kalau ada acara sampai Rp 300 ribu, (kadang juga) penumpang juga ini di bendi, ini sudah tidak ada,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski pendapatan yang alakadarnya dan di tengah gempuran transportasi, ia tetap setia dengan bendi bersama kudanya. Alasannya bahwa, kuda dan bendi tersebut adalah peninggalan orang tuanya. Ia menuturkan beberapa kerabatnya sudah beralih menggunakan bentor. Ia pun pernah diajak, namun ia menolak. Katanya, saat ini bendi yang tersisa hanya tinggal lima saja. 

“Orang mo babawa bendi so di bentor, dorang jual dorang pe bendi beli bentor,” kata Pulu.

Ia menambahkan, akibat pandemi, selama setahun ia tidak melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dan hari ini, Rabu (25/5) adalah kali pertama ia kembali menarik bendi tersebut, namun sebelum pukul 22.00 malam, ia telah bergegas pulang. Dan hanya mengantar tiga kali penumpang, untuk jalan-jalan mengelilingi seputaran Kota Gorontalo.

Salah satu penumpang, IPDA Medin Pakaya  mengungkapkan, bendi tidak bisa dilupakan, sebab kendaraan yang sudah sulit ditemukan tersebut memiliki kenangan di masa lalunya. Katanya, ketika di masa-masa sekolah dulu, ia kerap menaiki transportasi tersebut. 2006-2007 merupakan tahun terakhir baginya menaiki bendi. Karena itu, ia pun mengajak istri dan salah satu anaknya keliling melihat suasana kota, dengan transportasi tersebut. 

“Asik, asik, teringat dulu-dulu, putar-putar naik bendi jaman sekolah dulu,”ucapnya gembira.

Tidak hanya itu, Ia pun berharap bendi tersebut bisa dijadikan sebagai transportasi pariwisata, “Harapannya Provinsi Gorontalo bisa semakin maju pertumbuhannya, tapi tidak melupakan, transportasi seperti bendi ini. Jadikan bendi ini (transportasi) pariwisata, untuk masyarakat lokal (dan) luar Gorontalo,” pintanya.

Senada dengan itu, Dewi, pegawai BUMN Kota Gorontalo, salah satu penumpang bendi tersebut juga mengungkapan, sejak masih duduk di bangku sekolah SMP, baru kali ini ia kembali merasakan sensasi yang dirindukannya itu. Bersama keluarganya, ia mengajak kusir bendi tersebut jalan-jalan mengelilingi seputar Kota Gorontalo. 

Karena itu, iapun merasa sangat gembira. Katanya dengan begitu membikin ia kembali ke masa lalu. 

“Sebelumnya sudah pernah, dari SMP (Sekolah Menegah Pertama), (nanti) kita kesini lagi baru ini lagi naik bendi. Kita bernostalgia dengan ini, jangan dihilangkan lah ini bendi ini, perasaannya seru, seru sekali, keliling gorontalo, lihat taruna, seru, seru, seru,” ujarnya bahagia

Meski begitu, menurutnya bendi, sudah sangat sulit ditemukan. Namun, meski begitu ia meminta bendi transportasi tersebut mesti dikembalikan lagi. 

“Sudah sulit ditemukan, apalagi sekarang ini, tinggal satu inikan, biasanya dulu-dulu itu banyak ini, sampai pelabuhan, sekarang sudah sulit, walaupun sekarang ini, sudah jaman cangggih, (sudah) ada bentor, grep dan lain-lain. Ya, kalau bisa diadakan kembali lagi ini (bendi). pintanya

Reporter: Faisal Husuna