Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMINASIONAL

Rupiah Terus Anjlok, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

×

Rupiah Terus Anjlok, Primus Yustisio Desak Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur

Sebarkan artikel ini
Rupiah
Anggota Komisi XI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio. Dok: Parlemen

Dulohupa.id – Kritik tajam menghujani Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI. Anggota Komisi XI dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, secara blak-blakan menyarankan Gubernur BI, Perry Warjiyo, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Desakan ini mencuat menyusul tren pelemahan nilai tukar rupiah yang kian memprihatinkan.

​Dalam interupsinya, Primus menyoroti adanya anomali besar yang terjadi pada perekonomian Indonesia saat ini. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat tumbuh positif di angka 5,61%. Namun di sisi lain, nilai tukar rupiah justru jeblok hingga menyentuh rekor terendah.

​”Kita melihat apa yang terjadi sekarang yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61%, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya,” ujar Primus dengan nada tinggi.

​Primus mengungkapkan kekecewaannya karena pelemahan rupiah tidak lagi sekadar berkutat pada dolar Amerika Serikat (AS). Faktanya, mata uang Garuda kini terpuruk terhadap hampir seluruh mata uang negara lain di dunia.

​”Ironisnya, ini terhadap semua mata uang kita melemah. Terhadap (dolar) Singapura, Australia, Ringgit, Rial, apalagi Hong Kong dolar, Euro. Ini kan bagaimana global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, bank sentral kita ini,” tegasnya.

​Selain masalah kurs, Primus juga menyoroti performa indeks pasar saham domestik yang tak kunjung bangkit pasca-guncangan geopolitik global. Menurutnya, saat indeks saham dunia lain sudah mulai rebound ke zona positif, indeks Indonesia justru masih tertinggal dan minus lebih dari 20%.

Primus meminta Perry Warjiyo untuk mengambil sikap gentleman. Ia mencontohkan budaya kepemimpinan di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana pejabatnya memilih mundur jika merasa gagal memenuhi target kerja.

​”Mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salahnya, kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja, tapi itu bukan sikap penghinaan. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik,” kata Primus secara langsung di hadapan Perry.

​Sebagai penutup interupsi kerasnya, politisi PAN ini bahkan mengutip sebuah hadis yang cukup populer mengenai pentingnya kapabilitas seorang pemimpin.
​”Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya. Mohon maaf, wabillahi taufiq wal hidayah, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” pungkas Primus menyudahi pernyataannya.