Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMKOT GORONTALO

Awal Juli, Siswa di Kota Gorontalo Bisa Kembali Masuk Sekolah

×

Awal Juli, Siswa di Kota Gorontalo Bisa Kembali Masuk Sekolah

Sebarkan artikel ini
Siswa di sekolah/FOTO: Ian Morse

Dulohupa.id- Setelah kurang lebih satu tahun belajar daring, siswa di Kota Gorontalo kini harus bernapas lega, sebab pemerintah setempat berencana membuka sekolah pada awal Juli 2021. 

“Sebelum membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka di sekolah-sekolah, kami pemerintah kota Gorontalo melalui Dinas Pendidikan. Saya menginstruksikan untuk melakukan penelitian dan survei secara ketat kepada seluruh pemangku kepentingan, baik orang tua siswa-siswa itu sendiri, para guru-guru, dan semua stakeholder,” ungkap Wali Kota Gorontalo, Marten Taha. 

Hasil survei itupun kata Marten, menemukan fakta bahwa, sedikitnya ada 75 persen orang tua siswa yang setuju sekolah kembali dibuka. 

Makanya, saat ini pun pihaknya mulai mempersiapkan segalanya. Karena ketika metode kegiatan belajar mengajar secara tatap muka diperbolehkan, maka perlu adanya persiapan baik kebersihan ruang kelas, dan kesiapan tempat lainya, dan paling penting adalah bagaimana penerapan protokol kesehatan.

Ketika sekolah dibuka, maka perlu adanya kesiapan secara fisik sekolah, mulai dari kebersihannya, pengaturan tempat kelasnya, kemudian pintu masuk dan pintu keluar. Bahkan sebelum masuk sekolah harus dilakukan desinfeksi, agar kebersihan keamanan dan ketentraman serta ketertiban sekolah itu baik-baik saja,” tutur Marten.

Tak hanya itu, Marten pun menjelaskan guru-guru dan pegawai sekolah maupun pengawas lainya, syaratnya harus sudah divaksin sebelum pembukaan sekolah.

“Saya sudah minta kepada Dinas Kesehatan untuk menggencarkan vaksin terhadap guru-guru, agar tiba pada bulan Juli nanti pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru-guru sudah dua kali penyuntikan vaksinasi,” jelas Marten.

“Bahkan salah satu persyaratan anaknya bisa masuk sekolah, itu orang tua para siswa harus sudah dilakukan vaksinasi dua kali, ketika orang tuanya juga belum divaksinasi maka siswa itu sendiri jangan dulu masuk,” tambah Marten

Pihaknya pun meminta, kepada dinas pendidikan metode pembelajaran harus diatur sedemikian rupa, dengan melakukan bertahap untuk menjaga tidak berkerumun.

“Saya lebih suka pembukaan sekolah harus bertahap dan bergilir, tidak boleh kita laksanakan semua langsung masuk sekolah, itu kita laksanakan bertahap seperti dalam satu kelas berjumlah 32 orang, maka yang boleh ikut tahap 1 hanya 16 orang sisanya akan diatur lagi,” pinta Marten.

Karena itu, Marten akan melakukan metode pembelajaran sistem shift. Tidak ada waktu istirahat, tidak ada waktu bersenang, jadi tahap pembelajaran hanya satu kali masuk ketika keluar langsung pulang ke rumah masing-masing.

“Semua itu harus kita atur dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, baik secara fisik atau secara tatap muka ini kita harus persiapkan dengan baik-baik,” tutup Marten

Reporter: Yusuf Konoli