DULOHUPA.ID- Seorang wanita paruh baya itu duduk di ruang tamu rumahnya. Tangan kirinya memegang pemidangan, sementara tangan kanannya memegang jarum. Ia adalah Fatma Antu (52), seorang wanita pengrajin kerawang atau karawo di Desa Ayuhulua, Kecamatan Dungalio, Kabupaten Gorontalo. Fatma adalah salah satu warga di desa tersebut yang menghidupi keluarga dengan menyulam karawo.
Untuk menghasilkan karya yang bagus, Fatma menyulam karawo dengan teknik tusuk kerawang yang menjadi teknik khas Gorontalo, atau biasa kebanyakan orang menyebutnya sebagai teknik cabut benang. Teknik ini akan menghasilkan motif yang cantik, seperti jajar genjang.
Kepada Dulohupa.id, Fatma mengaku menggeluti pekerjaan itu sejak lima tahun yang lalu. Meski sebetulnya, sejak ia masih sekolah, telah mempelajari teknik sulam tersebut.
“Bukan cuman saya yang tekuni kerajinan ini, hampir seluruh kalangan ibu – ibu di desa ini yang melakukannya, karena kerajinan ini berguna untuk menopang hidup, apalagi ditengah pandemi saat ini,” ucap Fatma kepada Dulohupa.id, Selasa (24/11) sore tadi.
Lebih lanjut kata Fatma, untuk satu kain yang ia sulam, dihargai sebesar sepuluh ribu hingga lima belas ribu rupiah. Jumlah itu tergantung motif yang di pesan oleh konsumen. Bahkan Kata Fatma, ada juga yang dari Kota Gorontalo yang memesan kepadanya.
“Satu motif bunga kecil butuh waktu satu hari saja, sedangkan yang motif bunga besar memakan waktu tiga hari,” tambahnya.
Fatma megungkapkan, bahan-hanya yang nantinya ia rajut, bisanya yang menyediakan adalah konsumennya.
“Bahan – bahan tersebut langsung konsumen yang menyediakan, kalau saya yang menyediakan, dana dari mana yang dapati,” tutup Fatma.
*Catatan: Bersama lawan virus corona. Dulohupa.id mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan, ibu, 3M (pakai Masker, rajin Mencuci tangan, dan selalu Menjaga jarak).
Reporter: Fandiyanto Pou











