Kisah Nelayan Perempuan Mengejar Rupiah di Tengah Pandemi

Dulohupa.id – Siang itu langit sangat cerah, mulus tak berawan. Jana (39) seorang perempuan yang kesehariannya sebagai nelayan, tak henti-hentinya bekerja mengais rupiah. Ia terus berupaya melawan sengatan sang surya di siang hari, demi pundi-pundi rupiah yang ia kumpulkan untuk keluarganya di rumah.

Waktu menunjukan pukul 11.50 Wita, matahari tepat di atas kepala Jana. Aktivitasnya sempat terhenti saat saya sedikit melipir ke bibir pantai, tempat ia bekerja dengan semangat mencari nener.

“Mau beli nener Pak?” tanya Nelayan perempuan itu kepada saya.

“Bukan, saya cuman ingin melihat Ibu mengambil nener saja,” jawab saya kepada Jana.

Jana mengira kedatangan saya itu untuk membeli nener hasil tangkapannya yang sudah ia kumpulkan sedari jam 10 malam.

Jana rupanya tak sendiri mengambil nener di bibir pantai, ia bersama suaminya, Yoni (45), yang sudah melakoni pekerjaan sebagai nelayan nener ini 10 tahun lamanya; saat mereka memilih hidup bersama dalam bahtera rumah tangga.

Akhir-akhir ini kata Jana, pengepul nener atau anakan ikan bandeng ini selalu berdatangan, dan membeli hasil tangkapan nener mereka.

“Saya kira pengepul, saya somo (mau) jual ini nener, soalnya somo pulang akan ka rumah,” sahut Jana lagi kepada saya dengan raut wajah penuh harap.

Dampak Pandemi

Ia mengakui, saat-saat pandemi sekarang ini, pendapatan Jana dan suaminya sebagai nelayan berkurang drastis. Dibandingkan dengan sebelumnya.

“Turun sekali pendapatan kami selama korona ini, tidak seperti sebelum ada korona,” tuturnya dengan tulus.

Matahari terus bergerak, suhu semakin panas, Jana dan suaminya bolak-balik dari arah bibir pantai ke daratan. Aktivitas itu akan mereka hentikan, ketika target tangkapan nener sudah terpenuhi.

“hari ini kami target 10 ribu ekor nener, 4 ribu ekor sudah dibeli oleh pengepul, dan sisanya ini tinggal ditambah beberapa ekor saja sudah dapat 6 ribu ekor nener yang siap dijual,” terang Jana kepada saya, Minggu (22/11).

Tak lama kemudian, Jana mulai menepi. Yoni suaminya, ia biarkan berada di laut yang sedang memperbaiki alat tangkapan (jaring).

Sambil menyeka peluhnya, Jana kemudian menumpahkan tangkapan mereka ke dalam wadah. Setelah itu, ia mulai mengambil posisi yang santai di bawah pohon yang rindang. Memang, tempat Jana mengambil nener ini banyak sekali pohon besar yang cocok dijadikan tempat beristirahat di kala cuaca panas sekali.

Raut wajah Jana mulai serius, kedua matanya dengan siaga membelalak ke hadapan wadah tersebut. ia mulai teliti memindahkan nener dengan ikan –ikan kecil lainnya.

“Harus dipindahkan satu persatu, tidak bisa mo ambil semuanya. Karena ikan nener ini beda dengan ikan lainya,” ujarnya.

Jana kembali melanjutkan, menurutnya, nener-nener yang sudah di sortir itu lah yang akan dijual ke pengepul atau tempat-tempat penampungan nener kenalan mereka.

Kata Jana, harga per ekor nener hasil tangkapan mereka dihargai Rp40. Harga itu katanya, sudah harga standar dari pengepul.

“Kemarin per ekor nener sempat naik sampai Rp55 tapi turun lagi ke Rp40,” ungkap Jana sembari meneduhkan fokusnya ke wadah.

Paling sedikit, kata Jana, tangkapan nener yang ia dapatkan hanya berkisar 1000 ekor per harinya, “jika dijual ke pengepul paling harganya hanya Rp40.000 saja. itu yang saya dapatkan kalau memang tangkapan sedikit”.

 

Purnama di Tengah Pandemi

Hari itu, bulan sudah purnama. Langit malam yang biasanya terang oleh cahaya bintang kini berganti dengan cahaya bulan. Daratan dan lautan terang disinari oleh purnama. Jana dan suaminya bilang, ketika purnama datang itu merupakan hari-hari yang buruk.

Sebab, pada purnama lah, Ujar nelayan perempuan itu, tangkapan mereka berkurang bahkan tidak ada sama sekali. Purnama seakan hal yang tidak baik bagi seorang nelayan nener seperti Jana dan Yoni.

“Kalau bulang di langit terang (purnama), nener ini sulit didapatkan. Sedikit yang bisa kami dapatkan. Jadi kalau sedang purnama, banyak nelayan nener yang malas untuk turun mencari nener, karena pasti hasilnya akan sedikit,” kata Jana kepada saya.

Jana dan nelayan nener lainnya akan merasa lega, ketika bulan sedang tidak purnama. Tangkapan mereka bisa melimpah dan pastinya tak ada kata malas-malasan untuk tidak mencari nener. Nelayan-nelayan nener ini, terang Jana, akan memadati bibir pantai kala bulan sudah tidak purnama lagi. “Orang-orang akan mulai berkumpul di laut dari jam 10 malam, dan berhenti pada besok pagi”.

Namun, saat pandemi menyerang. Jana dan nelayan nener lainnya kelimpungan. Tiba-tiba para pengepul yang biasa menjadi langganan mereka mulai mengurangi jumlah nener yang mereka beli.

“Tidak seperti biasanya, pengepul ba kase kurang (mengurangi) nener yang biasa dorang (mereka) beli ke nelayan,” katanya.

Hal itulah yang menurunkan semangat Jana dan nelayan lainnya untuk mencari nener.

Pandemi memang sangat berdampak pada Jana. Apalagi dia punya tiga orang anak yang harus dia urus di rumah. Pekerjaan lain suaminya ialah petani. Itu pun, terangnya, penghasilan dari Yoni tak bisa membantu perekonomian mereka terbantu. Makanya, Jana menjadi nelayan nener untuk membantu suaminya membiayai kebutuhan keluarga mereka.

 

Ikut Terdampak Pandemi

Selama pandemi juga, katanya, pendapatan mereka menurun drastis. Para pengepul  atau pembeli nener berkurang. “Penghasilan pun terdampak, yang sebelumnya sangat cukup untu membeli kebutuhan, tapi  saat pandemi datang, penghasilan menurun drastis.”

Jana akhirnya memutuskan berhenti dari aktivitasnya menjadi nelayan perempuan. Saat awal pandemi covid-19 masuk ke Indonesia terutama di Gorontalo.

Selama berhenti mencari nener itu, ia mengeluh dan bingung, biaya kebutuhan di rumah tersendat. Jana mencari cara untuk tetap bertahan, namun hasilnya nihil.

Selama satu bulan lebih, Jana menghentikan aktivitasnya. Dan karena desakan ekonomi keluarga, ia kembali pulang ke bibir pantai. Mulai mencari penghidupan seperti sedia kala.

Menjadi nelayan nener mungkin satu-satunya jalan hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarga Jana.

“Saya harus bertahan, kalau tidak mencari nener mau makan dan pake uang darimana,” jelas Jana dengan tegas kepada saya.

Jana sudah mengetahui keputusannya, tapi alasan ekonomi lah yang membuat dirinya tetap teguh untuk terus mencari nener.

Ia menuturkan, meskipun pengepul mengambil sedikit, dirinya tidak berpatokan kepada satu pengepul saja. Jana memilih menjual nener hasil tangkapannya ke semua pengepul. “Yang awalnya hanya rutin ke pengepul langganan. Sekarang kami menjual ke semua yang mau membeli.”

Cara itu yang Jana lakukan agar hasil tangkapan mereka terjual semua. Dan hasilnya bisa mereka bawa pulang untuk membeli kebutuhan di rumah.

 

New Normal Berikan Kelonggaran

Ia akhirnya bisa bernafas lega, ketika pemberlakukan kenormalan baru yang bertujuan memulihkan ekonomi  Indonesia termasuk di Gorontalo mulai berlaku.

Dia merasa dikagetkan dengan para pengepul nener yang mulai mengambil dalam jumlah yang banyak lagi. Ia mengira pandemi sudah berakhir, tapi nyatanya belum sepenuhnya. Hanya saja memang ada kelonggaran dari pemerintah untuk menjalakan usaha tapi dengan syarat tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kabar baik itu langsung mengubah suasana Jana dan suaminya. Mereka seakan menghirup udara segar, perekonomian keluarga mereka kembali lagi, meskipun tidak seperti sebelumnya; sebelum pandemi menyerang.

Tiba-tiba Jana beranjak dari tempat duduknya, ia berlari ke arah Yoni yang sedang mengumpulkan jaring. Desau angin, debur ombak, ia tabrak dengan sesuka hatinya.

Ia juga tahu, matahari siang itu sangat terik, sang surya dengan tegas mengirim rasa panas ke kulit Jana. Namun Jana cuek saja.

Lalu, hanya berselang beberapa menit ia kembali lagi ke tempat duduknya.

“Nener masih kurang tadi, ini, so pas 6000 ekor. Tinggal tunggu pengepul saja datang.”

Sembari menunggu pengepul datang, Jana sempat mengeluh soal bantuan pemerintah yang tidak pernah datang menghampirinya. Ia merasa kegiatannya mencari nener kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

“tidak ada bantuan, semua bahan, alat tangkap, dan peralatan dari upaya kami sendiri yang menyediakannya,” ujar Nelayan perempuan itu penuh harap.

 

Reporter: Zulkifli Mangkau