Dulohupa.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Gorontalo akan melakukan penanganan stunting melalui Intervensi gizi spesifik dan sensitif.
Dalam peraturan Presiden nomor 72 tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, dijelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Kegagalan tersebut merupakan sebagai akibat dari kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama serta terjadinya infeksi yang berulang dan adanya pola asuh yang tidak memadai terhadap anak.
Oleh karena itu, Wakil Walikota Gorontalo, Ryan Kono memandang bahwa penurunan stunting sangat penting untuk dilakukan sedini dan secepat mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang dapat menghambat tumbuh kembang anak.
Selain itu, stunting juga dimungkinkan dapat mempengaruhi perkembangan otak dan rentan terhadap penyakit.
Ryan Kono mengungkapkan bahwa sejak tahun 2022 pihak pemerintah Kota Gorontalo telah melaksanakan berbagai aksi dalam upaya penanggulangan stunting di Kota Gorontalo.
Ia menilai bahwa upaya yang telah dilaksanakan dalam 1 tahun terakhir telah membuahkan hasil yang cukup baik.
“Terjadi penurunan prevelensi stunting, dari yang awalnya 26,5 persen kini menjadi 19,1 persen. Namun kita tidak perlu berbangga diri dulu, mengingat di tahun 2024 nanti kita harus menurunkannya lagi menjadi 14 persen. Sehingga Indonesia emas di tahun 2045 bisa terwujud,” Ungkap Wakil Walikota Gorontalo, Ryan Kono.
Sementara itu, berdasarkan hasil evaluasi tingkat provinsi Gorontalo, progres penanganan anak yang bermasalah gizi atau stunting diwilayah Kota Gorontalo hingga pada bulan Juni masih terdapat sebanyak 270 anak. Sehingga upaya penanggulangan masalah tersebut akan dilakukan melalui dua Intervensi yaitu Intervensi gizi spesifik untuk mengetahui penyebab stunting secara langsung dan Intervensi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.
“Selain melalui dua Intervensi tadi, juga diperlukan komitmen bersama dengan melibatkan peran Forkopimda, pengusaha, perusahaan, perguruan tinggi, media massa serta masyarakat,” Jelas Ryan Kono.
Reporter: Kris











