Scroll Untuk Lanjut Membaca
LINGKUNGANPEMKOT GORONTALO

DLH Kota Gorontalo Perkuat Penanganan Sampah, Capai 96 Ton Setiap Hari Diangkut

×

DLH Kota Gorontalo Perkuat Penanganan Sampah, Capai 96 Ton Setiap Hari Diangkut

Sebarkan artikel ini
Sampah Kota Gorontalo
Pengangkutan Sampah di Kota Gorontalo.

Gorontalo – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Gorontalo terus memperkuat pelayanan pengangkutan dan pengelolaan sampah di tengah tingginya produksi sampah masyarakat setiap hari.

Dengan jumlah penduduk sekitar 204 ribu jiwa, potensi timbulan sampah di Kota Gorontalo diperkirakan mencapai 140 ton per hari. Penanganan sampah saat ini sekitar 87 ton diangkut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara 9 ton lainnya dikelola melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan Bank Sampah. Jadi volume sampah setiap hari di Kota Gorontalo hanya sebanyak 96 ton.

Kepala DLH Kota Gorontalo, Lukman Kasim, mengatakan pihaknya terus melakukan penanganan di sejumlah lokasi yang mengalami penumpukan sampah. Salah satu kendala yang dihadapi dalam pelayanan adalah kondisi armada pengangkutan yang sewaktu-waktu mengalami kerusakan.

“Memang masih ada beberapa titik yang mengalami penumpukan sampah. Kondisi ini terjadi apabila ada armada yang rusak sehingga tidak beroperasi. Akan tetapi, tumpukan sampah itu tidak berlangsung lama karena DLH dan pihak kelurahan langsung mengantisipasi melalui pengaturan jadwal pengangkutan,” ujar Lukman.

Untuk mendukung pelayanan, DLH Kota Gorontalo memiliki puluhan armada pengangkut sampah dengan berbagai jenis. Di antaranya 54 unit getor, yang terdiri dari 50 unit ditempatkan di kelurahan dan empat unit berada di DLH.

Selain itu, terdapat 16 unit dump truck, delapan mobil pickup, empat arm roll, serta 28 unit kendaraan roda tiga atau Viar.

Namun, tidak seluruh armada tersebut dapat beroperasi secara bersamaan. Saat ini sekitar 48 unit masih aktif digunakan, sedangkan tujuh unit lainnya mengalami kerusakan.

Kondisi armada tersebut menjadi salah satu perhatian DLH untuk memastikan pelayanan pengangkutan tetap berjalan. Jika terdapat kendaraan yang mengalami gangguan, jadwal pengangkutan di wilayah terdampak akan disesuaikan agar sampah tetap dapat ditangani.

Dari sisi pengaduan masyarakat, DLH mencatat terdapat enam laporan terkait sampah yang tidak terangkut selama periode 1 hingga 18 September 2026.

Lukman memastikan seluruh laporan tersebut telah direspons dan ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.

“Pengaduan masyarakat selama bulan September tentang sampah yang tidak terangkut sebanyak enam pengaduan. Itu pun pengaduan tersebut langsung diantisipasi,” katanya.

Menurutnya, laporan dari masyarakat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pola pelayanan pengangkutan sampah di setiap wilayah.

Selain mengandalkan pengangkutan menuju TPA, DLH Kota Gorontalo juga mendorong pengurangan sampah sejak dari sumbernya. Salah satunya melalui pemilahan sampah dan penguatan aktivitas TPS3R serta Bank Sampah.

Saat ini terdapat 10 TPS3R di Kota Gorontalo. Namun, baru enam TPS3R yang telah beroperasi, sementara empat lainnya belum dapat berjalan secara optimal karena masih terkendala sarana dan prasarana.

“Dari 10 TPS3R tersebut, sebanyak enam TPS3R saat ini telah beroperasi,” jelas Lukman.

DLH juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan untuk mendorong pengelola TPS3R meningkatkan aktivitas pengolahan sampah.

“Langkah awal yang dilakukan DLH adalah menetapkan pengelola TPS3R. Kemudian membangun koordinasi dengan pihak kelurahan agar terus mendorong para pengelola TPS3R dalam melakukan aktivitas pengolahan sampah,” ujarnya.

Selain TPS3R, masyarakat juga didorong melakukan pemilahan sampah dari rumah serta memanfaatkan komposter untuk mengurangi sampah yang berakhir di TPA.

Upaya pembenahan sistem pengelolaan sampah juga dilakukan DLH melalui kerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pemetaan volume sampah di sejumlah wilayah Kota Gorontalo. Data tersebut nantinya dapat menjadi bahan untuk memperkuat koordinasi antara DLH, pemerintah kelurahan dan kecamatan.

“Adanya pemetaan volume sampah yang dilakukan oleh para mahasiswa menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan,” kata Lukman.

Memasuki akhir 2026, DLH Kota Gorontalo menargetkan penguatan pengelolaan sampah dari sumber sekaligus pembenahan sistem pengangkutan.

Dua hal yang menjadi perhatian adalah meningkatkan pemilahan sampah dari sumber dan menyelesaikan sistem informasi pengangkutan sampah melalui kerja sama dengan peneliti dari UNG.

Sistem informasi tersebut diharapkan dapat membantu DLH memperkuat koordinasi sekaligus melakukan pengawasan terhadap pelayanan pengangkutan sampah di seluruh wilayah Kota Gorontalo.

“Target DLH adalah terjadi pemilahan di sumber dan penyelesaian sistem informasi pengangkutan sampah melalui kerja sama dengan pihak peneliti dari UNG,” pungkas Lukman Kasim.

Ia menegaskan, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan pemerintah sendiri. Keterlibatan masyarakat, pemerintah kelurahan dan kecamatan, pengelola TPS3R serta Bank Sampah menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.