Scroll Untuk Lanjut Membaca
NASIONAL

Tolak Penertiban Pasar, Emak-emak di Desa Po’owo Mengamuk

96
×

Tolak Penertiban Pasar, Emak-emak di Desa Po’owo Mengamuk

Sebarkan artikel ini
penggusuran pasar ricuh
Seorang pedagang mencoba menghalangi petugas dengan menghamburkan dagangannya.

DULOHUPA.ID – Penertiban pasar yang ada di Desa Po’owo Barat, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango berakhir ricuh. Kericuhan berawal saat sejumlah pemilik lapak mencoba menghalang petugas Satpol PP yang hendak membongkar lapak mereka, (22/08)

Sejumlah warga yang didominasi ibu-ibu rumah tangga mencoba menghalangi petugas yang akan membongkar lapak mereka, bahkan ibu-ibu ini ada yang menangis histeris meminta agar lapak mereka jangan dibongkar.

Namun meskipun mendapatkan penolakan dari warga pemilik lapak, petugas Satpol PP tetap melaksanakan pembongkaran tersebut.

Sartina Hasan salah seorang pemilik lapak mengaku, tindakan pemerintah membongkar lapak para pedagang ini sangat tidak adil. Dirinya mengaku hanyalah orang miskin yang mencari nafkah berdagang sayuran di pasar tersebut.

“ ini tidak adil, saya ini hanya orang susah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya jualan sayur dan rempah-rempah. Tapi sekarang lapak saya sudah dibongkar, saya tidak punya apa-apa lagi sekarang.”    

Menurut Iwan Haju, Kepala Bidang Trantib Satpol PP Bone Bolango, pasar yang ada di Desa Pouwo ini merupakan pasar illegal yang tidak sesuai dengan RTW Kabupaten Bone Bolango, atas dasar aturan tersebut pihak satpol PP kabupaten Bone Bolango diperinthakan untuk membongkar pasar tersebut.

“karena ini ada hubungannya dengan perda baik perda Provinsi Gorontalo tentang keamanan dan ketertiban masyrakat serta perda tentang RTW Kabupaten Bone Bolango, dimana Kecamatan Kabila ini merupakan pusat perdagangan yang zonanya sudah ditentukan, sehingga kami menertibkan pasar yang ilegal seperti pasar yang digusur hari ini.” Jelas Iwan Haju

Sebelum melakukan pembongkaran, pemerintah Kabupaten Bone Bolango telah memediasi dan menyediakan pasar baru yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap kepada para pedagang. Namun karena alasan kurangnya pembeli yang datang dipasar yang baru, para pedagang memilih untuk kembali membuka lapak dan menjual di pasar tersebut. (DP/02)