Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Tanpa Narasumber dan Bukti Jelas, Isu Pemerasan Nelson Pomalingo Dinilai Langgar Kode Etik Jurnalis

Dulohupa.id – Tidak memiliki Narasumber dan bukti yang jelas, isu yang diberitakan pada salah satu media online, terkait pemerasan terhadap Nelson Pomalingo dinilai melanggar kode etik jurnalistik, dan mencemarkan nama baik.

Hal ditegaskan oleh Kepala Bidang Informasi Komunikasi i Publik Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Gorontalo Helmi Daud, dimana dalam pemberitaan tersebut beredar dibeberapa media online rekaman suara dan screenshoot percakapan melalui media sosial WhatsApp, bahwa ada seorang perempuan yang mencoba memeras Bupati Kabupaten Gorontalo Nelson Pomalingo.

Olehnya itu menanggapi hal ini Helmi Daud mengatakan mestinya dalam menyajikan pemberitaan, apalagi sampai mencemarkan nama baik seseorang, harusnya ada narasumber yang jelas dan penjelasan konkrit tentang isu tersebut.

”Baik Tuti yang disebut sebagai orang yang di dalam WhatsApp  dan om Nelson, rangkaian pemberitaan terkait pernyataan mereka dalam percakapan itu, di dunia digital seperti ini, harus disajikan dalam data yang akurat serta proses pembuktian pada digitalisasi. perbincangan orang itu harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan ahli yang mampu membuktikan kebenaran konten maupun kebenaran percakapan serta kebenaran sumber-sumber yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Helmi juga mengatakan yang dilakukan oleh media tersebut, hanya sekedar pencemaran dan pembusukan nama yang berpotensi melanggar prinsip dan norma kode etik jurnalis oleh Dewan Pers.

“Media yang telah melansir pemberitaan tersebut, bukan anggota Dewan Pers, tidak terdaftar di Dewan Pers bahkan tidak memiliki sertifikasi kewartawanan sebagaimana yang dipersyaratkan dewan pers, karena tidak mengikuti regulasi dalam undang–undang pers. Biasanya kalau tak sesuai regulasi perundangan, hasilnya jadi seperti jailangkung, “ungkapnya.

Lanjut menurutnya lagi, ini bisa saja menjadi kewenagan hukum dalam memprosesnya, karena narasi yang dibangun dalam berita itu, seolah – olah percakapan Bupati Gorontalo, namun pembuktian terhadap kebenaran narasi tersebut nihil, dalam arti isu ini tidak membuktikan secara valid apa yang diberitakan.

Bahkan dikatakan oleh Helmi Daud, jika mengacu pada mekanjsme jurnalistik investigasi hasilnya nol, karena sebagai jurnalis investigasi harus mengacu pada jurnalis yang mengeksplorasi objek yang akan diberitakan atau dilaporkan, mewawancarai banyak pihak untuk menggali dan mendalami objek yang diinvestigasi dan mendokumentasikan banyak hal, tidak hanya membangun narasi secara pribadi.

Terakhir Helmi mengatakan berita ini terkesan ingin menjatuhkan wibawa, Pemerintah Daerah dan harkat maupun martabat seseorang untuk mengait kepentingan pribadinya dalam hitungan matematis.

“Ini melanggar etika jurnalis, tidak layak dikonsumsi pada masyarakat karena itu tidak menggambarkan syarat maupun kaidah pemberitaan, sumber beritanya tidak jelas,” pungkasnya. (Dhedy)