Untuk Indonesia

Soal Dugaan Malapraktik di RS Multazam, Wali Kota Minta Diselesaikan Secara Transparan

Dulohupa.id- Wali Kota Gorontalo, Marten Taha meminta persoalan dugaan malapraktik di RS Multazam diselesaikan secara transparan. Ia pun mendorong Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyelesaikan kasus itu sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.

“Info ini baru saya ketahui sebatas pemberitaan dari media sosial maupun media online. Tentu ini mengundang perhatian masyarakat secara umum, sehingga saya berharap kasus ini segera terselesaikan dan dalam penyelesaian kasus ini saya harapkan transparan” ungkap Marten, Minggu (17/10/2021). 

Selebihnya kata dia, karena dokter yang diduga melakukan malapraktik itu bukanlah ASN di wilayah Kota Gorontalo, maka tentu persoalan itu mestinya ditangani oleh rumah sakit. Ia pun ikut meminta pihak RS Multazam dan RS Aloei Saboe ikut memantau kasus tersebut.

“Dokter yang menangani pasien tersebut bukan merupakan ASN di wilayah kami, maka saya meminta kepada kedua rumah sakit yaitu RS Aloe Saboe dan RS Multazam untuk memantau dan mengawal kasus ini” tuturnya.

Marten pun secara pribadi mengungkapkan duka yang mendalam atas meninggalnya pasien yang diduga korban malapraktik itu. Apalagi, korban menurut marten merupakan pegawai ASN di Pemerintahan Kota Gorontalo. Belakangan diketahui korban merupakan Kepala PAUD Ki Hajar Dewantoro Kota Gorontalo dan juga dikenal sebagai pribadi yang kreatif juga inovatif.

“Tentu kami merasa kehilangan, sebab almarhumah merupakan guru yang kreatif dan juga inovatif. Beliau juga merupakan Kepala PAUD Ki hajar Dewantoro Kota Gorontalo” tutup Marten. 

Sebelumnya, oknum dokter di RS Multazam Kota Gorontalo, diduga menjadi penyebab meninggalnya seorang pasien. Dalam keterangan yang diterima dulohupa.id, korban yang merupakan wanita berusia 39 tahun itu, diduga meninggal diakibatkan kelalaian oknum dokter tersebut dalam melakukan operasi. 

Seperti yang diungkapkan suami korban, YH, bahwa kejadian kelalaian operasi atau malapraktik itu terjadi pada 20 September 2021 di Rumah Sakit Multazam Kota Gorontalo. **

Comments are closed.