Untuk Indonesia

Dugaan Malapraktik Oknum Dokter di RS Multazam: Usus Tersayat Pisau Operasi

Dulohupa.id- Oknum dokter di RS Multazam Kota Gorontalo, diduga menjadi penyebab meninggalnya seorang pasien. Dalam keterangan yang diterima dulohupa.id, korban yang merupakan wanita berusia 39 tahun itu, diduga meninggal diakibatkan kelalaian oknum dokter tersebut dalam melakukan operasi. 

Seperti yang diungkapkan suami korban, YH, bahwa kejadian kelalaian operasi atau malapraktik itu terjadi pada 20 September 2021 di Rumah Sakit Multazam Kota Gorontalo. 

Dalam keterangannya ia menceritakan bahwa pada 16 September 2021, ia bersama istrinya yang merupakan korban, melakukan konsultasi kepada oknum dokter kandungan di Gorontalo. Saat konsultasi di tempat praktik dokter tersebut, korban mengeluhkan nyeri di bagian perut dan dengan gejala haid kurang lancar.

Mendengar gejala tersebut dan setelah melakukan sejumlah pemeriksaan media, dokter itu mengungkapkan bahwa korban didiagnosa memiliki kista berukuran 5,0 dan dan Miom berukuran 9,8. Ukuran itu diibaratkan oleh dokter itu sebesar kepala bayi.

Biar mo minum akan obat satu karung, tidak bisa mo sembuh (meski minum obat sekarung, tak bisa sembuh).” ungkap suami korban mengutip pernyataan dokter tersebut saat ia menanyakan bagaimana menyembuhkan atau mengangkat penyakit tersebut.

Mendengar hal tersebut, lantas ia dan istrinya pun pulang dan kembali lagi untuk konsultasi. Hasilnya, dokter kandungan itu meminta untuk keduanya menjadwalkan waktu operasi pada Senin 20 September 2021 di RS Multazam. 

Saat waktu operasi tiba, korban pun lantas langsung dilakukan operasi, tanpa ditemani keluarga. Rupanya, operasi tersebut tidaklah berhasil dengan baik, sebab sesaat setelah melakukan tindakan operasi, dokter yang menangani operasi itu mengungkapkan bahwa operasi tidak dapat dilanjutkan. 

“(Oknum dokter itu) menyampaikan kepada kami (keluarga) bahwa operasi telah gagal dan disampaikan tindakan operasi tidak dapat dilanjutkan dengan alasan telah terjadi perlengketan usus di seluruh lapisan perut. Pasien dan pengangkatan penyakit Miom dan Kista sudah tidak dapat dilanjutkan lagi,” ungkap YH. 

Karena dokter kandungan itu tak dapat melanjutkan operasi tersebut, dokter kedua di RS Multazam pun yang kemudian melanjutkan operasi itu. 

“(setelah dilakukan operasi oleh dokter sebelumnya) korban hanya dibiarkan dalam kondisi perut terbelah, dan yang melanjutkan jahitan operasinya ialah dokter kedua itu. Dokter itu sempat menyampaikan kepada kami dan keluarga, bahwa telah terjadi robekan pada usus pasien yang diakibatkan oleh sayatan operasi (oleh dokter sebelumnya)” seperti dikutip dalam kronologi tersebut. 

Usai operasi, korban tak diizinkan makan selama sepuluh hari dan disarankan untuk belajar duduk. Pada hari ke lima, pasien kemudian diminta untuk duduk dan menggerak-gerakan badannya. Namun, tidak disangka keluar cairan hijau dan berbau busuk. Dokter kedua tadi pun menjawab, jika cairan itu hanyalah darah kotor. 

Beberapa hari kemudian, tenaga medis (nakes) melepaskan jahitan di perut korban. Suami korban menduga, tindakan medis itu dilakukan tanpa ada penanganan lebih lanjut. Tak puas dengan kondisi tersebut, YH pun lantas meminta dokter merujuk korban ke rumah sakit lain. Naas, permintaan itu justu ditolak oleh dokter. 

Lebih menyakitkan lagi, dokter itu bahkan mengungkapkan, bahwa korban sudah tidak bisa diapa-apakan, serta keluarga disarankan untuk banyak berdoa. 

“Yang lebih menyedihkan lagi,  dokter menyampaikan pasien (korban) tidak dapat lagi dirujuk ke RS manapun, dan sudah tidak ada lagi harapan untuk sembuh,” ungkap YH. 

Karena tak puas dengan pengobatan yang dilakukan oleh dokter di RS Multazam, YH pun menghubungi dokter profesional untuk menangani korban. Namun karena melihat luka yang sudah mengeluarkan cairan padat dan kotoran, dokter tersebut tak berani mengambil tindakan dan menyarankan untuk dibawa ke RS Aloei Saboe Gorontalo. Saran itupun dituruti oleh suami korban. 

“Bahwa setelah dilakukan perawatan, kemudian diagendakan untuk operasi pada hari Sabtu tanggal 9 Oktober 2021, di mana pada saat tindakan operasi Dokter Enrico mengajak saya ke dalam ruang operasi dan menunjukkan secara langsung bahwa tidak ada kista sebesar berukuran 5,0 dan dan Miom berukuran 9,8 sebagaimana yang disampaikan oleh (oknum dokter di RS Multazam),” ungkap YH.

Bahkan, dokter Enrico tersebut mengungkapkan tidak ada perlengketan usus di dinding perut sebagaimana yang disampaikan oleh dokter sebelumnya. Faktanya bahwa yang disebut oleh oknum dokter di RS Multazam sebagai perlengketan usus itu, adalah karena terdapat usus besar dan usus halus serta empedu yang tersayat akibat operasi.

“Sangat menyayat hati, istri saya meninggal dunia di RSAS tanggal 15 Oktober 2021 Pukul 14.01 WITA,” ungkap YH yang kemudian berkomitmen untuk melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum.  

Hingga berita ini dirilis, dulohupa.id tidak berhasil mendapatkan konfirmasi dari Direktur RS Multazam. Sejumlah panggilan telepon tidak dijawab. **

Comments are closed.