Untuk Indonesia

Sepanjang 2021, Terjadi 69 Kekerasan Perempuan dan Anak di Kabupaten Gorontalo

Dulohupa.id- Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Gorontalo sepanjang 2021 mencapai 69 kasus. Kepala Dinas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Gorontalo, Sri Dewi Nani mengatakan, bahwa angka tersebut bisa saja bertambah mengingat saat ini masih awal bulan Oktober. 

“Memang kalau dilihat di tahun 2020 kemarin itu masih terhitung tinggi, tapi kalau dilihat dari kenaikan data kasus saat ini (2021) begitu cepat, sedangkan sekarang saja masih awal bulan Oktober sudah capai 69 kasus, sehingga di sisa bulan yang ada itu belum bisa dijamin kalau akan meningkat atau tidak,” ungkap Dewi saat ditemui Dulohupa.id di Rumah Dinas Bupati Gorontalo, Rabu (13/10) siang.

Data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Gorontalo sendiri pada 2020 mencapai 97 kasus. Tertinggi adalah kasus kekerasan terhadap anak, yakni mencapai 65 kasus yang terbagi dari kekerasan fisik 25 dan 40 kasus seksual. Sedangkan untuk kasus perempuan capai 32 kasus dibagi empat kasus seksual dan 28 kasus fisik.

“Untuk tahun 2021 ini 69 kasus yang paling banyak juga kasus anak, terdiri dari 61 kasus anak yang dibagi 41 kasus seksual dan 20 kasus fisik serta untuk kasus perempuan saat ini hanya 8 kasus seksual. Untuk data kasus di kecamatan mana yang paling banyak itu belum bisa dipastikan, karena sejauh ini kasusnya bervariasi,” jelasnya.

Terakhir Dewi mengungkapkan, upaya dari pemerintah dalam hal untuk mencegah tidak terjadi kenaikan kasus terus menerus, pihaknya akan terus mendorong untuk program kota layak anak. Selain itu juga saat ini pihaknya sudah mempersiapkan lorong ramah perempuan peduli anak.

“Dengan adanya program-program yang kami sudah siapkan ini, itu berguna untuk mencegah agar tidak bertambah lagi tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Gorontalo. Saya juga menghimbau kepada orang tua harus mengambil peran tersendiri dalam mengawasi anak, agar tidak salah memilih lingkungan yang seharusnya tidak diikuti,” tandas dia. **

Comments are closed.