Scroll Untuk Lanjut Membaca
INFO COVID-19

Nasib Penjual “Cabo” di Tengah Pandemi

326
×

Nasib Penjual “Cabo” di Tengah Pandemi

Sebarkan artikel ini
Aktivitas masyarakat yang sedang berburu kain bekas di Pasar Tradisional Marisa, Pohuwato. (F. Zulkifli Mangkau/ Dulohupa.id)

Dulohupa.id – Pedagang kain bekas atau cabo (Cakar Bongkar,red) adalah satu dari sekian orang yang terkena dampak pandemi secara ekonomi. Mereka harus bekerja ekstra kala pandemi mewabah.

Distribusi bahan baku terhenti. Gara-gara pandemi, seluruh akses suplay bahan baku yang datang dari luar negeri di tutup pemerintah. Tak hanya itu, sisa barang yang sudah ada di tangan para pedagang juga tidak bisa di pasarkan, Usai PSBB di terapkan. Pasar dan seluruh lokasi perbelanjaan pakaian bekas tutup.

Fenomena ini sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari para pedagang cabo. Ian (41) misalnya. Pedagang kain bekas di Pasar Tradisional Marisa, Kecamatan Marisa, Pohuwato itu mengaku sangat merasakan dampak pandemi.

Ian mengaku, saat pandemi ia tak lagi berharap keuntungan dari usahanya itu. Apalagi, kebanyakan barang yang ia jual berasal dari luar negeri.

“Berdampak pak, bahkan ada orang-orang yang tidak mau ba bili cabo pas so pandemi,” katanya dengan sedikit sibuk merapikan kain bekas jualannya.

Akibatnya, dagangan milik ia tidak laku. Banyak stok kain bekas yang tertahan dan tidak bisa di jual. Ianpun harus menanggung rugi mencapai puluhan juta rupiah. 

Sempat Buka Bengkel

Satu-satunya cara untuk bertahan kala itu, kata Ian, membuat usaha baru yang meskipun keuntungan tidak sebesar menjual kain bekas, tapi hasilnya mampu menggerakkan ekonomi keluarga yang suram saat pandemi menyerang.

“Saya buka usaha lain, buka bengkel di depan rumah untuk tambah-tambah penghasilan,” ujarnya kepada Dulohupa.id, Sabtu (12/12).

Beruntung beberapa bulan terakhir, Pemerintah akhirnya memberikan kelonggaran. Aktivitas ekonomi mulai longgar. Pasar kembali buka, meski dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Ian bersama para pedagang lainnyapun mulai membuka lapak jualannya.

Hanya saja, Ian mengaku belum mau menambah stok pakaian bekas yang mau ia jual. Selain terkendala modal, ia juga masih takut mengenai virus covid-19 yang bisa saja mengintai melalui pakaian bekas ini.

“Saya belum mau tambah barang baru, mo kase abis yang sisa ini dulu,” katanya sambil merapikan kain.

Kepada Dulohupa.id juga, Ian mengatakan, merasa senang karena karena aktivitas pasar kembali, dan dirinya bisa pindah-pindah jualan lagi ke berbagai pasar tradisional yang ada di Gorontalo

“Penjual kain cabo bagini tidak menetap di satu pasar mereka berpindah-pindah pak. Hari ini di Marisa, besok di Randangan, bisa jadi minggu depannya di Kota sana,” ucap Ian dengan senyum sumringah karena pakaian bekasnya laku banyak hari ini.

Ian juga selalu menganjurkan kepada setiap pembeli untuk tidak lupa mencuci kembali atau merendam pakaian bekas itu sebelum dipakai, tujuannya kata Ian untuk membunuh bakteri atau virus yang bisa saja menempel di kain tersebut.

Pandemi Tak Pengaruhi Minat Pembeli

Sementara itu, Erik Hulopi (28) salah seorang langganan Ian mengaku, sudah lama menggunakan pakaian bekas untuk keperluan sandangnya setiap hari. Setiap hari Sabtu tiba, Erik bahkan tak akan absen mengunjungi pasar hanya untuk melihat stok terbaru pakaian kain bekas yang diperjualbelikan.

“Saya suka pakaian bekas, selain bagus, dia juga punya merek yang terkenal,” katanya.

Erik mengatakan, dia juga punya trik yang sama dengan Ian saat menggunakan pakaian bekas ini, yaitu merendamnya dengan air hangat kemudian di cuci bersih, dan dijemur.

Kata Erik, hal seperti itu ampuh membunuh kuman dan bakteri yang mengendap di dalam pakaian.

“Kan kita tidak tahu ini pakaian dari mana asalnya, apalagi sudah bercampur dengan pakaian lain. Hal yang paling penting itu mengutamakan kebersihannya, merendamnya dengan air hangat, kemudian di cuci bersih pakai sabun,” ungkapnya.

Hanya saja, saat pandemi menyerang, ia mulai membatasi pembelian pakaian bekas, salah satu alasannya mengenai asal pakaian ini dikirim dari luar negeri.

“Saya mulai membatasi membeli pakaian bekas, saat pandemi masuk Gorontalo. Saya tak seperti dulu membeli pakaian dengan jumlah yang banyak, sekarang ini hanya perlu saja saya beli, masih takut sama virus korona,” katanya.

 

Reporter: Zulkifli Mangkau