Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINE

Mudik lebaran, menggembirakan atau menakutkan?

×

Mudik lebaran, menggembirakan atau menakutkan?

Sebarkan artikel ini
Arus Mudik
Pantauan arus mudik lebaran di Pelabuhan Pelindo IV Gorontalo, Kota Gorontalo tahun 2024. Dok: Dulohupa

Penulis: Anisa Ibrahim

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai macam tradisi yang masih terjadi dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah tradisi unik yang bernama mudik yang masih sangat melekat di indonesia.

Mudik biasanya dilakukan pada suasana menjelang lebaran. Masyarakat yang berada di perantauan berbondong-bondong pulang kampung untuk menemui sanak saudaranya disana. Tradisi ini tentu menjadi tradisi yang sangat menggembirakan. Tak peduli jarak dan waktu yang dihabiskan untuk perjalanan mudik, nampaknya masyarakat nampak antusias melaluinya.

Karena banyaknya masyarakat yang melakukan mudik dalam waktu yang bersamaan, sehingga menyebabkan arus lalu lintas mengalami kemacetan yang tidak biasanya. Macet saat mudik pun nampaknya sudah menjadi tradisi saat menjelang ramadhan. Apalagi kota-kota besar yang tidak dalam suasana lebaran saja sudah sering macet.

Contohnya jakarta, waktu tempuh perjalanan dari Jakarta dan sekitarnya ke Merak naik signifikan selama mudik lebaran 2024. waktu tempuh hingga dapat naik ke atas kapas tembus tujuh jam.

Salah satu pusat kemacetan adalah sebelum embarkasi ke kapal, di mana calon penumpang harus mengantri dalam tiga kantong berbeda sebelum dapat naik ke kapal. Antrian tersebut sendiri dapat memakan waktu hingga 4 jam.
Di Gorontalo pun demikian, arus mudik dan arus balik menyebabkan kemacetan.

Sebanyak 865 penumpang arus balik Idul Fitri tiba dengan menggunakan KM Sabuk Nusantara di Pelabuhan Gorontalo, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Minggu.
Bukan hanya arus mudik yang menyebabkan kemacetan, Sejumlah Wilayah di Kota Gorontalo mengalami kemacetan saat malam Tumbilotohe, Sabtu malam (6/4/2024).

Kemacetan terjadi mulai pukul 21:00 WITA di sejumlah titik, seperti di jalan Jl. Jaksa Agung Suprapto No.1, Limba U Dua, Kota Selelatan Kota Gorontalo yakni di kompleks taman Kota Gorontalo, terpantau beberapa titik mengalami kemacetan yang didominasi kendaraan Roda empat.

Apalagi perayaan hari raya ketupat yang menjadi tradisi tahunan di Gorontalo yang sering diadakan berbagai macam festival atau acara rakyat tentu akan menyebabkan kemacetan sebagaimana tahun-tahun kemarin.
Di kota Gorontalo ada dua titik lokasi rawan kemacetan yakni di leato karena ada festival perahu dayung, lokasi tamendao serta wisata kaisoma serta di wilayah Kota Utara.

Selain dihantui kemacetan, masyarakat pun dibayangi dengan rawannya kecelakaan saat perjalanan mudik. Berdasarkan data kepolisian, sebanyak 213 kecelakaan terjadi pada masa mudik Idulfitri 2024 dengan perincian 23 orang meninggal dunia, 39 orang luka berat, dan ratusan lain luka ringan.

Untuk mengantisipasi peningkatan jumlah korban kecelakaan, Polri melakukan evaluasi di sejumlah jalan menjelang Idulfitri 2024. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut, evaluasi dilakukan terhadap jalan yang rusak, rawan kecelakaan, dan zona penyangga atau buffer zone. Artinya, mitigasi menjelang Lebaran belum dilakukan secara optimal. Setiap tahun selalu terjadi kemacetan panjang hingga kecelakaan moda transportasi. Apalagi cuaca yang tidak menentu turut berpengaruh bagi pemudik yang menggunakaan kendaraan roda dua.

Untuk mencegah kemacetan akibat mudik dan arus balik, berikut kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Pertama, untuk mengurangi kemacetan polri menggunakan sistem satu arah (one-way system), sistem contraflow, dan sistem ganjil-genap. Kedua, melakukan pembatasan kendaraan angkutan barang pada mobil barang dengan sumbu tiga atau lebih.

Kendaraan angkutan barang yang dikecualikan dari pembatasan atau tetap bisa beroperasi adalah yang mengangkut BBM dan bahan bakar gas (BBG), hantaran uang, logistik pemilu/pemilihan, hewan dan pakan ternak, pupuk, penanganan bencana alam, serta barang pokok. (Setkab, 18-3-2024)

Ketiga, memberi diskon 20% pada tarif tol mudik agar masyarakat lebih mudah saat melakukan mudik dan untuk mengurai kemacetan.

Namun, kebijakan ini juga belum berjalan optimal. Contohnya saja kecelakaan maut terjadi di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek yang mengakibatkan 12 orang meninggal. Peristiwa nahas itu terjadi di jalur contraflow Cikampek menuju Jakarta dan melibatkan tiga kendaraan.

Dengan adanya berbagai peristiwa kecelakaan ini, negara harus berbenah dan mengevaluasi diri. Sejauh mana mitigasi dan antisipasi agar perjalanan mudik tidak lagi menjadi horor di tengah masyarakat?

Dengan mitigasi yang tepat, masyarakat bisa menjalankan momen ibadah di penghujung Ramadan tanpa harus tergesa-gesa mudik untuk menghindari kemacetan yang terjadi. Lantas, bagaimanakah mitigasi dan antisipasi yang benar dan tepat?.

Negara, dalam hal ini penguasa, bertanggung jawab dalam memberikan keselamatan dan kenyamanan bagi rakyat untuk bisa menikmati sarana publik. Rasulullah saw. bersabda, “Imam/ penguasa adalah raa’in dan penanggung jawab urusan rakyatnya.” (HR Bukhari).

Pemerintah berkewajiban menyediakan sarana dan moda transportasi yang aman bagi masyarakat. Inilah yang semestinya pemerintah lakukan untuk menjamin keselamatan rakyat.

Pertama, membangun dan memperbaiki sarana publik, seperti jalan raya secara totalitas. Jangan sampai ada jalan raya, tetapi tidak ada lampunya.

Kedua, pemerintah menyediakan moda transportasi dengan teknologi terbaru dan tingkat keselamatan yang tinggi sehingga kelaikan moda transportasi jenis apa pun terjamin kualitasnya. Negara tidak boleh menyerahkan penyediaan moda transportasi ini kepada operator swasta ataupun asing. Negara harus mempermudah rakyat mengakses moda transportasi jenis apa pun secara murah, aman, nyaman, dan berkualitas.

Ketiga, melakukan pendekatan yang lebih holistik dan inovatif untuk mengurai kemacetan arus perjalanan mudik. Negara bisa memanfaatkan teknologi pada era digitalisasi agar memungkinkan membantu mengatasi kemacetan mudik, seperti integrasi AI dalam manajemen lalu lintas mudik. Teknologi ini bisa jadi alternatif solusi dalam menanggapi kondisi lalu lintas, memprediksi dan mengatur aliran lalu lintas untuk mencegah kemacetan sebelum terjadi.

Dengan penggunaan AI yang makin meluas dalam manajemen lalu lintas, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan transformasi besar dalam perjalanan mudik ke depan. Bayangan kemacetan yang menguras waktu dan energi berpotensi diganti dengan lalu lintas lancar, yang mana sistem AI yang canggih mengatur ritme perjalanan dengan efisien, memprediksi titik-titik kemacetan, dan secara dinamis menyesuaikan pola lalu lintas untuk menghindari penumpukan kendaraan.

Dengan begitu, perjalanan mudik akan lebih menyenangkan tanpa harus terbebani dengan bayangan perjalanan yang penuh kemacetan dan ketakutan terjadi kecelakaan. Hal ini juga akan membuat ibadah saat akhir  Ramadan menjadi lebih khusyuk dan nyaman.

Sudah semestinya tradisi mudik tidak mengganggu suasana puncak ibadah pada hari-hari terakhir Ramadan. Bayangkan jika negara mampu menuntaskan problem kemacetan mudik, tentu waktu umat Islam tidak akan terbuang sia-sia di jalan hanya karena kemacetan. Oleh karenanya, mudik harus didukung dengan kebijakan negara yang dapat memenuhi harapan umat Islam agar bisa beribadah dengan tenang menjelang akhir Ramadan.

Keempat, memberi sanksi tegas kepada pelanggar kebijakan aturan mudik,

Kelima, negara menyediakan fasilitas publik yang mendukung kelancaran mudik, seperti tarif tol gratis dan tidak dipungut biaya. Pada dasarnya, jalan raya atau tol adalah infrastruktur publik yang negara harus menyediakannya secara cuma-cuma kepada rakyat. Begitu pun dengan moda transportasi, negara memberikan harga murah kepada rakyat.

Dengan pelayanan ini, umat Islam dapat menikmati ibadah dengan nyaman dan fokus meningkatkan intensitas ibadah pada akhir Ramadan. Mereka tidak perlu waswas perihal biaya mudik atau keamanan selama perjalanan mudik. Mudik pun bisa dilakukan pada hari terakhir menjelang Lebaran karena fasilitas publik telah memadai.