Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALORamadan

Curhat Mahasiswa Pertukaran di Gorontalo Yang Tak Mudik Lebaran

×

Curhat Mahasiswa Pertukaran di Gorontalo Yang Tak Mudik Lebaran

Sebarkan artikel ini
Alma Nurul Fauziah
Alma Nurul Fauziah

Dulohupa.id – Alma Nurul Fauziah, Mahasiswa Universitas Islam Nusantara, Bandung, Jawa Barat. Yang saat ini mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) di Universitas Negeri Gorontalo menceritakan kisahnya memilih tak mudik dan merayakan lebaran Idul Fitri pertama kalinya di tanah rantau.

“Ini pertama kali lebaran jauh dari orang tua, ga tau deh pas lebaran gimana. Saya orangnya ga bisa nangis depan orang lain tapi kalau udah mau ngomong ga kuat, jadi yang sedih itu entar pas video call, apalagi beda sejam jadi kayaknya bakal beda waktu kita, mereka baru salat aku udah beres”jelas Alma

Alma juga mengatakan kalau untuk dirinya pribadi lebaran kali ini ada plus minus.

“Kalau minusnya pasti ga ketemu keluarga, kesana kesini bareng keluarga, ketemu keluarga besar, makan-makanan khas kita, karena disini beda, pedas-pedas semua makanannya dan ga bisa minta maaf langsung”terangnya

“Untuk plusnya, kita ga harus di tanya kapan ini, kapan itu, terus karena aku tipe orang yang ga suka keramaian dan banyak yang kenal, kalau keramaian banyak yang gak kenal it’s oke cuman kalau keramaian banyak yang kenal, aduh ga bisa apalagi yang ga akrab jadi ini bagus untuk kesempatan  menghindar dari itu” ujar Alma.

Untuk mengisi waktu di hari lebaran Alma mengatakan sudah mendapat ajakan dari Dosen UNG dan warga lokal Gorontalo

“Nah, kebetulan yang punya kos  itu dosen di UNG, jadi katanya biar kita bisa ngumpul di satu titik makan bareng, masak bareng, dan juga ada warga lokal yang ngajak untuk lebaran bersama, jadi ga terlalu sepi. Anak PMM banyak, jadi misalkan kita ga ada undangan kita mainnya sama anak PMM” pungkasnya.

Sejak awal awal kedatangannya di Provinsi Gorontalo untuk melaksanakan program PMM Alma sudah meminta izin ke orang tuanya tidak bisa sahur pertama Ramadhan hingga berlebaran bersama keluarga besar.

“Estimasi kita disini itu 4 bulan setengah, jadi kita tahu puasa pertama hingga lebaran ga akan pulang. Ditambah setiap hari Sabtu itu pasti ada modul nusantara”tutur Alma.

“Sayang masa pulang seminggu terus balik lagi dengan biaya pulang pergi berkisar 3,5 juta – 5 juta” jelasnya.

Hal lain juga diceritakan Alma terkait dengan kesiapannya berlebaran di Gorontalo. Seperti THR dari orang tua untuk beli baju lebaran dan melihat tradisi Tumbilotohe.

“THR dari orang tua ada. Beberapa teman-teman PMM  ada orang tua yang ngasih ada yang gak. Yang gak di kasih THR mungkin karena ada uang KIP”seru Alma.

Sedangkan untuk baju baru di hari lebaran kata Alma ia tidak membeli baju lebaran. Uang THR dari orang tua ia gunakan untuk keperluan sehari-hari.

“Karena kita kan di rumah udah bawa baju lebaran yang dari itu kayak udah baju lama. Cuman karena disini orang-orang baru belum tahu baju lebaran kita di rumah kayak apa jadi kita pakai lagi disini, rata-rata kayak gitu dan mungkin ada beberapa teman-teman PMM yang beli” jelasnya.

“Kita udah lihat tumbilotohe sekarang saya juga lagi lihat ini di kampus 4 kemarin di Ipilo terus teman-teman juga sudah pergi ke rumah warga lokal yang pasang lampu itu”tutup Alma.

Reporter: Indah