Untuk Indonesia

Merasa Dana BST-nya “Disunat” Oknum Pemdes, Warga Pohuwato Ini Mengadu ke DPRD

Dulohupa.id- Seorang warga Desa Dambalo, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, mengadukan kejadian yang dialaminya kepada DPRD setempat. Wanita bernama Ratna Hadali itu Kepada Wakil Ketua DPRD, Idris Kadji siang tadi, Senin (25/10/2021) menjelaskan, bahwa dana BST-nya diduga ‘disunat’ oleh oknum Pemerintah Desa Dambalo. 

Karena itu, Idris Kadji mengungkapkan, bahwa pihaknya akan menindaklanjuti persoalan tersebut. Menurutnya, persoalan ini harus diseriusi. Pihaknya pun kata dia akan turun langsung ke lapangan untuk menemukan persoalannya. 

NONTON VIDEO SEORANG IBU MENGADU DI DPRRD KARENA BST DIDUGA DISUNAT:

“Saya dan teman-teman akan menindaklanjuti dari apa yang menjadi aduan ibu Ratna Hadali, dan kami akan langsing turun kelapangan guna mengecek langsung apa yang terjadi di desa tersebut,” ungkap Idris Kadji, tegas.

Sementara Ratna mengungkapkan, bahwa apa yang ia perjuangkan ini bukanlah persoalan uang BST, “Saya tidak mempermasalahkan uangnya, akan tetapi saya menuntut keadilan,” tegasnya Ratna. 

Sebelumnya, Ratna Hambali mengeluhkan bahwa dirinya tak diberitahu oleh pihak desa sebagai penerima BST sejak 2020 kemarin. Ia baru tahu jika dirinya tercatat sebagai penerima BST di Oktober 2021 ini. Padahal, menurut Dinas Sosial Pohuwato, Ratna tercatat penerima BST dalam kurun waktu delapan bulan. 

Baca Juga:  Penyakit PMK Pada Sapi Telah Menyebar di 15 Provinsi di Indonesia

“Saya tau bahwa saya sebagai penerima BST pada saat anggota BPD menyerahkan langsung bantuan tersebut, saya kaget, ternyata selama ini saya terdaftar sebagai penerima BST tersebut,” ujar Ratna Hadali.

“Awalnya saya tidak tau, tiba-tiba pas saya mau ke kota (Gorontalo) saya disuruh jemput itu uang (bantuan BST). Jadi saya kaget, ternyata selama ini saya sebagai penerima BST akan tetapi tidak ada pemerintah desa memberitahukan ke saya,” tambah Ratna. 

Dalam mencari keadilan pun, Ratna mengaku dipersulit oleh pemerintah desa. Ia mencoba mengonfirmasi data penerimaan itu, namun pihak desa seakan menutupi hal itu. 

“Saya sudah menemui aparat desa, sudah ke BPD bahkan ke kantor pos yang ada di Popayato, akan tetapi saya tidak mendapatkan data bahwa siapa yang menerima BST saya selama ini, seakan-akan saya ini dipersulit,” keluh Ratna. 

Secara rinci Ratna menjelaskan, bahwa sejak April 2020 dana BST dikucurkan oleh pemerintah, dirinya kurang lebih hanya menerima sebanyak Rp 1,5 juta yang diserahkan dalam lima kali, atau jika dihitung, setiap bulan dirinya hanya menerima Rp 300 ribu. 

Baca Juga:  Fakta Dibalik Kasus Penganiayaan Bocah Asal Kotamobagu yang Tewas di Gorontalo

Padahal, sesuai data di Dinas Sosial Kabupaten Pohuwato, Ratna tercatat sebagai penerima dana BST selama delapan bulan, dan sesuai ketentuannya, dana BST tersebut berjumlah Rp 600 ribu per bulan. Artinya, setiap bulan dana BST Ratna dipotong sebanyak 50 persen atau Rp 300 ribu, sementara  tiga bulan lainnya sama sekali tidak diserahkan. 

“Lalu, ke mana dana itu? Siapa yang menerimanya selama ini?” ungkap Ratna, kesal. 

Kejanggalan lainnya kata Ratna, pihak desa justru secara terang-terangan mengaku menyerahkan dana BST tersebut secara langsung kepada orang tuanya. Padahal, dalam ketentuannya, dana BST hanya bisa diserahkan melalui kantor POS. 

“Jujur saja pak, saya merasa tidak diberikan keadilan di sini. Dan saya haramkan uang itu kepada mereka yang menyalahgunakan. Terus terang pak, banyak masyarakat yang bernasib sama dengan saya, hanya saja mereka takut” tutup Ratna.**

Comments are closed.