Untuk Indonesia

Mendengar Cerita Pedagang: Mengadu Nasib di Tengah Pandemi

Dulohupa.id– Malam itu, Ono (50) pedagang kaki lima asal Gorontalo yang mengadu nasibnya di Luwuk, Banggai, Sulteng, mulai merapikan jualannya. Alasannya sangat sederhana, takut petugas datang kemudian membubarkan dagangannya yang ia pertaruhkan setelah malam menjelang.

Padahal waktu masih menunjukan pukul 10 malam, bukan waktu terbaik bagi setiap pedagang menutup lebih cepat usaha mereka.

“Biasanya jam begini masih jualan, belum tutup. Pelanggan itu paling banyak di atas jam 10 malam, tapi karena sekarang pandemi dan ada PPKM kami takut membuka terlalu larut, nanti akan dibubarkan,” kata Ono, sembari menyiapkan pesanan terakhir untuk saya.

Rusdi yang biasa disapa Ono, sudah berjualan puluhan tahun di kawasan Teluk Lalong, Luwuk Banggai, Sulteng. Pria asal Gorontalo ini mengadu nasibnya di tanah rantau untuk sekadar menghidupi keluarganya. Selain itu, pilihannya untuk merantau agar tidak mendapat stigma buruk di keluarga yang hidup sehari-harinya bergantung pada keluarga. Dari situlah, keinginan terkuat Ono memilih tanah Banggai sebagai tempat hidupnya dan mata pencahariannya sampai sekarang ini.

Saat datang pertama di Luwuk Banggai, Ono memilih bekerja serabutan. Apa yang dia anggap bisa menghasilkan uang ia kerjakan, karena tuntutan keluarga yang harus dibiayai dan uang sewa kontrak rumah yang harus dia pikirkan setiap bulannya.

 Setelah lelah mencari kerja sana-sini, pada tahun 2010, ia memilih menetap di wilayah Teluk Lalong, dan memilih berjualan saraba sebagai usahanya untuk menghidupi keluarganya. Awalnya ia takut dan gagal, karena usaha jualan ini baru pertama kali ia jalani dan masih baru untuk orang Luwuk Banggai pada umumnya.

“Awalnya saya takut gagal, karena baru pertama kali jualan begini, dan cuman saya yang jualan pertama saraba di situ juga, takutnya orang-orang tidak suka dengan jualan dan yang rugi adalah saya,” kata Ono dengan penuh lirih.

Ia menceritakan, memang mengadu nasib di kampung orang adalah pilihan terberat, jauh dari keluarga dan kerabat, semuanya serba sendiri dikerjakan. Apalagi jika ada pekerjaan yang membutuhkan orang banyak, terkadang harus merogoh kantong lebih besar untuk membayar tukang bekerja, “kalau di kampung sendiri, kan bisa minta bantuan ke keluarga atau tetangga.”

Kata Ono, selang dua tahun berjalan usahanya sempat mengalami masalah dan sempat terhenti karena terlilit hutang dan baru bisa bangkit kembali setelah dapat bantuan dari saudara seperantauan dengannya.

“Saat saya susah, yang bantu sesama orang rantau juga, itu mas Bli dari Bali yang bantu saya,” ucapnya sambil menunjukan Bli Ucil penjual ayam geprek di seberang jalan yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri.

Berangkat dari masalah yang menimpanya itu, usaha Ono kemudian mulai laris dan mulai banyak diminati. Ia berhasil bangkit dan mendapatkan keuntungan dari jualannya yang sederhana tersebut.

“Dari usaha ini saya bisa membangun rumah, membiayai anak-anak saya sekolah, dan membayar cicilan utang saya.”

Namun, kelimpahan untung itu tidak lama mendekati usahanya, tak lama berselang orang-orang mulai membuka usaha yang sama seperti usahanya. Dirinya mulai mendapati kompetitor dalam penjualan saraba, dan pembeli mulai terbagi dan tersebar ke tempat lainnya.

“Saya sebenarnya bersyukur, orang lain bisa mengikuti usaha saya dan mereka bisa mendapatkan untung juga dari situ, tapi meskipun sudah banyak yang buka jualan saraba pelanggan saya yang sudah dari awal tetap setia membeli di sini,” tuturnya.

Lalu, saat pandemi menyerang, Ono kaget dengan situasi yang membikin keadaan ekonominya sama sekali tidak bergerak, lumpuh, dan harus memutar otak untuk mencari pendapatan lainnya.

 

Bertahan Saat Pandemi

Pandemi mengubah semua keadaan, perusahaan ramai-ramai memecat karyawannya, mengurangi waktu kerja, dan banyak orang yang mengalami dampaknya; kehilangan pekerjaan.

Ono satu dari sekian orang yang merasakan dampak tersebut. Usaha jualan sarabanya harus ditutup karena pembatasan aktivitas masyarakat di tengah pandemi covid-19. ia tak bisa berjualan, tak mendapatkan pemasukan dari usahanya, dan harus memikirkan pendapatan lain untuk membiayai dapurnya agar tetap mengepul.

“Pandemi ini memang sangat susah, ekonomi susah bergerak, kurang pendapatan, dan kebutuhan di rumah tetap harus dipikirkan,” ujar Ono saat ditemui menjajakan usaha sarabanya di Teluk Lalong, Luwuk Banggai, Sulteng, Rabu malam (29/9).

Menurut Ono, pandemi mengubah semua kehidupannya, baik dari segi pendapatan dan kebutuhan belanjaan di rumah. Ia harus menguras uang tabungan untuk membiayai ekonomi keluarga, membiayai pendidikan anak, dan modal untuk mencari pendapatan dari usaha yang lain.

“Saat PSBB sampai PPKM dengan sekarang ini masih merasakan dampak dari pandemi ini, saya kira telah berakhir setelah PSBB selesai, ternyata ada lagi,” ungkap Ono malam itu.

Ono mengira, pandemi akan berlalu secepatnya, tak berlangsung lama seperti sekarang ini. Karena desakan kebijakan pemerintah menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat turut ia rasakan. Menurutnya, mereka berjualan seperti buron, takut ketahuan dan dibubarkan oleh petugas  saat melewati batas waktu yang ditentukan.

“Kami takut dibubarkan, apalagi dibubarkan saat belum mendapatkan hasil sama sekali itu yang pernah saya rasakan, dan tak mau ulangi kedua kalinya lagi,” terangnya.

Pendapatan yang didapatkan sebelum pandemi menyerang sangat membantu kebutuhan ekonomi keluarga di rumah, tapi sekarang ini, harus kerja ekstra agar dapat membuat dapur bergerak dan bisa menghidupi manusia-manusia yang ada di dalamnya.

“Susah berjualan saraba sekarang, selain banyak yang sudah menjual ditambah lagi dengan keadaan pandemi sekarang ini, orang-orang dibatasi keluar rumah untuk membeli jajanan seperti yang saya jual sekarang ini,” keluh Ono kepada saya.

Ia berharap, pandemi ini segera berakhir, biar dia bisa mengembalikan kejayaan jualannya seperti sebelum pandemi menyerang. Ia ingin memberikan hasil yang terbaik bagi keluarganya, bagi anak-anaknya agar dapat dibiayai lanjut ke jenjang berikutnya, dan bisa memberikan bantuan kepada sanak keluarga di Gorontalo.

Kata Ono, tantangan orang di perantauan bukan hanya harus jeli mencari peluang kerja atau mencari penghasilan yang cukup, tapi harus punya kemampuan bertahan hidup yang cukup apalagi dalam keadaan pandemi sekarang ini.

“Hidup di tanah rantau saat pandemi ini seperti di keroyok orang banyak, kita babak belur dalam mencari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah,” tutupnya.

Reporter: Zulkifli Mangkau

Comments are closed.