Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEKOTA GORONTALOPERISTIWA

Ketua Yayasan Al-Azhar Gorontalo Beberkan Alasan PHK 3 Pegawainya

1009
×

Ketua Yayasan Al-Azhar Gorontalo Beberkan Alasan PHK 3 Pegawainya

Sebarkan artikel ini
Pegawai Yayasan Al-Azhar
Taufik Akbar selaku Ketua Yayasan Winarni Rahmat Ririn Al-Azhar 43 Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Ketua Yayasan Winarni Rahmat Ririn Al-Azhar 43 Gorontalo, Taufik Akbar beberkan alasan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 3 orang pegawainya yang salah satunya merupakan kepala Sekolah Dasar (SD).

Pada awal November 2023, yayasan Winarni Rahmat Ririn Al-Azhar 43 Gorontalo resmi mengeluarkan surat pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 3 orang pegawai yayasan. Yakni Zuhrotul Laili selaku kepala SD di yayasan tersebut, serta dua pegawai lainnya, Lailani Wahab dan Nikma Ntobuo.

Ketiga pegawai tersebut diketahui telah bekerja selama 8-9 tahun di yayasan Al-Azhar Gorontalo. Namun mereka menerima surat PHK dan mengejutkan banyak pihak. Hal itu dinilai dilakukan secara sepihak tanpa alasan yang jelas.

Melihat isu yang beredar, Ketua Yayasan Al-Azhar Gorontalo membeberkan alasannya melakukan PHK. Taufik mengatakan bahwa ada persoalan yang telah dilanggar oleh ketiga pegawai itu.

“Ketiga pegawai ini melanggar aturan terkait dengan dana BOS. Jadi sekolah ini menerima dana BOS dan itu tidak dilaporkan kepada yayasan maupun sekretariat. Kami tidak mengetahui nominalnya berapa dan peruntukannya untuk apa,” ungkap Taufik Akbar.

Baca Juga:

Al Azhar Pusat Bentuk Tim Khusus Tangani Kasus di Gorontalo

Ketua Yayasan Al-Azhar Gorontalo Klarifikasi soal Pemotongan Gaji Guru

Lebih lanjut, Taufik menegaskan bahwa yayasan memiliki peraturan kepegawaian, dimana setiap penerimaan dana harus dilaporkan kepada pihak yayasan. Bahkan ia juga mengatakan bahwa yayasan bukan hanya menerima bantuan berupa dana BOS, namun ada juga yang namanya dana Ektrakurikuler dan dana lainnya.

“Nah sampai hari ini kami tidak mengetahui berapa besaran dana BOS yang diterima oleh sekolah, karena memang kami tidak mengetahui rinciannya. Yayasan berhak tahu peruntukannya untuk apa, agar kita juga bisa mengimbangi pengeluaran kami. Jadi memang komunikasinya saja yang tidak ada,” tutur Taufik.

Akibatnya, ketiga pegawai tersebut terpaksa harus di PHK dan hanya mendapat pesangon sebesar 300-500 ribu. Dimana Taufik menjelaskan bahwa besaran pesangon yang terima hanya sebesar 25% akibat dinilai melakukan pelanggaran berat.

“Kami sudah bayarkan 300-500 ribu. Di peraturan kami itu, kalau dia melakukan pelanggaran berat, dia hanya akan menerima pesangon 25% dari haknya,” Tandasnya.

Sementara mantan kepala sekolah SD yang di PHK, Zuhrotul Laili menjelaskan, dirinya menggunakan dan memanfaatkan dana BOS sesuai dengan juknis, serta telah dilaporkan melalui pertanggungjawaban kepada dinas pendidikan Kota Gorontalo.

Bahkan Zuhrotul mengaku bahwa pihak sekolah setiap bulannya telah melakukan rekonsiliasi dengan dinas pendidikan Kota Gorontalo.

Reporter: Kris

Berita Lainnya: Momen Haru, Bocah SD di Pohuwato Temui Ibunya dalam Penjara